Sri Mulyani, Sudahlah, Berterus Terang Sajalah (Dari Soal Hutang Negara, Dana Haji, Hingga Gaji PNS)

(Sri Mulyani/Net)


Oleh: Iramawati Oemar

Sri Mulyani Indrawati, salah satu wanita hebat yang dimiliki Indonesia saat ini. Kepandaiannya dalam bidang ekonomi keuangan (finansial dan moneter) tak perlu diragukan lagi. Bahkan IMF dan World Bank pun mau memakai SMI, kurang apa lagi coba?!

Dia jadi Menteri dalam 2 periode kabinet SBY, walaupun yang kedua tidak tuntas. Tapi sehebat-hebatnya kepintaran seseorang, pasti masih kalah dengan kekuasaan.

Itu sebabnya dalam kasus bail out bank Century, SMI berani berkata dia bertanggung jawab atas pengucuran dana yang sejumlah sekian ratus milyar, namun menolak untuk bertanggungjawab atas jumlah yang sekian trilyun selebihnya.

Artinya dia berani bertanggungjawab atas apa yang dia tahu betul hitung-hitungannya dan bisa dipertanggungjawabkan secara logis dan akademis.

Kali ini, Mbak Sri jadi buah bibir. Gegara beliau tidak mampu menjawab KEMANA LARINYA HUTANG NEGARA.

Ini pertanyaan yang MEWAKILI RASA INGIN TAHU RAKYAT BANYAK. Kami, setidaknya saya dan beberapa teman yang kerap menuliskan tanya di akun medsos: hutang segitu banyak buat apa aja sih, kok subsidi pada dicabutin, apa-apa mahal, lalu berhutang terus buat apa?! Duitnya dikemanain?!.

Jadi, izinkan saya mewakili teman-teman saya BERTERIMAKASIH KEPADA ANGGOTA DPR YANG TELAH MENGAJUKAN PERTANYAAN TERSEBUT.

Kali ini kami merasa terwakili, Alhamdulillah.

Kembali ke laptop, soal pertanyaan dipakai untuk apa dana dari hutang, eeeh..., ternyata Jeng Sri gak bisa jawab.

Karena duit hutang masuk ke kas negara, bercampur dengan penerimaan pajak de-el-el, ya sudahlah habis dibelanjakan.

Oooh..., NO!!! Itu sama sekali BUKAN sebuah jawaban yang saya harapkan keluar dari seorang secerdas Sri Mulyani Indrawati.

Mari kita ibaratkan sebuah rumah tangga kecil dari warga kelas menengah bawah. Suami ngutang ke kantor (kasbon) Rp. 500 ribu, diserahkan ke istri. Lalu ada lagi pinjaman di Koperasi Simpan Pinjam RT sebesar Rp. 750 ribu, disetor ke istri. Ada juga pemasukan lain hasil keuntungan dari warung kelontong kecil-kecilan di beranda rumah yang sehari-hari dikelola istri. Suami kalau week end jualan jersey bola di pasar kaget, berapapun hasilnya diberikan ke istri.

Akhir bulan, kalau ditanya hutang yang dari Koperasi Simpan Pinjam RT dan kasbon kantor dipakai buat apa? Jawab si istri: ya sudah habis, Pakne. Kan campur sama keuntungan warung dll, buat bayar listrik, bayar sekolah anak, uang jajan anak, belanja sehari-hari, kan sekarang apa-apa mahal, garam aja mahal! Yo wes pokoknya habis aja!

Nah, kalau itu terjadi di rumah tangga kecil, wajar, lumrah, amat sangat bisa dimaklumi.

Tapi bagaimana kalau itu terjadi di sebuah negara yang hutangnya meningkat pesat dalam 2,5 tahun terakhir tapi rakyat tak melihat ada perubahan signifikan dalam pembangunan fisik maupun peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakatnya?!.

Masihkah kita bisa bilang wajar dan memakluminya?! 
Untuk selanjutnya, sudahlah kita gak usah berisik, gak usah banyak tanya, hutang negara buat apa.

Kewajiban kita sebagai rakyat cuma bayar pajak, yang makin lama makin banyak ragamnya dan makin besar nilainya, demi membayar cicilan hutang! Begitukah?!

Padahal bayi dari pasangan suami istri warga negara Indonesia, baru lahir saja sudah dibebani hutang belasan juta yang harus ikut dia tanggung angsuran bunga dan pokok hutangnya hingga puluhan tahun ke depan!! 

