Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Berita Utama

Budaya Oversharing di Media Sosial: Ketika Privasi Menjadi Konsumsi Publik

Penulis: Difa Amalia
Editor: Redaksi✓
Waktu Publikasi: 03 Nov 2026, 13:37:25 WIB
Foto ilustrasi Gambar  (Sumber: Artificial Intelligence)
Foto ilustrasi Gambar (Sumber: Artificial Intelligence)

Mahasiswa News — Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama dalam hal berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial. Kehadiran berbagai platform digital, seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan X, membuat masyarakat semakin mudah menyampaikan informasi serta berinteraksi dengan orang lain tanpa dibatasi jarak dan waktu. Saat ini, media sosial tidak hanya dimanfaatkan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi tempat bagi seseorang untuk memperkenalkan dirinya, membagikan pengalaman, menyampaikan pemikiran, hingga memperlihatkan berbagai kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut secara perlahan mengubah kebiasaan masyarakat dalam berinteraksi dan memperlihatkan kehidupan pribadinya kepada orang lain.

Salah satu kebiasaan yang semakin terlihat dalam penggunaan media sosial adalah fenomena oversharing. Istilah ini merujuk pada tindakan seseorang yang terlalu banyak membagikan informasi mengenai kehidupan pribadinya kepada pengguna lain melalui platform digital. Informasi tersebut dapat berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, persoalan keluarga, hubungan dengan pasangan, perasaan pribadi, maupun berbagai pengalaman yang sebenarnya tidak selalu perlu diketahui oleh orang banyak. Kebiasaan ini memperlihatkan bahwa perkembangan media sosial turut memengaruhi cara masyarakat menentukan batas antara sesuatu yang bersifat pribadi dan hal-hal yang dapat diketahui oleh publik.

Munculnya budaya oversharing tidak terlepas dari berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial. Pengguna dapat membagikan aktivitas maupun pengalaman mereka melalui foto, video, unggahan singkat, dan fitur siaran langsung. Bahkan, informasi yang baru saja terjadi dapat disampaikan kepada banyak orang dalam waktu bersamaan. Febriana, Abdullah, dan Syam (2023) dalam penelitiannya mengenai perilaku oversharing mahasiswa di media sosial mengungkapkan bahwa terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi perilaku tersebut, di antaranya motif sosial, ekonomi, dan keagamaan. Salah satu alasan sosialnya adalah keinginan untuk memperoleh respons dari pengguna lain, meningkatkan jumlah pengikut, serta membentuk gambaran diri yang ingin ditampilkan melalui media sosial.

Pada dasarnya, membagikan pengalaman pribadi tidak selalu memberikan pengaruh buruk. Keterbukaan diri justru dapat membantu seseorang memperluas pergaulan, memperoleh dukungan ketika menghadapi masalah, serta membangun kedekatan dengan orang lain. Akan tetapi, kebiasaan tersebut dapat menjadi persoalan apabila dilakukan secara berlebihan tanpa memikirkan akibatnya. Informasi yang telah dipublikasikan berpotensi disimpan, disebarkan kembali, bahkan dimanfaatkan oleh pihak lain tanpa persetujuan pemiliknya. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu sebagai ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus tempat yang dapat menimbulkan ancaman terhadap keamanan informasi pribadi.

Jika dilihat dari sudut pandang Sosiologi Komunikasi, fenomena oversharing menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena menunjukkan adanya perubahan dalam pola komunikasi dan hubungan sosial masyarakat akibat perkembangan teknologi. Kebiasaan masyarakat dalam menyampaikan informasi kini tidak lagi terbatas pada komunikasi secara langsung, tetapi telah berkembang menjadi aktivitas berbagi kehidupan pribadi melalui ruang digital. Berdasarkan kondisi tersebut, pembahasan ini diarahkan untuk memahami perkembangan budaya oversharing, berbagai alasan yang mendorong seseorang membuka informasi pribadinya, serta pengaruh kebiasaan tersebut terhadap privasi dan kehidupan sosial masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital.

