Gagal Masuk PTN? Rencana Allah yang terbaik

Ilustrasi


Penulis:
Maesya’bani
Mahasiswa akuntansi syariah

Penerima manfaat beasiswa EKSPAD
(Ekonomi syariah pelopor pembangunan daerah)
STEI SEBI Depok.



Perlu adanya tantangan agar mengerti bahwa hidup tak selamanya mulus, akan ada masa dimana harapan tak sesuai dengan keinginan. Begitulah hidupku, ada masa dimana aku terjatuh dan merasakan ketidakadilan dalam hidup.

Waktu itu aku duduk di kelas 12 SMA favorit di kotaku. Setiap hari aku membayangkan lulus UN dengan hasil memuaskan dan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) favorit yang menjadi idamanku sejak duduk di sekolah dasar dulu. Tugas demi tugas menjadi teman dekat yang harus diperhatikan setiap harinya. Tidak ada sedikitpun rasa beban dalam menjalaninya. Justru dengan perasaan bahagia kujalani peran ini bersama do’a yang kupanjatkan setiap hari.

Hari itu pun tiba, waktu pengumuman hasil ujian. Tentunya aku cemas dengan nilai-nilai ku, karena itu akan menentukan studiku kedepan. Namun aku masih takut untuk melihatnya, khawatir akan mengecewakan orang tuaku. Sebagai anak pertama, aku harus menjadi contoh yang baik bagi adik-adikku. Dan pada akhirnya kubuka hasil ujian itu. Alhamdulillah hasilnya bagus, meski tidak terlalu memuaskan.

Selanjutnya adalah persiapan untuk bersaing mendapatkan kursi di PTN melalui jalur raport atau SNMPTN. Dengan rasa percaya diri aku mendaftar ke kampus favorit di Kota Kembang. Aku optimis memilih jurusan yang kupilih dengan nilai dan kemampuan ku saat itu. Karena selama 12 tahun sekolah aku selalu memprioritaskan pelajaran yang kupilih sebagai jurusanku saat kuliah nanti: matematika. Waktu terus berlalu dan tibalah saatnya pengumuman. Lalu bagaimana hasilnya? Qadarullah aku ditolak. Inilah saat pertama aku mengalami penolakan yang sangat memilukan. Sebelumnya aku selalu diterima di sekolah yang terbaik dan tanpa hambatan. Sakit hati rasanya melihat teman-teman yang sudah mendapatkan PTN dengan mudahnya.

Apakah aku berputus asa? Tidak. Karena ‘banyak jalan menuju roma’. Begitupun perjalananku, banyak jalan menuju kampus idaman di kota kembang. Selama sebulan penuh aku memperketat jadwal belajarku untuk persiapan tes lewat jalur SBMPTN yaitu jalur tes tulis. Kali ini aku tetap memilih universitas dan jurusan yang sama untuk pilihan pertama dan kampus di kota pahlawan untuk pilihan selanjutnya. Sebaik-baik perencanaan manusia tetaplah Allah yang menentukan. Dagdigdug rasanya menunggu pengumuman karena ini adalah jalan terakhir untuk dapat berkuliah di kampus idaman. Dan bagaimanakah hasilnya? Aku ditolak (lagi). Waktu terasa berhenti begitu saja dan dunia terasa runtuh. Aku tak tahu bagaimana kacaunya perasaanku saat itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Teman-teman yang menghubungi kuabaikan semua. Aku putus asa, malu dan merasa gagal. Bagaimana tidak? Semua prestasi yang kutorehkan selama sekolah terasa hilang dalam satu waktu. Aku merasa sangat bersalah pada orangtuaku. Pastinya hati mereka kecewa meski tidak diungkapkan. Air mata terus mengalir setiap kali aku mengingat hasil pengumuman itu. Berhari-hari bahkan aku sempat berpikir untuk tidak melanjutkan studiku.

Seminggu berlalu, orangtuaku tetap memberi semangat agar terus melanjutkan studi. Ku paksa untuk mengubur dalam dalam keinginan untuk berkuliah di kampus idaman. Akhirnya aku mencoba kembali mendaftar ke kampus negeri yang lain. Aku banting stir dan memilih jurusan yang sama sekali tidak aku sukai. Aku mencoba lewat jalur mandiri. Sambil pasrah dan berdo’a agar diberikan yang terbaik olehNya.