Tidak berhakkah rakyat tahu KEMANA LARINYA HUTANG NEGARA?!

****

Sudah beberapa tulisan panjang lebar dari mereka yang punya kompetensi untuk menganalisis, yang memaki Ibu SMI karena jawabannya yang tampak seakan "bodoh".

Ada pula yang mengatakan bahwa SMI seakan mengulang isyarat bahwa "dia tak tahu apa-apa" namun kali ini dalam soal pemakaian hutang.
 Artinya ada pihak lain yang lebih berkuasa-lah yang tahu, bukan dirinya yang "hanya" MenKeu.

Saya cenderung sependapat dengan yang terakhir. Sebab saya yakin seorang secerdas SMI tidak mungkin mendadak bodoh, apalagi di depan forum DPR. 
Dulu dicecar Pansus Hak Angket Century saja dia tak gentar kok!

Apa sekarang perlu DPR membentuk PANSUS HAK ANGKET HUTANG?! Demi menghadirkan Pemerintah agar menjawab kemana larinya hutang negara yang bertambah pesat namun tak jelas terasa hasilnya oleh rakyat. 

Saya rasa kalau DPR bikin Pansus Angket yang ini, rakyat pasti mendukung penuh! Tapi sebaliknya, 6 fraksi pendukung Pemerintah yang akan paling depan memveto usulan itu.

Belum habis kegaduhan karena SMI tak tahu kemana larinya hutang, disaat hampir bersamaan ada INSTRUKSI presiden agar Dana Abadi Ummat dari dana haji diinvestasikan saja untuk infrastruktur. Besarannya tak tanggung-tanggung, 80% alias 4/5 bagian!.

Padahal, uang itu adalah dana ummat Islam yang terkumpul dari setoran minimum ONH para calon jamaah haji yang telah mendapat porsi haji namun masih harus berada di daftar tunggu sekian tahun ke depan. Sama sekali tak ada hak pemerintah disana, itu uang amanah ummat sebagai bentuk kesungguhan mereka siap berangkat haji, sehingga dananya sudah disetor lebih dulu.

Bagi publik, instruksi presiden ini bermakna bahwa pemerintah sedang sangat BUTUH DANA SEGAR tambahan. Ini makin mengherankan! Sebab setiap kali berhutang rakyat disuguhi retorika "UNTUK MEMBANGUN INFRASTRUKTUR"!...

Lalu infrastruktur yang mana dan dimana yang sudah dibangun dengan dana hutang segitu banyak?! Setahu kami infrastruktur yang banyak diresmikan Jokowi adalah proyek-proyek lama yang sudah dimulai pembangunannya sejak jaman pemerintahan SBY dan di era Jokowi tinggal melanjutkan saja, bahkan tinggal proses finishing.

Jadi infrastruktur mana yang benar-benar sudah didanani dengan hutang?!
Kok sekarang malah mau mengincar bagian terbesar dana haji, alasannya juga buat bangun infrastruktur?!

Jadi sebenarnya kemana larinya hutang luar negeri sebanyak itu?!

****

Seakan tak berkesudahan, kembali ibu SMI membuat pernyataan yang bikin gaduh di masyarakat. "Pilih berhutang atau gaji PNS dipotong?".

Hellooo..., pertanyaan macam apa pula ini Bu Sri?! Kok kami, rakyat, seperti sedang berhadapan dengan PERAMPOK (maaf) yang sedang menodongkan sajam sambil memberi pilihan "Pilih (serahkan) harta atau nyawa (melayang)?!".

Kedua pilihan yang sama-sama tidak enak dan tidak bisa dipilih.

Kalau orang sedang menghadapi perampok, dia akan pilih serahkan seluruh harta benda yang ada asalkan nyawanya bisa selamat.

Apakah nasib kami rakyat Indonesia saat ini seperti itu?! Tak ada pilihan lain yang sedikiiiit saja agak enak?!.

Minimal sebuah pilihan yang wajar bagi aparatur negara dari sebuah bangsa yang MERDEKA. bukan sebuah pilihan bagi jongos dari negara jajahan. 

Saya sungguh sedih, baru kali ini kita disodori pertanyaan macam ini.

Kita sudah memilih presiden melalui pilpres yang berbiaya trilyunan rupiah. Yang terpilih adalah pasangan yang saat kampanye dulu berjanji TIDAK AKAN MENAMBAH HUTANG LUAR NEGERI. Berjanji akan mensejahterakan rakyatnya, BUKAN MEMALAK RAKYATNYA.