Pembahasan

Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat menyampaikan dan menerima informasi. Jika dahulu seseorang cenderung menceritakan pengalaman pribadinya hanya kepada keluarga, sahabat, atau orang yang dianggap dekat, sekarang informasi tersebut dapat dibagikan melalui akun media sosial dan menjangkau banyak orang sekaligus. Keadaan ini membuat berbagai aktivitas yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari kehidupan pribadi mulai sering ditampilkan di ruang publik. Kebiasaan memperlihatkan kegiatan sejak bangun tidur, membagikan lokasi keberadaan, menceritakan persoalan hubungan, hingga mengunggah masalah keluarga merupakan beberapa contoh yang menggambarkan semakin terbukanya kehidupan pribadi di media sosial.

Dalam keadaan tersebut, pengguna sering kali tidak menyadari bahwa informasi yang mereka bagikan dapat diterima oleh kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Marwick dan boyd (2011) memperkenalkan konsep context collapse, yaitu keadaan ketika berbagai kelompok audiens yang memiliki latar belakang dan hubungan berbeda berkumpul dalam satu ruang komunikasi digital. Sebagai contoh, satu akun media sosial dapat diikuti oleh anggota keluarga, teman sekolah, rekan kerja, bahkan orang yang tidak dikenal secara langsung. Akibatnya, unggahan yang awalnya ditujukan kepada kelompok tertentu ternyata dapat diketahui oleh kelompok lainnya. Situasi ini menunjukkan bahwa pengguna perlu memahami siapa saja yang berpotensi melihat informasi yang mereka publikasikan.

Kebiasaan membagikan kehidupan pribadi juga memperlihatkan adanya perubahan pandangan masyarakat terhadap makna privasi. Sesuatu yang dahulu dianggap cukup untuk diketahui oleh lingkungan terdekat kini dapat dengan mudah menjadi tontonan banyak orang. Bahkan, sebagian pengguna menjadikan pengalaman pribadi sebagai bahan unggahan untuk memperoleh perhatian dan tanggapan dari pengguna lainnya. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa batas antara kehidupan pribadi dan kehidupan publik semakin sulit dibedakan ketika media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

Perilaku oversharing juga dapat dipengaruhi oleh kebutuhan seseorang untuk memperoleh perhatian dan pengakuan dari lingkungan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hubungan dengan orang lain serta ingin merasa diterima dan dihargai. Dalam penggunaan media sosial, kebutuhan tersebut sering terlihat melalui keinginan mendapatkan tanda suka, komentar, jumlah pengikut, maupun respons positif terhadap konten yang diunggah. Penelitian Febriana, Abdullah, dan Syam (2023) menunjukkan bahwa mahasiswa melakukan oversharing, salah satunya karena ingin mendapatkan tanggapan dari pengguna lain dan membangun personal branding. Hal tersebut menggambarkan bahwa membagikan informasi pribadi terkadang bukan sekadar kegiatan spontan, melainkan juga menjadi salah satu cara untuk menciptakan kesan tertentu di hadapan masyarakat digital.

Selain kebutuhan akan pengakuan, keinginan untuk menyampaikan perasaan juga menjadi alasan seseorang membagikan pengalaman pribadinya. Ketika menghadapi persoalan atau keadaan emosional tertentu, sebagian orang merasa lebih nyaman mengungkapkannya melalui unggahan dibandingkan membicarakannya secara langsung. Media sosial kemudian dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyampaikan keluh kesah sekaligus mencari tanggapan dari orang lain. Bazarova dan Choi (2014) menjelaskan bahwa keterbukaan diri melalui media sosial mempunyai beragam tujuan dan dipengaruhi oleh jenis platform serta kepentingan komunikasi penggunanya. Dengan demikian, keputusan seseorang untuk membagikan informasi tidak selalu memiliki alasan yang sama, karena setiap individu mempunyai kebutuhan dan tujuan yang berbeda.

