Generasi Hilang Arah ‘Tanda Akidah Sudah Goyah’

Afi Nihaya



Oleh: 
Nuryani 
Mahasiswa FEB, Universitas Negeri Jember


Mahasiswa News | Boming, terkenal, menjadi sorotan, kritis dan seabrek sebutan lainnya untuk remaja muda belia Afi Nihaya siswa SMA yang berasal dari banyuwangi.

Nama Afi mendadak terkenal melalui sebuah status fenomenal di akun facebooknya denga judul “warisan”. Beberapa saat setelah dipublikasikan, tulisan tersebut mendapat tanggapan dari nitizen.

Tak sedikit yang memuji tulisan Afi, namun banyak juga yang berkometar meyayangkan remaja kritis ini harus membuat tulisan yang dirasa sebagai tulisan pluralisme yang kebablasan. Sebenarnya jika kita melihat akun facebook dari Afi, maka tulisan lain juga tak jauh beda dengan tulisan warisan.

Tulisan- tulisan tersebut sebenarnya lahir dari buah pemikiran kritis yang diekspresikan dengan sangat apik, Namun sayang, itu adalah ekspresi yang berlebihan, dan masih butuh banyak bimbingan sebab tak semua kejadian bisa dilogikakan oleh akal manusia. Termasuk urusan memilih agama.

Remaja pintar dan kritis di negeri ini sungguh banyak, tak hanya Afi seorang. Lagi-lagi harus di sayangkan mereka pintar mendebat perkara yang dalam agama, terutama Islam.

Sudah jelas hukumnya, namun karena kekaburan pemahaman tentang Islam membuat mereka melakukan tindakan yang sebenarnya tidak perlu.

Berbagai gugatan terhadap Syariah Islam di negeri ini menujukkan adanya pemahaman plurarisme yang kebablasan pada generasi. Pluralisme adalah sebuah pemikiran kritis yang dibanguan atas dasar kebebasan berpendapat.

Pluralisme yang kebablasan ini dengan cepat menyebar ditengah-tengah generasi melalui pendidikan baik formal maupaun non formal.

Dengan berbasis pada pendidikan sekuler membuat jurang pemisah antara agama dan kehidupan semakin besar. Dalam pendidikan tersebut, generasi diajarkan bagaimana cara untuk bertahan hidup, mulai dari menanamkan softskill maupun hardskil yang dibutuhkan dunia kerja. Bukan untuk memaknai kehidupan.

Hingga generasi menjadi hilang arah saat menentukan langkah. Generasi saat inipun kehilangan identitas dan kehilangan jati diri. Sebab yang di terima tak sama dengan apa yang di berikan oleh kenyataan.

Tulisan Afi adalah contoh kongkrit yang bisa kita jadikan sebagai bahan berpikir bersama, untuk langkah kedepan. apa yang harus di ajarkan pada anak-anak sejak dini agar tidak keliru dalam memandang masalah, terlebih untuk perkara akidah.

Generasi hari ini tidak menemukan hal yang berbeda antara muslim dengan non muslim di lingkungan pendidikannya, mereka memiliki kesamaan, sama-sama suka nyotek ketika ujian, sama-sama melakukan aktivitas pacaran dan banyak lagi kesamaan yang ditemukan oleh generasi masa kini. sehingga muncul pemikiran yang keliru yang mengangap semua agama sama saja.

Media secara tumpah tidih memberikan informasi yang membuat generasi bingung dengan informasi yang mereka terima, disatu sisi media memberikan edukasi yang benar mengenai Syariah Islam, tapi tak jarang memberikan informasi yang salah mengenai Islam.

Sehingga dengan mudah virus liberalisme, pluralisme yang kebablasan ini merasuk kedalam pemikiran generasi. Adanya sekelompok masyarakat yang memberikan contoh yang tidak baik mengenai identitas diri semakin membuat generasi kabur atas keyakinan mereka.

Masyarakat A mengatakan agama itu sama saja, semuanya benar. Lalu masyarakat yang lain mengatakan hanya Islam yang benar, sehingga memunculkan dualisme pemikiran.

