Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Opini

Fatherless di Kalangan Generasi Muda: Ketika Kehadiran Ayah Memengaruhi Kehidupan Sosial Anak

Foto penulis Penulis: Gusniar Salsabila
Editor: Redaksi✓
Waktu Publikasi: 14 Oct 2026, 03:21:00 WIB
Sumber: Reva Putri Hermanita, Kompasiana (2024).
Sumber: Reva Putri Hermanita, Kompasiana (2024).

Fatherless merupakan kondisi ketika seorang anak mengalami ketidakhadiran atau kurangnya keterlibatan sosok ayah dalam kehidupannya, baik secara fisik maupun emosional. Kondisi ini tidak selalu berarti ayah telah meninggal atau tidak tinggal bersama anak, tetapi juga dapat terjadi ketika ayah berada di rumah namun kurang terlibat dalam pengasuhan, komunikasi, dan perkembangan anak. Dalam kehidupan keluarga, ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga memiliki peran dalam memberikan perhatian, dukungan, dan pendampingan kepada anak. Oleh karena itu, fenomena fatherless menjadi hal yang menarik untuk dibahas karena berkaitan dengan peran keluarga dalam membentuk kehidupan sosial generasi muda.

 

Menurut saya, peran ayah dalam keluarga tidak seharusnya hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan ekonomi. Anak juga membutuhkan perhatian, komunikasi, dan dukungan emosional dari ayah dalam proses tumbuh kembangnya. Ketika keterlibatan ayah kurang, anak mungkin merasa kurang mendapatkan perhatian atau kehilangan salah satu sumber dukungan dalam kehidupannya. Kondisi tersebut dapat memengaruhi cara anak memahami dirinya, membangun hubungan dengan orang lain, dan menghadapi berbagai persoalan. Meskipun demikian, pengaruhnya tidak selalu sama pada setiap anak karena setiap orang memiliki pengalaman keluarga dan lingkungan yang berbeda.

 

Fenomena fatherless juga dapat memengaruhi kehidupan sosial anak, terutama dalam membangun hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya, kurangnya komunikasi dan dukungan dalam keluarga dapat membuat sebagian anak merasa kesulitan untuk menyampaikan perasaan atau membicarakan masalah yang sedang dihadapi. Namun, hal tersebut bukan berarti semua anak yang mengalami fatherless pasti memiliki kesulitan dalam berinteraksi. Dukungan dari ibu, keluarga besar, teman, dan lingkungan yang positif tetap dapat membantu anak mengembangkan kemampuan sosialnya.

 

Jika dikaitkan dengan teori sosialisasi dalam ilmu sosial, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak belajar mengenal nilai, norma, dan perilaku dalam masyarakat. Melalui interaksi sehari-hari, anak belajar berkomunikasi, memahami tanggung jawab, serta membangun hubungan dengan orang lain. Dalam proses tersebut, ayah dan ibu sama-sama dapat berperan dalam memberikan contoh dan membimbing anak. Oleh karena itu, kurangnya keterlibatan ayah menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses sosialisasi anak, meskipun perkembangan sosial juga dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya.

 

Fenomena fatherless tidak seharusnya hanya dianggap sebagai persoalan pribadi dalam keluarga, tetapi juga perlu menjadi perhatian masyarakat. Pandangan bahwa tugas ayah hanya mencari nafkah, sedangkan pengasuhan sepenuhnya menjadi tanggung jawab ibu, perlu dipertimbangkan kembali. Kesibukan pekerjaan dan kurangnya komunikasi dapat membuat hubungan antara ayah dan anak menjadi kurang dekat jika tidak diimbangi dengan waktu dan perhatian yang cukup. Padahal, keterlibatan ayah tidak selalu harus diwujudkan melalui hal-hal besar, tetapi juga dapat dilakukan dengan mendengarkan cerita anak, meluangkan waktu bersama, dan memberikan dukungan ketika anak menghadapi masalah.

 

Pada akhirnya, fenomena fatherless menunjukkan bahwa peran keluarga sangat penting dalam kehidupan sosial generasi muda. Kehadiran ayah bukan hanya tentang keberadaan secara fisik, tetapi juga tentang perhatian, keterlibatan, dan hubungan emosional dengan anak. Oleh karena itu, pengasuhan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Dengan komunikasi yang baik serta dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar, anak dapat memiliki kesempatan yang lebih baik untuk tumbuh, mengembangkan dirinya, dan membangun hubungan sosial yang sehat.


Gusniar Salsabila, mahasiswa program studi administrasi negara, semester 3, Universitas Pamulang Kota Serang