Keinginan untuk menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa juga dapat mendorong seseorang menceritakan kehidupan pribadinya di media sosial. Melalui cerita yang dibagikan, seseorang mungkin berharap mendapatkan dukungan, saran, ataupun perasaan bahwa dirinya tidak menghadapi suatu persoalan sendirian. Meskipun demikian, kebutuhan untuk memperoleh perhatian terkadang membuat seseorang semakin terbiasa membuka informasi yang sebenarnya bersifat pribadi. Apabila jumlah respons dan perhatian dari pengguna lain dijadikan ukuran kepuasan, individu dapat terdorong untuk terus membagikan kehidupan pribadinya tanpa mempertimbangkan batasan yang seharusnya dijaga.

Privasi merupakan bagian penting dalam kehidupan setiap individu karena berkaitan dengan hak seseorang untuk menentukan informasi apa yang ingin diketahui orang lain. Setiap orang pada dasarnya memiliki batasan tersendiri mengenai pengalaman, identitas, dan persoalan pribadi yang bersedia dibagikan kepada lingkungan sekitarnya. Namun, penggunaan media sosial yang semakin luas membuat batasan tersebut mengalami perubahan. Vitak (2012) menjelaskan bahwa media sosial dapat mempertemukan berbagai kelompok audiens dalam satu ruang digital dan memengaruhi keputusan seseorang ketika mengungkapkan informasi mengenai dirinya. Dengan kondisi tersebut, pengguna sering kali tidak memiliki kepastian mengenai siapa saja yang dapat mengakses unggahan mereka.

Permasalahan privasi juga berkaitan dengan kesadaran seseorang dalam memahami risiko dari informasi yang dibagikan. Taddicken (2014) membahas konsep privacy paradox, yaitu kondisi ketika seseorang sebenarnya memiliki kekhawatiran mengenai keamanan informasi pribadi di internet, tetapi pada saat yang sama tetap melakukan pengungkapan diri melalui media sosial. Keadaan tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara kesadaran seseorang terhadap risiko privasi dan tindakan yang dilakukan ketika menggunakan platform digital. Seseorang mungkin mengetahui bahwa informasi pribadinya dapat disalahgunakan, tetapi tetap merasa tidak keberatan untuk membagikan berbagai hal mengenai kehidupannya.

Hal serupa juga berkaitan dengan penjelasan Bazarova (2012) mengenai keterbukaan informasi pribadi di ruang publik media sosial. Informasi yang disampaikan secara terbuka dapat memperoleh penilaian berbeda dibandingkan informasi serupa yang hanya dibicarakan dalam komunikasi pribadi. Artinya, cara dan tempat seseorang menyampaikan informasi turut memengaruhi bagaimana orang lain memahami serta memberikan tanggapan terhadap informasi tersebut. Oleh karena itu, penting bagi setiap pengguna untuk mengetahui bahwa tidak semua cerita atau pengalaman pribadi sesuai untuk disampaikan kepada audiens yang luas.

Informasi yang telah dibagikan melalui internet juga tidak selalu dapat ditarik kembali sepenuhnya. Meskipun sebuah unggahan sudah dihapus oleh pemilik akun, pengguna lain mungkin telah menyimpan atau menyebarkannya melalui tangkapan layar. Akibatnya, seseorang dapat kehilangan kendali atas informasi yang sebelumnya dipublikasikan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa menjaga privasi bukan hanya berkaitan dengan pengaturan akun media sosial, tetapi juga membutuhkan pertimbangan sebelum seseorang memutuskan untuk membagikan sesuatu kepada publik.

