SMAN 2 Palangka Raya terus menggencarkan penerapan pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam proses pembelajaran maupun evaluasi belajar siswa. Melalui asesmen berbasis HOTS, siswa tidak hanya dituntut untuk menghafal materi, tetapi juga dilatih untuk memahami, menganalisis, dan mencari solusi atas suatu permasalahan secara kritis dan logis.
Penerapan asesmen HOTS ini melibatkan seluruh siswa dari berbagai tingkatan kelas, yang diarahkan untuk membiasakan diri berpikir lebih mendalam sebelum menjawab suatu persoalan. Pendekatan ini menjadi bagian dari inovasi pendidikan sekolah dalam menyiapkan siswa menghadapi tantangan berpikir yang lebih kompleks, baik di lingkungan akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Kebijakan ini sejalan dengan tuntutan kurikulum masa kini yang menempatkan kemampuan bernalar kritis sebagai salah satu kompetensi utama yang perlu dimiliki siswa, sebagai bekal menghadapi berbagai persoalan nyata yang tidak selalu memiliki jawaban tunggal.
Dua siswa kelas X-4 turut membagikan pengalaman dan pandangan mereka terkait penerapan asesmen HOTS di sekolah.
Nafis Afnanul Ma'wa Ixorayatin, siswa kelas X-4, menjelaskan perannya dalam mendukung penerapan asesmen HOTS. "Sebagai siswa, peran saya dalam mendukung penerapan asesmen HOTS adalah dengan berusaha aktif dalam pembelajaran, mengerjakan soal dengan sungguh-sungguh, dan membiasakan diri untuk tidak hanya menghafal materi, tetapi juga memahami, menganalisis, dan mencari solusi dari suatu permasalahan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa dirinya juga terbiasa berdiskusi dan bertukar pendapat dengan teman ketika mengerjakan tugas berbasis HOTS.
Mengenai makna asesmen HOTS, Nafis berpandangan bahwa soal berbasis HOTS bukan sekadar soal yang sulit. "Asesmen HOTS bukan hanya sekadar soal yang sulit, tetapi soal yang melatih kita untuk berpikir lebih kritis, logis, dan analitis," katanya. Menurutnya, kebiasaan ini membantu siswa menjadi lebih kreatif dalam mencari solusi dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada hafalan.
Terkait efektivitas penerapannya, Nafis menilai asesmen berbasis HOTS cukup efektif dalam mengukur pemahaman siswa. "Kita tidak hanya dituntut untuk mengingat materi, tetapi juga harus mampu menerapkan dan menganalisisnya dalam situasi tertentu," ujarnya. Ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi penting untuk terus dipertahankan karena dalam kehidupan sehari-hari, siswa akan menghadapi berbagai persoalan yang membutuhkan pemikiran kritis dan kemampuan mengambil keputusan.
Meski demikian, Nafis mengakui adanya kendala yang kerap ia hadapi selama mengerjakan soal berbasis HOTS, yakni kesulitan memahami maksud soal yang membutuhkan analisis mendalam. "Dari situ saya belajar untuk membaca soal dengan lebih teliti, berdiskusi dengan teman, dan mencoba mencari solusi dari berbagai sudut pandang," tuturnya. Ia berharap penerapan asesmen HOTS di SMAN 2 Palangka Raya ke depannya dapat dikemas lebih interaktif, misalnya melalui diskusi, studi kasus, atau proyek yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa benar-benar belajar cara berpikir dan memecahkan masalah, bukan sekadar mengerjakan soal.
Senada dengan Nafis, Adhinda Meyka Putri, juga dari kelas X-4, memandang asesmen HOTS sebagai bentuk latihan berpikir yang penting bagi siswa. Menurutnya, perannya dalam mendukung penerapan HOTS cukup sederhana. "Peran saya adalah mengerjakan soal HOTS dengan sungguh-sungguh, membiasakan diri berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab, dan mengajak teman berdiskusi agar sama-sama memahami materi," ungkapnya.
Adhinda menilai asesmen HOTS bermanfaat besar bagi cara berpikir siswa. "HOTS itu ibarat latihan otak. Manfaatnya, kita jadi tidak hanya menghafal, tetapi belajar menghubungkan materi dengan masalah nyata, sehingga otak lebih terlatih dalam berpikir dan menyelesaikan masalah," katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya mempertahankan pendekatan HOTS dalam pembelajaran. "Ini efektif karena membuat kita berpikir, bukan sekadar menebak jawaban. Pendekatan ini penting dipertahankan karena di luar sekolah nanti tidak ada pilihan ganda A, B, C, atau D. Yang ada hanyalah masalah nyata yang harus kita selesaikan sendiri," ujarnya.
Mengenai kendala yang dihadapi, Adhinda mengaku sempat kebingungan karena soal HOTS sering disajikan dengan narasi yang panjang dan berputar-putar. "Dari situ saya belajar membaca soal secara perlahan dan mencari inti permasalahannya," katanya. Ia mengaku pengalaman paling berkesan baginya adalah ketika akhirnya berhasil menjawab soal yang semula terasa mustahil untuk dipecahkan. Ia berharap ke depannya penerapan asesmen HOTS lebih banyak menggunakan kasus-kasus nyata di sekitar siswa serta diiringi diskusi kelas, agar prosesnya tidak terasa seperti ujian semata.
Penerapan asesmen HOTS di SMAN 2 Palangka Raya melibatkan sinergi antara guru sebagai perancang dan pembimbing dalam penyusunan soal maupun proses pembelajaran, serta siswa sebagai peserta didik yang dituntut aktif berpikir kritis, berdiskusi, dan menganalisis persoalan secara mandiri maupun berkelompok. Kerja sama ini berlangsung melalui proses pembelajaran di kelas yang secara bertahap mengarahkan siswa untuk terbiasa dengan pola berpikir tingkat tinggi.
Secara keseluruhan, penerapan asesmen HOTS di SMAN 2 Palangka Raya dinilai memberikan dampak positif dalam melatih kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah siswa. Ke depan, sekolah diharapkan dapat terus mengembangkan metode asesmen HOTS yang lebih interaktif dan kontekstual, agar siswa tidak hanya mampu menjawab soal, tetapi juga terampil menghadapi persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.





