“Hai penerima beasiswa, Lakukan ini saat semangatmu pudar!”



Mahasiswa News | Hal pertama yang terbayang ketika mendengar kata ‘kuliah’ adalah mahasiswa dan kampus. Bisa juga terbayang ‘kuliah subuh’ atau ‘kuliah online’. Namun yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah kuliah versi KBBI yaitu kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan tinggi. Jumlah pelajarnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan tingkat pendidikan lainnya (SD, SMP dan SMA). Alasannya beragam, karena tidak ada biaya, ingin langsung bekerja, fokus membina rumah tangga (menikah) ataupun alasan lain. Yang jelas beruntunglah bagi siapapun yang bisa merasakan bangku kuliah, terlebih yang kuliah dengan support beasiswa.

Kuliah dengan support beasiswa merupakan satu hal yang diidam-idamkan banyak orang. Selain dapat meringankan biaya yang harus dikeluarkan, pun dapat mengangat derajat dihadapan manusia karena menunjukan bahwa diri memiliki kualitas lebih dibandingkan yang lain. Seperti yang terdapat dalam Qur’an surat Al-Mujadalah ayat 11 “Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orag-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Maka sudah sepatutnya para penerima beasiswa memanfaatkan nikmat ini dengan sebaik-baiknya.

Setiap manusia pasti mengalami fluktuasi semangat, terutama mahasiswa. Seperti salah satu guyonan “tingkat tahun kuliah berbanding terbalik dengan semangat belajar dalam kelas” (semoga tidak demikian). Namun fluktuasi semangat itu pasti terjadi. Ada kalanya semangat itu tinggi bahkan sampai rela begadang untuk belajar. Ada kalanya buku-buku tersimpan rapi dan apik karena jarang dibaca. Banyak faktor yang menjadi penyebab fluktuasi semangat ini. Berikut adalah beberapa diantaranya.

Pertama dan yang sering menjadi faktor utama adalah ‘virus merah jambu’. Banyak orang berkata bahwa cinta itu fitrah. Tak ada yang salah dengan perkataan tersebut. Namun faktanya jatuh cinta sebelum menikah adalah ujian. Terutama bagi mahasiswa yang usianya masih tergolong remaja. Masa rawan dimana virus merah jambu itu dengan mudahnya menyerang. Jika tidak kuat iman, akan berakibat fatal dan merusak masa depan.

Kedua yaitu bisnis. Bagi mahasiswa tipe pengusaha pasti bersentuhan dalam dunia bisnis. Di awal-awal biasanya masih bisa membagi waktu belajar atau kuliah dengan berbisnis. Namun tak jarang setelah omset bisnisnya meningkat, akan menyita waktu belajar dan membuat nilai mulai turun. Bisnis merupakan suatu yang baik karena melatih kemandirian. Namun untuk penerima beasiswa, tentunya harus bisa membagi waktu dan minimal mempertahankan IPK yang telah dicapai sebelumnya.

Yang berikutnya yaitu kecanduan game. Inilah yang banyak dialami oleh laki-laki namun tak jarang perempuan pun bisa kecanduan game. Di era modern ini game bisa dilakukan dimana saja, mulai dari PC hingga smartphone. Awalnya hanya sebagai hiburan ditengah tumpukan tugas kuliah. Akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Bahkan banyak yang beralasan bahwa di dalam game banyak pelajaran moral. Ini mungkin benar namun jangan sampai dijadikan pembenaran. Segeralah ingat kewajiban mahasiswa : Belajar!

Selanjutnya yaitu hal yang tidak bisa lepas dari mahasiswa yaitu organisasi. Kuliah tanpa organisasi bagai sayur tanpa garam, hambar. Namun jangan heran, kegiatan positif ini juga merupakan salah satu penyebab turunnya semangat belajar. Kenyamanan dan semangat yang tinggi dalam berorganisasi terkadang mengurangi intensitas waktu belajar. Rapat, event, atau kegiatan lainnya tak jarang mengambil jam kuliah. Ini yang perlu diperhatikan bagi penerima beasiswa. Tidak apa-apa memperbanyak organisasi asalkan dapat membagi waktu dengan sebaik mungkin.