Dalam kehidupan masyarakat, kebiasaan oversharing dapat memberikan manfaat sekaligus menimbulkan sejumlah persoalan. Dari sisi positif, media sosial memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menyampaikan pemikiran, berbagi pengalaman, serta memperoleh dukungan dari orang lain ketika menghadapi kesulitan. Pengalaman yang dibagikan bahkan dapat menjadi sumber informasi dan pembelajaran bagi pengguna lainnya. Akan tetapi, apabila keterbukaan tersebut tidak disertai pertimbangan yang matang, informasi pribadi dapat menimbulkan risiko bagi pemiliknya. Data mengenai identitas, tempat tinggal, lokasi, dan aktivitas sehari-hari berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Selain itu, informasi yang terlalu terbuka juga dapat memicu kesalahpahaman, perundungan, maupun permasalahan dalam hubungan sosial.

Gruzd dan Hernández-García (2018) menjelaskan bahwa hubungan antara kekhawatiran seseorang terhadap privasi dan kebiasaannya dalam membagikan informasi melalui media sosial dipengaruhi oleh berbagai keadaan. Tingkat kekhawatiran terhadap ancaman tertentu dapat berhubungan dengan keputusan pengguna mengenai seberapa banyak informasi yang ingin mereka ungkapkan. Hal tersebut memperlihatkan bahwa setiap individu perlu memiliki pemahaman mengenai cara mengelola informasi pribadi sesuai dengan situasi komunikasi yang dihadapi.

Selain risiko penyalahgunaan informasi, kebiasaan oversharing juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika seseorang terlalu bergantung pada respons pengguna lain, perhatian dari media sosial dapat berubah menjadi sesuatu yang selalu diharapkan. Akibatnya, individu mungkin merasa perlu terus mengunggah kegiatan atau pengalaman pribadi agar tetap mendapatkan perhatian. Sebaliknya, ketika unggahan tidak memperoleh respons seperti yang diinginkan, seseorang dapat merasa kecewa atau kurang dihargai. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa interaksi digital dapat memengaruhi kondisi sosial dan cara individu membangun penilaian terhadap dirinya.

Penelitian Fejes-Vékássy, Ujhelyi, dan Lantos (2024) menunjukkan bahwa sebagian pengguna media sosial cenderung lebih mengutamakan manfaat yang diperoleh dari keterbukaan diri dibandingkan risiko yang mungkin ditimbulkan. Penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa pengguna terkadang kurang memperhatikan nilai informasi pribadi yang mereka bagikan. Padahal, informasi yang dianggap biasa oleh pemilik akun belum tentu tidak memiliki nilai bagi pihak lain. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa data pribadi merupakan sesuatu yang harus dijaga, meskipun informasi tersebut terlihat sederhana dan tidak terlalu penting ketika pertama kali dibagikan.

Sementara itu, Dienlin dan Metzger (2016) melalui pembahasan mengenai model kalkulasi privasi menjelaskan bahwa keputusan seseorang untuk membuka informasi pribadi berkaitan dengan pertimbangan antara keuntungan dan risiko yang mungkin diterima. Kekhawatiran terhadap privasi juga dapat memengaruhi keputusan individu untuk mengurangi keterbukaan atau membatasi informasi yang sebelumnya dibagikan. Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan media sosial membutuhkan pertimbangan yang seimbang. Seseorang tidak seharusnya hanya memikirkan manfaat yang diperoleh ketika mengunggah sesuatu, tetapi juga perlu memperhatikan kemungkinan dampak yang dapat muncul setelah informasi tersebut diketahui oleh orang lain.

Fenomena oversharing juga dapat dipahami melalui sudut pandang Sosiologi Komunikasi karena menunjukkan adanya perubahan dalam kebiasaan masyarakat ketika berinteraksi. Media sosial bukan sekadar alat untuk menyampaikan pesan, melainkan telah menjadi lingkungan sosial yang turut membentuk perilaku dan cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada orang lain. Dalam hal ini, fenomena oversharing dapat dikaitkan dengan teori interaksi simbolik yang menjelaskan bahwa makna dan identitas seseorang terbentuk melalui hubungan serta interaksi dengan lingkungan sosialnya. Pada media sosial, tanda suka, komentar, jumlah pengikut, dan berbagai tanggapan lainnya dapat menjadi simbol penerimaan dari pengguna lain. Respons tersebut kemudian dapat memengaruhi cara seseorang memahami kedudukan dan keberadaan dirinya di lingkungan digital.

