Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
ISDG

Fisioterapi Lebih dari Pijat: Meluruskan Stigma Pijat Medis

Penulis: Zhafira Nadya Putri
Editor: Redaksi✓
Waktu Publikasi: 01 Nov 2026, 20:21:06 WIB
Foto ilustrasi Gambar  (Sumber: Artificial Intelligence)
Foto ilustrasi Gambar (Sumber: Artificial Intelligence)

Mahasiswa News — Pertanyaan “fisioterapis itu tukang pijat, ya?” masih kerap menjadi tanggapan masyarakat terhadap fisioterapi. Masyarakat masih beranggapan bahwa fisioterapi sama dengan tukang pijat. Bahkan tak jarang profesi ini dilabeli sebagai "Tukang pijat medis" atau " Tukang pijat elit". Persepsi ini menjadi cerminan nyata bahwa fisioterapi belum dipahami masyarakat sepenuhnya. Padahal, fisioterapi merupakan salah satu profesi spesialis di bidang medis. Profesi ini berfokus pada pencegahan, pemulihan, dan peningkatan fungsi gerak tubuh akibat cedera, penyakit, maupun faktor usia.

Kesalahpahaman ini kerap muncul karena salah satu layanan fisioterapi yang paling dikenal masyarakat memang melibatkan sentuhan atau pijatan (terapi manual). Sehingga, sering disamakan begitu saja dengan tukang pijat. ‎Stigma ini bukan sekadar masalah istilah, melainkan berdampak langsung pada keselamatan pasien. Banyak orang yang mengalami cedera serius atau gangguan saraf justru menunda pergi ke fisioterapis dan memilih alternatif pijat relaksasi. Dampaknya hanya meredakan nyeri sementara dan berisiko memperburuk kondisi fisik mereka. Mengingat peran fisioterapi jauh lebih dari sekadar memijat, lantas bagaimana membedakan penanganan psecara medis dengan pijat tradisional?

Bukan sekadar asumsi, Kementerian Kesehatan RI melalui laman resminya bahkan mendefinisikan bahwa "Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk menghindari atau meminimalkan keterbatasan fisik." Artinya, tujuan utamanya adalah mengembalikan fungsi gerak tubuh secara optimal, bukan sekadar menghilangkan rasa pegal semata. Sayangnya, fakta medis ini masih sering diabaikan oleh masyarakat luas sehingga menimbulkan keresahan di kalangan praktisi dan mahasiswa. Keresahan akibat kuatnya stigma keliru inilah yang pada akhirnya memicu berbagai diskursus penting di ruang publik. Sebagai bentuk edukatif, belakangan ini kita semakin mudah menemukan Beberapa literatur kritis seperti "Stigma masyarakat terhadap profesi fisioterapi" maupun "Opini mahasiswa fisioterapi vs pijat tradisional" yang secara masif disuarakan guna mengedukasi masyarakat.

‎Proses Asesmen dan Diagnosis

Perbedaan paling mendasar antara fisioterapis dan tukang pijat terletak pada proses sebelum tangan mereka menyentuh tubuh pasien. Seorang tukang pijat umumnya akan langsung memberikan tekanan atau pijatan pada area yang dirasa sakit untuk meredakan pegal atau nyeri sementara. Namun, bagi seorang fisioterapis, tindakan seperti itu pantang dilakukan tanpa adanya landasan diagnosis yang jelas.

‎​Sebelum menentukan program terapi, fisioterapis wajib melakukan serangkaian asesmen medis. Proses ini dimulai dari wawancara riwayat keluhan (anamnesis), observasi postur, hingga pengujian spesifik terhadap fungsi sendi, kekuatan otot, dan saraf. Dalam kasus tertentu, fisioterapis juga perlu membaca rekam medis penunjang seperti hasil rontgen atau MRI. Semua ini dilakukan karena landasan kerja mereka adalah ilmu anatomi, biomekanik, dan fisiologi tubuh manusia.

‎Melalui tahapan diagnosis inilah fisioterapis mencari "akar masalah", bukan sekadar meredakan "gejala". Misalnya, ketika seseorang mengeluhkan nyeri pada lutut, fisioterapis tidak akan serta-merta memijat lutut tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, bisa jadi akar masalahnya justru terletak pada kelemahan otot pinggul atau kelainan postur telapak kaki. Pendekatan analitis inilah yang membuat intervensi fisioterapi terukur, aman, dan tepat sasaran.

‎Fokus pada Rehabilitasi

‎Dalam praktiknya, pemijat tradisional berfokus pada terapi manual dengan teknik usapan atau tekanan untuk relaksasi. Fisioterapis juga memanfaatkan sentuhan tangan (manual therapy) untuk memanipulasi sendi dan jaringan, namun ruang lingkup mereka berfokus pada rehabilitasi.​Klinik fisioterapi umumnya dilengkapi dengan berbagai modalitas teknologi medis mutakhir. Untuk menangani peradangan di jaringan yang dalam, fisioterapis menggunakan Ultrasound atau gelombang suara. Intervensi menggunakan teknologi medis ini tentu membutuhkan dosis dan perhitungan matematis yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

‎​Lebih dari itu, pembeda paling nyata ada pada keterlibatan pasien. Di tukang pijat, pasien hanya berbaring pasif menikmati pijatan. Sebaliknya, fisioterapis akan "memaksa" pasien untuk bergerak. Setelah keluhan nyeri diatasi, fisioterapis akan meresepkan terapi latihan (exercise therapy). Pasien diedukasi dan dilatih melakukan gerakan-gerakan spesifik untuk memperkuat otot penyokong sendi yang lemah. Sebab, kesembuhan sejati tidak datang dari sekadar otot yang lemas karena dipijat, melainkan dari otot yang dilatih kembali kekuatannya agar cedera tidak terulang di kemudian hari.

Pada akhirnya, menyamakan fisioterapi dengan pijat tradisional adalah sebuah kekeliruan yang berangkat dari minimnya literasi kesehatan. Keduanya memiliki ranah, tujuan, dan kompetensi yang sangat berbeda. Pijat tradisional tentu akan selalu memiliki tempat istimewa di masyarakat sebagai sarana relaksasi dan menjaga kebugaran tubuh sehari-hari. Namun, ketika tubuh mengalami cedera ortopedi, gangguan saraf, atau membutuhkan pemulihan pasca-operasi, maka fisioterapi adalah jalur medis yang mutlak harus dipilih karena didasari oleh diagnosis dan ilmu anatomi yang presisi.

​Oleh karena itu, memahami perbedaan ini bukan sekadar upaya meluruskan stigma terhadap profesi fisioterapis, melainkan sebuah bentuk perlindungan terhadap diri sendiri. Masyarakat harus lebih peka mengenali kebutuhan fisiknya—mengetahui secara pasti kapan tubuh hanya butuh direlaksasi dan kapan tubuh benar-benar butuh direhabilitasi. Jangan sampai penanganan yang keliru justru merugikan kesehatan, karena kemandirian gerak tubuh kita terlalu berharga untuk dipertaruhkan pada sebuah kesalahpahaman. Mari lebih bijak merawat tubuh, sebab pemulihan yang sejati selalu berawal dari keputusan yang tepat.

Biodata Penulis:

Profil Singkat : Zhafira Nadya Putri adalah mahasiswa S1 Fisioterapi di

Universitas Muhammadiyah Malang.

No. HP/WA : +6282191439585

Email : zhafiranadya26@gmail.com

Alamat Lengkap : Jl. Tirto Utomo, Gg. II, No. 64, Dusun Rambaan, Landungsari,

Kec. Dau, Kab.Malang.

Akun Instagram : @zha_nadya