Penyebab terakhir yaitu hobi. Hobi adalah suatu hal yang dilakukan tanpa beban dan tanpa paksaan dari siapapun. Setiap orang memiliki hobi yang berbeda-beda. Karena itu pilihlah hobi yang dapat meningkatkan semangat kita dalam kuliah. Tentunya harus hobi yang positif dan tidak mengganggu aktivitas perkuliahan. Dan akan lebih hebat lagi jika hobi itu menjadi sebuah profesi. Seperti sebuah kutipan “Pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia ini adalah hobi yang dibayar”.

Itulah faktor-faktor penyebab fluktuasi semangat yang biasa terjadi di kalangan mahasiswa. Hal-hal yang harus diwaspadai dan sebisa mungkin dihindari. Semua mahasiswa pasti pernah mengalaminya atau mungkin sedang mengalaminya. Beruntunglah bagi mahasiswa yang sedang membaca tulisan ini. Berikut adalah kiat bagaimana menangkal penyebab fluktuasi dan membangkitkan kembali semangat bagi penerima beasiswa.

Kiat-kiat tersebut diantaranya selalu ingat bahwa beasiswa adalah amanah. Baik amanah dari orang tua, amanah dari donatur, bahkan amanah dari masyarakat. Mari kita kupas satu persatu. Pertama yaitu amanah dari orang tua. Betapa bahagianya orang tua ketika anaknya bisa kuliah dengan support beasiswa. 

Tentunya ini akumulasi dari do’a sepertiga malam ibu dan ayah, juga ikhtiar dari penerima beasiswa dan yang utama adalah anugerah dari Allah SWT. Dengan segala tangis haru bahagia dan dukungan dari keluarga, apakah masih mau memelihara semangat yang pudar? Beasiswa bukanlah puncak keberhasilan, tetapi ini adalah bagian kecil yang dapat membahagiakan keluarga, terutama orang tua.

Kedua yaitu amanah dari donatur. Pernahkah suatu waktu terpikirkan mengapa ada manusia yang rela memberi sebagian hartanya untuk beasiswa?. Cobalah bayangkan sedang berada di posisi sebagai seorang donatur. Memberi beasiswa dengan nominal yang lumayan besar. Angka yang fantastis mengingat uang tersebut adalah hasil keringat yang diperas setiap hari. Apakah mau memberikan beasiswa kepada orang yang bermalas-malasan?  Tentu tidak,bukan? Karena itu bagi para penerima beasiswa perbanyaklah bersyukur. Dengan begitu semangat akan pulih kembali.

Ketiga yaitu amanah dari masyarakat. Sadar atau tidak hakikat mahasiswa adalah sosok yang ditunggu kebermanfaatannya bagi masyarakat. Di Indonesia, jumlah penerima beasiswa masih tergolong sedikit dibanding dengan total jumlah mahasiswa. Ini menandakan bahwa ada keistimewaan di dalam diri para penerima beasiswa. Tentunya menjadi sorotan di masyarakat dan keberadaannya dinantikan selepas lulus. Bila tidak bisa mengendalikan diri hanya karena pudarnya semangat, betapa dzolimnya. Diberi fasilitas yang mendukung dan lingkungan kampus yang nyaman, malah disia-siakan. Dan dengan mudahnya mngatakan “Saya tidak cocok kuliah disini, saya cocoknya kuliah disana”. Segeralah beristighfar dan selalu ingat bahwa diluar sana banyak yang ingin mendapat beasiswa tetapi tidak diberi kesempatan. Cobalah berpikir luas. Di posisi sekarang ternyata banyak yang diam-diam mengharapkan kontribusi nyata para penerima beasiswa. Dan mulailah tanyakan apa harapan terbesar mereka?. Dengan begitu semangat pun akan meningkat.

Itulah penyebab dan kiat menghadapi fluktuasi semangat dalam kuliah. Ada celotehan “Kesuksesan tidak hanya didapat lewat jenjang kuliah”. Memang benar, tetapi bagi para mahasiswa terutama penerima beasiswa segeralah buktikan. Bahwa jika orang yang tidak kuliah pun bisa sukses maka yang kuliah bisa jauh lebih sukses. Sekian.


Penulis:

Maesya’bani
Mahasiswi Ekonomi Syariah
STEI SEBI Depok


loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==