Selamat datang di Mahasiswa News - Portal Berita & Aspirasi Kreativitas Kampus Terdepan
Mahasiswa News
Media Aspirasi & Kreativitas Kampus
🌤️
--° Memuat cuaca...

Kanal & Sub Kanal

Beranda Utama
Berita Utama

Bukan Soal Gaji, Gen Z Sedang Mengalami Krisis Literasi Keuangan

Penulis: Zahra Wahyu Triandini
Editor: Redaksi✓
Waktu Publikasi: 22 Oct 2026, 19:31:29 WIB
Dokumentasi foto (Sumber: Dock  pribadi)
Dokumentasi foto (Sumber: Dock pribadi)

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan seorang teman yang baru saja menerima gaji dari pekerjaan paruh waktunya. Nominal yang diterimanya cukup besar untuk ukuran mahasiswa. Namun, ketika bulan belum berakhir, ia sudah mengeluh karena rekeningnya hampir kosong. Setelah ditelusuri, sebagian besar uangnya habis untuk belanja online, nongkrong, langganan aplikasi hiburan, dan mengikuti tren yang sedang viral di media sosial.

Pengalaman tersebut membuat saya berpikir bahwa masalah utama Generasi Z saat ini bukan selalu tentang kurangnya pendapatan. Justru yang sering terjadi adalah kurangnya kemampuan mengelola uang secara bijak. Kita hidup di era ketika transaksi menjadi sangat mudah. Hanya dengan satu klik, barang yang diinginkan langsung sampai ke rumah. Kemudahan ini memang memberikan kenyamanan, tetapi di sisi lain juga mendorong perilaku konsumtif yang semakin sulit dikendalikan.

Sebagai mahasiswa semester 7, saya melihat fenomena ini hampir setiap hari. Tidak sedikit teman-teman yang mampu menghasilkan uang dari bisnis online, menjadi content creator, freelancer, atau pekerjaan sampingan lainnya. Namun, peningkatan pendapatan tersebut sering kali tidak diikuti dengan peningkatan kemampuan mengatur keuangan. Akibatnya, uang datang dan pergi tanpa arah yang jelas.

Menurut OECD (2025), literasi keuangan adalah kemampuan individu untuk memahami konsep keuangan, mengelola sumber daya finansial, serta mengambil keputusan yang tepat demi mencapai kesejahteraan hidup. Definisi ini menunjukkan bahwa literasi keuangan bukan sekadar mengetahui cara menabung atau berinvestasi, tetapi juga bagaimana seseorang membuat keputusan finansial yang rasional dalam kehidupan sehari-hari.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2025 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia terus meningkat. Namun, peningkatan pengetahuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh perilaku keuangan yang sehat. Banyak anak muda masih kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, terutama ketika berhadapan dengan promosi digital yang muncul setiap hari melalui media sosial dan platform e-commerce.

Saya teringat pada sebuah contoh sederhana. Ada dua mahasiswa yang sama-sama menerima uang saku sebesar Rp2 juta setiap bulan.

Mahasiswa pertama menggunakan sebagian besar uangnya untuk kebutuhan konsumtif.

Setiap ada diskon, ia merasa harus membeli.

Setiap ada tren baru, ia merasa perlu mengikuti. Sementara itu, mahasiswa kedua mulai menerapkan aturan sederhana dalam mengelola uang, yaitu membagi penghasilannya menjadi kebutuhan, keinginan, serta tabungan dan investasi.

Sekilas, perbedaan keduanya mungkin tidak terlihat. Namun, setelah beberapa tahun, hasilnya akan sangat berbeda. Mahasiswa kedua berpotensi memiliki dana darurat, investasi yang berkembang, dan kondisi keuangan yang lebih stabil. Sebaliknya, mahasiswa pertama mungkin masih terjebak dalam pola hidup konsumtif dan kesulitan memenuhi kebutuhan mendadak.

Menurut Lusardi dan Mitchell (2025), individu yang memiliki tingkat literasi keuangan yang baik cenderung lebih mampu merencanakan masa depan, menghindari utang yang tidak produktif, dan memiliki kesejahteraan finansial yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki literasi keuangan rendah. Temuan ini menjadi pengingat bahwa kemampuan mengelola uang merupakan keterampilan hidup yang sama pentingnya dengan pendidikan formal.

Oleh karena itu, saya percaya bahwa ada tiga kebiasaan sederhana yang perlu mulai diterapkan oleh Generasi Z. Pertama, mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran. Kedua, membangun dana darurat sejak dini. Ketiga, mempelajari investasi secara bertahap sesuai profil risiko masing-masing. Langkah-langkah tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap kondisi keuangan jangka panjang.

Selain itu, Generasi Z juga perlu lebih waspada terhadap berbagai tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan instan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kasus investasi ilegal dan penipuan digital yang menyasar anak muda karena rendahnya pemahaman mengenai risiko keuangan. Padahal, prinsip dasar investasi yang sehat adalah adanya keseimbangan antara potensi keuntungan dan risiko.

Pada akhirnya, saya meyakini bahwa tantangan terbesar Generasi Z bukanlah bagaimana memperoleh uang sebanyak mungkin, melainkan bagaimana mengelolanya secara bijak. Sebab, uang yang besar tidak akan berarti apa-apa jika habis tanpa perencanaan. Sebaliknya, penghasilan yang sederhana dapat menjadi fondasi masa depan yang kuat ketika dikelola dengan disiplin dan pengetahuan yang memadai.

Literasi keuangan bukan hanya tentang angka,

tabungan, atau investasi. Literasi keuangan adalah kemampuan untuk mengambil keputusan yang menentukan kualitas hidup di masa depan. Dan menurut saya, itulah keterampilan yang paling dibutuhkan Generasi Z hari ini.