Kali ini aku tidak begitu antusias. Harap-harap cemas menyelimuti perasaanku saat menunggu pengumuman. Disela kebingungan, aku mendapat tawaran untuk megikuti tes beasiswa di perguruan tinggi Islam di Depok. Aku bersyukur jikalau nanti bisa berkuliah dengan full support beasiswa. Namun satu hal yang membuatku ragu untuk mendaftar, yaitu jurusan yang ada hanyalah Ekonomi Islam. Aku tahu kalau ini sangat berbeda dengan jurusanku sebelumnya: IPA. Mengingat bagaimana dulu aku belajar ekonomi rasanya mustahil aku bisa masuk dan bertahan disana. Dari dulu fokusku hanya IPA dan matematika, lagipula nilai ekonomi ku bisa dikatakan buruk sewaktu kelas X SMA. Keraguan itu kembali muncul, tapi keluargaku tetap menyarankan untuk ikut tes disana. Akhirnya dengan setengah hati aku mencoba mendaftar.

Tes kali ini agak berbeda dari sebelumnya. Karena tidak ada persiapan sama sekali dan aku hanya mengandalkan kemampuan ku seadanya. Akhirnya ketika tes berlangsung, aku hanya fokus pada pelajaran matematika dan bahasa inggris. Pelajaran lainnya yang diujikan hanya aku isi dengan seadanya. Terutama ekonomi, karena aku sama sekali tidak mengerti tentang pelajaran itu. Setelah tes tulis dilanjut dengan wawancara. Ketika dijelaskan tentang kampus dan organisasinya, aku mulai tertarik namun hatiku masih berharap untuk kuliah di kota kembang.

Waktu pengumuman antara PTN dan PTS yang sedang kutunggu berdekatan. Tibalah waktunya pengumuman ujian mandiri PTN. Dan hasilnya mungkin sudah bisa ditebak. Aku ditolak untuk kesekian kalinya. Namun kali ini tak ada air mata yang mengalir, mungkin sudah habis kemarin-kemarin. Kini harapanku tinggal satu, yaitu perguruan tinggi Islam dengan beasiswanya.  Aku merasa ikhtiar bumi telah kulakukan dan tinggal pasrah dan memperkuat ikhtiar langit. Ya, setiap waktu aku berdo’a agar segera diberikan jawaban untuk studiku.

Do’a yang kulangitkan akhirnya menemukan jawabannya. Aku diterima di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam dengan beasiswa full sampai lulus. Aku bersyukur tiada henti, karena selain mendapat beasiswa penuh, studi S1 dapat diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun. Kubulatkan tekad untuk melupakan yang telah lalu. Kugantungkan harapan setinggi-tingginya pada lingkungan baru ku. Di kampus ini, aku mencoba belajar banyak hal, berdedikasi untuk almamater tercinta dan bersyukur untuk kesempatan yang telah Allah berikan.

Awalnya sulit untuk menerima kenyataan, satu tahun di kampus ini masih ada rasa yang menyelinap dalam hati. Sesekali bayangan untuk berkuliah di PTN masih terselip dalam angan. Namun menginjak tahun kedua semua berubah. Aku yang tadinya tidak suka ekonomi menjadi mulai menyukainya. Aku baru sadar ternyata dunia tidak sesempit yang dibayangkan. Banyak hal yang kudapatkan dan salah satunya adalah kesempatan untuk berkunjung ke luar negeri dan beberapa kota besar di Indonesia. Itu kudapatkan selama dua tahun belajar disini dan jika aku berada di kampus yang dulu jadi idaman mungkin aku tak akan seperti sekarang. Aku bersyukur telah diberikan lingkungan yang Islami, membantu proses hijrahku dan mendekatkan ku kepada sang Khaliq. Kini aku mencoba berpikir positif dan belajar dewasa dalam memandang segala sesuatu.

Ujian akan selalu ada, kenyataan memang tidak selalu sesuai dengan harapan. Tapi ingatlah "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (Al-baqarah:216)
Ujian mengajarkan kita untuk selalu optimis dan tidak mudah berputus asa. Teruslah berusaha selama nafas masih berhembus. Karena hasil tidak akan mengkhianati usaha. Jangan lupa bahwa Allah senantiasa memberi apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik untuk kita. Bersyukurlah untuk apapun yang kita dapat karena belum tentu orang lain akan memperolehnya. Tetap semangat menggapai cita. Jadilah pemuda tangguh yang luar biasa!

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==