Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk mencari distraksi, tetapi tanpa sadar terus scrolling selama berjam-jam? Atau justru secara sengaja mencari berita negatif karena ingin tahu perkembangan suatu peristiwa? Kedua kebiasaan tersebut sekilas terlihat sama, tetapi sebenarnya memiliki istilah yang berbeda.
Istilah yang paling populer dalam kalangan Gen Z saat ini adalah fenomena doomscrolling. Tapi apakah kita benar-benar tahu apa arti dari doomscrolling tersebut?
Doomscrolling seringkali disalahartikan sebagai kebiasaan untuk scrolling secara terus-menerus tanpa tujuan. Padahal, istilah ini merujuk pada pola perilaku yang sengaja mencari-cari informasi negatif, terutama ketika terjadi peristiwa yang mengkhawatirkan.
Perilaku ini sering dikaitkan dengan kekhawatiran atau anxiety yang dirasakan seseorang saat suatu peristiwa buruk terjadi di lingkungan sekitar mereka. Perilaku doomscrolling dapat membuat seseorang merasa siap dan memiliki kontrol atas situasi yang ada berdasarkan informasi terbaru mengenai peristiwa tersebut.
Contoh paling mudahnya adalah saat terjadi pandemi Covid-19. Ketidakpastian mengenai penyebaran virus membuat orang terus mencari informasi terbaru mengenai jumlah kasus, kebijakan pemerintah, maupun kondisi di lingkungan sekitar mereka.
Lalu, bagaimana dengan kebiasaan seseorang yang scrolling terus-menerus tanpa tujuan mencari informasi tertentu? Kebiasaan ini lebih dekat dengan istilah mindless scrolling. Mindless scrolling sering dikaitkan juga dengan beberapa faktor, dari faktor biologis hingga psikologis.
Secara biologis, perilaku ini berkaitan dengan sistem penghargaan (reward system) di otak. Ketika menemukan sesuatu yang dianggap menarik atau menyenangkan, otak memberikan respons yang mendorong kita untuk mengulangi perilaku tersebut. Dalam media sosial, kita tidak pernah tahu konten menarik apa yang akan muncul setelah satu scroll. Ketidakpastian inilah yang dapat membuat seseorang terus menggulir layar untuk mencari konten berikutnya yang dapat memberikan respons serupa.
Dalam sisi psikologi, perilaku mindless scrolling dikaitkan dengan kebiasaan seseorang saat merasa bosan. Ketika merasa bosan, seseorang dapat menggunakan media sosial sebagai sarana untuk menghabiskan waktu. Selain itu, perilaku ini juga dapat didorong oleh keinginan untuk mengubah suasana hati atau menghindari emosi yang tidak menyenangkan dalam kehidupan nyata.
Penyebab masalah tersebut juga diperkuat dengan sistem algoritma sosial media sosial yang mengatur timeline kita sesuai dengan konten-konten yang sebelumnya menarik perhatian kita, sehingga sulit bagi banyak orang untuk menghentikan kebiasaan scrolling ini.
Perilaku scrolling yang berlebihan semakin sering terjadi pada generasi dengan eksposur tinggi terhadap media sosial, termasuk Gen Z dan mahasiswa. Tingginya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari membuat aktivitas scrolling lebih mudah menjadi kebiasaan, bahkan jika awalnya hanya dilakukan untuk mencari hiburan atau distraksi.
Seringkali, perilaku ini jadi mengganggu performa akademik mahasiswa. Ketika menghadapi tugas yang terasa berat atau membosankan, mahasiswa dapat menjadikan scrolling sebagai bentuk distraksi untuk menghindari tugas tersebut. Dengan begitu, waktu yang dapat digunakan untuk mengerjakan tugas justru dihabiskan untuk scrolling media sosial sehingga pengerjaan tugas ditunda hingga mendekati deadline.
