Teliti Vaksin Tuberkolosis, Satria Terbang ke-26 Negara

Dok. Pribadi


Mahasiswa News | Meneliti vaksin tuberkolosis membuat Satria Arief Wibowo, alumnus S-1 Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga (Unair), harus menjalin relasi dengan peneliti dari negara lain.

Kegiatan penelitian tersebut melibatkan sejumlah mahasiswa program pendidikan dokter spesialis anak dan mahasiswa kedokteran. Satria menjadi peneliti termuda satu-satunya dari Asia Tenggara.

Bahkan, ia telah berkeliling ke-26 negara di Eropa dan Afrika untuk penelitian, melakukan presentasi hasil riset di sejumlah kongres dan menjalin relasi dengan peneliti lainnya.

Hasil riset yang pernah dipresentasikan di antaranya adalah “New Approaches to Vaccines for Tropical Diseases” dalam kongres Keystone Symposia di Afrika Selatan yang didanai Bill and Melinda Gates Foundation pada Mei 2016.

Dalam kongres yang dihadiri delegasi dari 50 negara tersebut, Satria menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Selain di Afrika Selatan, ia juga pernah mempresentasikan risetnya di hadapan ratusan peneliti dunia dalam “Congress 47th World Conference of International Union against Tuberculosis” di Liverpool, Inggris Raya, pada Oktober 2016 lalu.

“Saya bersyukur dapat terlibat dalam riset berskala internasional semacam ini. Hal yang dapat saya pelajari di sini adalah dokter sebagai klinisi sebenarnya tidak sebatas berkutat menangani pasien di rumah sakit saja. Dokter sebenarnya punya kesempatan untuk aktif terlibat di dalam aktivitas riset. Tujuannya untuk menghasilkan inovasi pengobatan demi kepentingan pasien,” ungkapnya seperti dilansir dari laman Unair, Rabu (9/5/2017).

Sebelumnya, usai menempuh studi Pendidikan Dokter di Unair, ia sempat menjadi dokter umum pada Maret 2014. Saat itu, usianya baru menginjak 21 tahun.

Alumnus SMPN 1 dan SMAN 5 Surabaya tersebut masuk FK Unair melalui jalur prestasi atau SNMPTN pada tahun 2008. Saat itu, usianya masih 15 tahun. Bisa dibayangkan, saat usianya 15 tahun yang seharusnya masih duduk di kelas I SMA, namun Satria sudah menjadi mahasiswa kedokteran.

Setelah lulus sarjana kedokteran, Satria mencoba meraih beasiswa doktor di London School of Hygiene and Tropical Medicine. Berkat rekomendasi Profesor Tjip S. Van Der Erf, seorang ahli penyakit infeksi, dan setelah melalui proses wawancara melalui Skype dengan pihak London School of Hygiene and Tropical Medicine, Satria akhirnya diterima menjadi mahasiswa doktor dengan beasiswa meskipun belum mempunyai gelar master.

“Saya bersyukur, di usia 24 ini saya telah berkesempatan untuk mengunjungi total 35 negara-negara di dunia ini. Mengunjungi banyak negara-negara di dunia telah membuka mata saya, akan keberagaman sistem nilai, sosial, maupun budaya yang turut berpengaruh dalam sistem pelayanan kesehatan dan kemajuan riset di suatu negara,” ungkap Satria yang pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi FK Unair tahun 2012.
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==