Apa salah PNS sampai mereka harus dipotong gaji?!.

Tidak semua PNS/ASN bergaji tinggi. Mereka mendapatkan gaji karena bekerja. Optimalkan saja kinerja mereka, itu tugas Mentri PAN & RB. Kalau ada yang indisipliner atau kinerjanya rendah, segera beri sanksi, bila perlu diberhentikan.

Tapi bukan dipukul rata gajinya dipotong karena PEMERINTAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR GAJI PNS sesuai anggaran!.

Mereka bekerja lho, bukan bekerja bakti, bukan jadi relawan yang rela saja dibayar berapapun bahkan kalau tak ada duit tak dibayar pun tak apa.

Karena pernyataan itu keluar dari mulut seorang Menteri Keuangan, ini jelas mengisyaratkan satu hal : PEMERINTAH TIDAK ADA UANG!.

sehingga jika tak berhutang, maka gaji PNS tak bisa dibayar penuh.

Ini serupa tapi tak sama dengan niat memakai dana haji tadi.

Semua mengerucut pada satu kesimpulan : UANG HASIL HUTANG SUDAH HABIS, BERHUTANG LAGI SUDAH TIDAK BISA, maka dana haji akan dimanfaatkan secara paksa (pakai instruksi presiden, tanpa meminta kesediaan pemilik dana), dan pilihan pahit berikutnya adalah memangkas gaji PNS jika hutang sudah tak bisa lagi jadi pilihan.

Ibu Sri Mulyani Indrawati, ADA APA SEBENARNYA DENGAN NEGARA KITA?!
Sudahlah Bu Sri, kami rakyat juga tidak bodoh-bodoh amat. Kami cukup bisa berpikir dan menganalisa kalimat demi kalimat getir yang keluar dari mulut anda. Kami masih percaya anda orang CERDAS DAN BERINTEGRITAS, salah satu anugerah bagi bangsa ini memiliki seorang sehebat anda. Meski lama tinggal di manca negara, saya juga masih percaya anda punya rasa NASIONALISME. Saya masih ingat anda menangis berpelukan dengan Ibu Marie Elka Pangestu, jaman reformasi dulu. Intinya, saya masih percaya anda sebenarnya orang baik.

Jadi, sudahlah, berterusteranglah pada rakyat, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keuangan negeri ini?! Biar kami bisa bersiap-siap untuk kondisi paling tidak menyenangkan ke depan.

Hutang negara akan jatuh tempo bulan Oktober tahun ini, bukan begitu, bu Sri?!. Masih adakah cadangan uang negara untuk membayarnya?! Kalau jawabnya "TIDAK ADA" apa konsekwensinya bagi negara dan bangsa Indonesia?!

Kami tak percaya mendadak dana haji akan dialihkan untuk infrastruktur! Kemungkinan besar untuk bayar hutang jatuh tempo yang sudah di depan mata! 2-3 bulan lagi itu tidak lama. Jika uangnya sekarang tidak ada, tentu Pemerintah sudah panik dari sekarang.

Dan..., kami melihat pernyataan-pernyataan Ibu SMI akhir-akhir ini adalah cermin dari kepanikan itu. Ketika negara sudah tak ada uang, pilihan tersulitlah yang disodorkan pada rakyat.

Sri Mulyani Indrawati baru bergabung dengan kabinet pemerintah Jokowi tepat setahun lalu, 27 Juli 2016 (koreksi jika salah tanggalnya). Dia sudah banyak berusaha, memotong anggaran di hampir semua kementrian pada bulan pertama dia menjabat. APBN tidak realistis, katanya jujur!

Nah, kali ini, rakyat juga berharap kejujuran Sri Mulyani Indrawati.

Kalau memang sudah tak ada lagi yang bisa dilakukan, lebih baik mundur saja. Seperti kakak iparnya, mantan Menko Kemaritiman yang pertama, yang hanya bertahan selama 10 bulan di kabinet Jokowi.

 Sebab, rasa-rasanya, sepandai apapun orangnya, jadi ikutan tampak "bodoh" dalam kabinet yang gaduh ini. Sementara pemimpinnya lebih suka selfie dan ngevlog ketimbang memikirkan kondisi negara yang makin sulit. Kasihan para Menterinya. Lebih kasihan lagi rakyatnya.

Sudahlah Bu Sri, berterusterang sajalah pada rakyat....

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==