Selain berdampak ke performa akademik, mahasiswa akan cenderung merasakan gangguan mental maupun fisik. Mulai dari mengganggu pola tidur, anxiety, sampai ke digital burnout. Pola tidur akan terganggu jika melakukan mindless scrolling hingga lupa waktu. Kalau begadang terus-menerus, perubahan kondisi fisik dan hilang fokus untuk beraktivitas sehari-hari bisa saja terjadi.
Di sisi lain, dampak doomscrolling juga bisa ditemukan ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi berita negatif. Saat terlalu sering membaca berita negatif, kekhawatiran kita akan semakin kuat tentang berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi di masa depan . Ketika mental dan fisik sudah merasa kelelahan akibat dari konsumsi digital, kondisi tersebut bisa dikaitkan dengan digital burnout.
Untuk itu, dalam mencegah dampak-dampak buruk tersebut, ada beberapa batasan teknis yang dapat dilakukan. Yang pertama adalah menggunakan timer. Membatasi durasi scrolling media sosial dengan timer dapat mencegah kita masuk ke dalam lingkaran scrolling terus menerus sampai lupa waktu.
Cara kedua adalah menggunakan mode grayscale pada smartphone. Dengan mode grayscale, tampilan layar smartphone akan menjadi hitam, putih, dan abu-abu. Tampilan tersebut dapat mengurangi daya tarik secara visual sehingga akan mempersingkat durasi penggunaan smartphone. Alhasil, durasi scrolling media sosial juga berkurang.
Dan cara yang terakhir adalah menerapkan screen-free zone di tempat yang paling sering terjadi doomscrolling ataupun mindless scrolling. Hal tersebut diterapkan agar ada lokasi spesifik di mana tidak ada aktivitas scrolling sama sekali. Contohnya menetapkan kamar tidur sebagai tempat di mana kita tidak boleh scrolling media sosial sedikitpun.
Selain dari batasan teknis, ada juga aktivitas lain yang dapat dilakukan. Seperti mengganti kebiasaan scrolling dengan membaca buku fisik yang isinya menarik, mendengarkan musik dengan genre favorit, atau berinteraksi dengan teman secara langsung.
Sekarang kita jadi tahu, apa itu doomscrolling dan mindless scrolling. Jika kita scrolling terus-menerus dengan penuh rasa khawatir atau tanpa kesadaran, maka waktu yang akan terbuang juga semakin banyak. Maka dari itu, membatasi konsumsi media sosial bukan berarti mengabaikan teknologi sepenuhnya. Kita hanya perlu tau kapan harus berhenti di atas kendali diri kita sendiri.
REFERENSI
Sinha, S., Sharma, M. K., Tadpatrikar, A., Anand, N., & Kumar, R. (2023). Scrolling Mindlessly:
Emerging mental health implications of social networking sites. Journal of Public Health and
Primary Care, 4(3), 179–181. https://doi.org/10.4103/jphpc.jphpc_41_22
Saindon, J. (2021). THE USE OF DISTRACTION. UKnowledge (University of Kentucky).
https://doi.org/10.13023/etd.2021.149
Usman, S., Huma, T., & Akbar, M. R. (2025). Impact of Doom Scrolling on Mental Well-being among Media Students in Karachi. Annals of Human and Social Sciences, 6(II).
https://doi.org/10.35484/ahss.2025(6-ii)30
Natalia, A. E. S., Safitri, D., & Sujarwo. (2026). Doomscrolling pada kesehatan mental Generasi Z. JICN:
Jurnal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, 2(6), 13609–13618.
https://jicnusantara.com/index.php/jicn
Syahwa, T. R., Bimayuda, R., & Kusmawati, A. (2025). Burnout digital: Keterhubungan konstan pada mental Gen Z. Jurnal Sadewa: Publikasi Ilmu Pendidikan, Pembelajaran dan Ilmu Sosial, 3(4), 1–9. https://doi.org/10.61132/sadewa.v3i4.2352