Selain melalui interaksi simbolik, perilaku oversharing juga dapat dilihat sebagai bagian dari usaha individu dalam membangun citra diri. Seseorang biasanya memiliki kecenderungan untuk memperlihatkan sisi tertentu dari kehidupannya agar memperoleh kesan yang sesuai dengan harapannya. Marwick dan boyd (2011) menjelaskan bahwa pengguna media sosial mempertimbangkan audiens yang mereka bayangkan ketika menampilkan dirinya melalui unggahan digital. Hal ini memperlihatkan bahwa informasi yang dibagikan terkadang telah disesuaikan dengan gambaran diri yang ingin diperlihatkan kepada orang lain. Dengan kata lain, media sosial menjadi tempat bagi individu untuk mengatur bagaimana dirinya ingin dikenal oleh masyarakat.

Choi dan Bazarova (2015) juga menjelaskan bahwa alasan seseorang mengungkapkan informasi pribadi serta tingkat keterbukaan yang dilakukan dapat berbeda berdasarkan karakteristik platform media sosial dan batasan audiens yang dimiliki. Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku komunikasi seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan teknologi yang digunakan. Setiap platform memiliki karakteristik tersendiri yang dapat memengaruhi cara penggunanya berinteraksi dan membagikan informasi. Oleh sebab itu, fenomena oversharing perlu dipahami sebagai bagian dari perubahan hubungan antara individu, teknologi, dan lingkungan sosial masyarakat.

Melihat berbagai persoalan tersebut, kesadaran dalam menjaga privasi menjadi hal yang semakin penting di tengah penggunaan media sosial. Setiap individu perlu memahami bahwa tidak semua pengalaman, perasaan, maupun informasi mengenai kehidupan pribadi harus diketahui oleh banyak orang. Kebebasan dalam menggunakan media sosial memang memberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri, tetapi kebebasan tersebut tetap perlu disertai tanggung jawab. Pengguna sebaiknya lebih selektif dalam membagikan informasi yang berkaitan dengan identitas, alamat tempat tinggal, nomor telepon, lokasi secara langsung, maupun persoalan keluarga yang dapat menimbulkan kerugian apabila diketahui oleh pihak yang tidak tepat.

Kebiasaan mempertimbangkan sesuatu sebelum mengunggahnya juga perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum membagikan informasi, seseorang dapat memikirkan apakah hal tersebut memang layak diketahui oleh publik, siapa saja yang mungkin melihatnya, serta bagaimana dampaknya apabila informasi tersebut tersebar lebih luas. Sikap berhati-hati seperti ini sangat diperlukan, terutama bagi generasi muda yang memiliki kedekatan tinggi dengan teknologi digital. Penggunaan media sosial secara bijak bukan berarti seseorang harus berhenti berbagi atau membatasi hubungan dengan orang lain. Hal yang lebih penting adalah memahami batasan antara keterbukaan diri dan informasi yang sebaiknya tetap menjadi bagian dari kehidupan pribadi. Dengan kesadaran tersebut, media sosial tetap dapat digunakan sebagai sarana komunikasi dan interaksi tanpa harus mengabaikan keamanan serta kenyamanan diri sendiri.

Penutup

Fenomena oversharing menjadi salah satu gambaran perubahan perilaku masyarakat yang muncul seiring dengan semakin berkembangnya penggunaan media sosial. Kebiasaan membagikan berbagai informasi pribadi kepada publik memperlihatkan bahwa cara masyarakat berkomunikasi dan memandang privasi telah mengalami pergeseran. Keinginan untuk mendapatkan perhatian, memperoleh pengakuan, mencari dukungan, serta membentuk citra diri menjadi beberapa hal yang dapat mendorong seseorang untuk lebih terbuka dalam membagikan kehidupannya di ruang digital.

