Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Berita Utama

Introvert Juga Bisa Jago Berbicara: Public Speaking Itu Soal Latihan, Bukan Bakat

Penulis: ¹muhammad nugratama hidayat, ²arfian pratama, ³eka kurnia, ⁴daffa firjatullah,⁵muhammad fairul gusti
Editor: Redaksi Pusat✓
Waktu Publikasi: 15 Oct 2026, 11:49:25 WIB
Foto ilustrasi Gambar  (Sumber: Artificial Intelligence)
Foto ilustrasi Gambar (Sumber: Artificial Intelligence)

Di banyak ruang kelas, ada pemandangan yang akrab. Dosen melempar pertanyaan, suasana mendadak hening, dan semua orang sibuk menatap layar laptop. Mahasiswa yang diam sering dianggap pasif, kurang percaya diri, atau tidak punya gagasan. Padahal belum tentu begitu. Sebagian dari mereka punya banyak hal untuk dikatakan, tetapi belum menemukan cara yang nyaman untuk mengatakannya.

Kita perlu meluruskan satu anggapan yang terlalu lama dibiarkan: introvert berarti tidak bisa berbicara. Introversi adalah kecenderungan kepribadian, yakni orang yang mengisi energinya dalam ketenangan dan lebih nyaman berpikir sebelum bersuara. Ia tidak sama dengan rasa takut, dan tidak berarti tidak mampu. Banyak introvert justru pendengar yang cermat dan pemikir yang matang. Kemampuan menyusun gagasan secara runut adalah modal besar bagi seorang pembicara.

Masalahnya, budaya kampus kita sering menghargai suara yang paling lantang, bukan yang paling bernas. Diskusi dikuasai segelintir orang yang cepat bicara, sementara yang butuh waktu untuk merumuskan pendapat tersisih. Akibatnya, banyak mahasiswa menyimpulkan bahwa dirinya “memang bukan tipe orang yang bisa tampil”. Kesimpulan itu keliru, dan merugikan. Di dunia kerja, kemampuan menyampaikan ide dengan jelas menentukan siapa yang didengar, dipercaya, dan dipercayakan tanggung jawab lebih besar.

Padahal, banyak pemimpin dan pembicara yang tenang tetapi berpengaruh. Mereka tidak menang karena volume suara, melainkan karena isi pesan, persiapan, dan ketulusan. Pembicara yang baik tidak harus selalu berapi-api. Ia cukup jelas, jujur, dan paham siapa yang diajaknya bicara. Di sinilah introvert punya keunggulan: kebiasaan merenung membuat pesan mereka cenderung terstruktur dan tidak asal bunyi.

Kabar baiknya, public speaking adalah keterampilan, dan keterampilan bisa dilatih. Tidak ada orang yang lahir langsung lancar berpidato. Mereka yang tampak luwes di depan umum hampir selalu pernah gemetar, lupa kalimat, atau kehilangan arah di tengah presentasi. Bedanya, mereka terus mencoba. Menganggap kemampuan berbicara sebagai bakat membuat kita mudah menyerah di percobaan pertama. Menganggapnya sebagai latihan membuat kita berani gagal dan memperbaiki diri.

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dimulai siapa saja. Yang pertama adalah memiliki kerangka berpikir. Metode PREP (Point, Reason, Example, Point) membantu pembicara menyampaikan pendapat secara runut: sebutkan pokok pikiran, jelaskan alasannya, beri contoh, lalu tutup dengan penegasan. Dengan kerangka ini, pembicara tidak perlu mengandalkan spontanitas yang sering menjadi sumber panik. Introvert yang suka menyiapkan diri akan merasa metode ini sangat cocok.

Yang kedua adalah mengubah cara memandang rasa grogi. Grogi bukan tanda kita tidak layak berbicara, melainkan tanda tubuh kita menganggap momen itu penting. Napas yang diatur, jeda yang disengaja, dan persiapan yang cukup bisa mengubah energi tegang itu menjadi fokus. Yang ketiga adalah berlatih kecil dan rutin. Berbicara di depan cermin, merekam diri sendiri, menyampaikan pendapat singkat di kelompok kecil, lalu naik ke forum yang lebih besar. Prinsipnya sederhana: langkah kecil dengan dampak besar. Jangan lupa meminta umpan balik dari teman tepercaya. Satu masukan konkret, misalnya tempo bicara terlalu cepat atau kontak mata kurang, jauh lebih berguna daripada seribu pujian umum.

Perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan punya peran penting di sini.

Pelatihan public speaking jangan hanya menyasar mereka yang sudah percaya diri. Ruang aman untuk berlatih, umpan balik yang membangun, dan format diskusi yang memberi waktu berpikir akan membantu lebih banyak mahasiswa menemukan suaranya. Ruang kelas yang inklusif bukan yang memaksa semua orang berbicara dengan gaya yang sama, melainkan yang menyediakan banyak jalan agar setiap orang bisa berkontribusi. Dosen pun dapat berperan dengan memberi kesempatan menjawab secara tertulis sebelum diskusi, atau membagi kelas ke kelompok kecil sebelum membuka forum besar.

Perkembangan teknologi juga membuka jalan baru. Siaran langsung dan kelas daring membuat belajar berbicara lebih terjangkau dan tidak seintimidatif panggung besar. Mahasiswa sendiri kini semakin banyak yang mengambil inisiatif, menggelar sesi belajar bersama teman sebaya tentang cara berbicara dengan percaya diri. Ini tren yang patut disambut baik, karena belajar dari sesama yang pernah mengalami kegugupan yang sama sering terasa lebih dekat dan jujur.

Pada akhirnya, kita sedang membicarakan hak setiap orang untuk didengar.

Suara yang pelan tidak berarti gagasannya ringan. Dunia yang sehat membutuhkan keduanya: yang lantang dan yang tenang, asalkan keduanya punya keterampilan untuk menyampaikan pikirannya. Jadi, kalau kamu seorang mahasiswa yang selama ini memilih diam karena merasa tidak berbakat bicara, ingatlah bahwa public speaking bukan bakat, tetapi latihan. Mulailah dari satu kalimat, di satu forum kecil, hari ini.