Hal tersebut jika tidak di tanggapi dengan bijak akan merusak pemikiran generasi. Generasi akan buta terhadap kebenaran yang telah jelas dan nyata, namun karena pengaruh luar yang sesuai dengan fakta membuat mereka berubah haluan. Sehingga pembinaan terhadap generasi muda sangat penting.

Sebab masa remaja adalah masa menuju dewasa yang merupakan ajang untuk mencari sebuah idealisme, dan juga pemantapan keyakinan dan masa ini sangat rentan terkena dengan virus-virus jahat yang merusak akidah.

Perkara akidah adalah hal yang paling mendasar dalam kehidupan manusia. Sehingga kemurnian akidah akan menentukan kemantapan iman.

Islam adalah agama yang cukup terbuka. Dalam memeluk agama Islam seseorang tidak dibenarkan hanya menerima saja, sebab iman yang lahir dari proses penerimaan saja, akan membuat orang tersebut tidak akan memiliki iman yang mantap karena ia hanya menerima.

Maka perlu berpikir lagi, jika sudah terlahir sebagai muslim dari keluarga muslim, bersyukurlah kemudian bangun pertanyaan dalam diri. “kenapa aku harus berislam”.

Jawaban dari pertanyaan ini akan mendorong dirinya untuk mempelajari Islam. Dari proses tersebut dia akan mengetahui perbedaan Islam dengan yang lain.

Orang yang telah mengetahui perbedaan Islam dengan agama yang lain akan menunjukkan pembelaan yang luarbiasa kepada Islam, sebab dia telah memahami dengan jelas apa itu Islam.

Dan proses ini tidaklah sebentar, membutuhkan pengkajian berkelajutan. Karena Islam memiliki seperangkat aturan yang sempurna.

Para sahabat tentu adalah generasi terbaik dalam melihat betapa kuat keimanan dan akidah yang mereka pegang. Dan perlukah kita bertanya, apakah mereka muslim dari sejak lahir atau yang kita sebut dengan muslim warisan? Tentu tidak!

Mereka muslim ketika nabi akhir zaman mengajak mereka untuk meningalkan aktivitas nenek moyang mereka yang menyembah berhala untuk menyembah Allah SWT serta mempercayai Muhammad SAW sebagai utusan Allah.

Mereka bukan muslim dari lahir, mereka menerima Islam bukan karena warisan. tapi karena proses berpikir. Proses berpikir yang melibatkan pengindraan tentang alam semesta, manusia , dan kehidupan serta alam sebelum dan sesudah kehidupan.

Insya Allah tidak ada lagi yang mempuyai pemikiran bahwa agama hanyalah warisan. Sebab pemikiran itu akan mampu membuat akal kita terpuaskan, kita akan kembali kepada fitrah sebagai manusia, dan tentunya dari jawaban tersebut hati yang meragu akan ditentramkan.

Memang benar menjadi muslim hari ini seolah-olah adalah karena warisan. berislam hanya di KTP saja. Islam di gunakan pada waktu-waktu tertentu saja. praktek mengenai hukum-hukum islam hampir tidak ada.

Sehingga wajar jika generasi menjadi phobia dengan hukum Islam. Maka edukasi melalui pendidikan tentang bagaimana agama adalah pedoman dalam kehidupan harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan dasar akan diajari perkara akidah, Karena akidahlah yang menentukan pandangan hidup seseorang.

Selain itu media harus obyektif dalam memberitakan sesuatu, jangan sampai memberikan edukasi yang timpang terhadap masyarakat, utamanya generasi. Media harus mendukung pembangunan karakter yang cerdas dan bijaksana.

Program dan juga pemberitaan yang disajikan harus memacu prestasi, baik dibidang akademik maupun non akademik, jangan sampai ikut mengkaburkan sesuatu yang sudah jelas. Seperti Islam adalah agama yang rahmat tapi karena tindakan beberapa oknum menjadikan citra Islam memburuk.

Maka peran negara harus hadir memberikan batasan apa yang harus di konsumsi oleh generasi, agar jangan sampai ada yang merusak keyakinan yang benar yang telah mereka miliki. Negara harus hadir melalui kurikulum dan juga pengaturan mengenai pemberitaan media.
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==