Apabila dikaji melalui perspektif Sosiologi Komunikasi, perilaku oversharing tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan menggunakan teknologi, tetapi juga berhubungan dengan perubahan pola interaksi dan pembentukan identitas sosial. Media sosial memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk memperlihatkan dirinya dan menjalin hubungan dengan masyarakat yang lebih luas. Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi apabila seseorang tidak mampu membedakan informasi yang pantas diketahui publik dan hal-hal yang seharusnya tetap bersifat pribadi.

Oleh karena itu, penggunaan media sosial membutuhkan kesadaran dan tanggung jawab dari setiap penggunanya. Masyarakat perlu memahami bahwa membagikan kehidupan pribadi bukanlah sesuatu yang harus dilakukan secara terus-menerus demi memperoleh perhatian orang lain. Setiap informasi yang diunggah sebaiknya dipertimbangkan terlebih dahulu agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Menjaga privasi bukan berarti seseorang harus membatasi diri dalam berkomunikasi, melainkan menunjukkan kemampuan untuk menentukan batas keterbukaan yang tepat. Dengan demikian, keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan informasi pribadi perlu diterapkan agar media sosial dapat menjadi ruang interaksi yang lebih sehat, aman, dan memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.

Daftar Pustaka

Bazarova, N. N. (2012). Public intimacy: Disclosure interpretation and social judgments on Facebook. Journal of Communication, 62(5), 815–832. https://doi.org/10.1111/j.1460-2466.2012.01664.x

Bazarova, N. N., & Choi, Y. H. (2014). Self-disclosure in social media: Extending the functional approach to disclosure motivations and characteristics on social network sites. Journal of Communication, 64(4), 635–657. https://doi.org/10.1111/jcom.12106

Choi, Y. H., & Bazarova, N. N. (2015). Self-disclosure characteristics and motivations in social media: Extending the functional model to multiple social network sites. Human Communication Research, 41(4), 480–500. https://doi.org/10.1111/hcre.12053

Dienlin, T., & Metzger, M. J. (2016). An extended privacy calculus model for SNSs: Analyzing self-disclosure and self-withdrawal in a representative U.S. sample. Journal of Computer-Mediated Communication, 21(5), 368–383. https://doi.org/10.1111/jcc4.12163

Febriana, H., Abdullah, S., & Syam, R. (2023). Student oversharing behavior on social media. Hasanuddin Journal of Sociology, 5(1). https://doi.org/10.31947/hjs.v5i1.26759

Fejes-Vékássy, L., Ujhelyi, A., & Lantos, N. A. (2024). I don’t care, I share! – The importance of self-disclosure overwrites the risks of sharing on social media. Current Psychology, 43, 30120–30134. https://doi.org/10.1007/s12144-024-06496-2

Gruzd, A., & Hernández-García, Á. (2018). Privacy concerns and self-disclosure in private and public uses of social media. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 21(7), 418–428. https://doi.org/10.1089/cyber.2017.0709

Marwick, A. E., & boyd, d. (2011). I tweet honestly, I tweet passionately: Twitter users, context collapse, and the imagined audience. New Media & Society, 13(1), 114–133. https://doi.org/10.1177/1461444810365313

Taddicken, M. (2014). The ‘privacy paradox’ in the social web: The impact of privacy concerns, individual characteristics, and the perceived social relevance on different forms of self-disclosure. Journal of Computer-Mediated Communication, 19(2), 248–273. https://doi.org/10.1111/jcc4.12052

Vitak, J. (2012). The impact of context collapse and privacy on social network site disclosures. Journal of Broadcasting & Electronic Media, 56(4), 451–470. https://doi.org/10.1080/08838151.2012.732140