Menunggu Sejarah Terulang Kembali

Menunggu Sejarah Terulang Kembali


Oleh:
Bagus Tito Wibisono
(Koordinator Pusat BEM SI 2016)

Mahasiswa News | Hujan di hari valentine sangat syahdu dan membawa jiwa setiap orang sulit meninggalkan tempat tidurnya. Namun berbeda dengan sekelompok orang yang disebut mahasiswa, dimana hari tersebut menggelar aksi di depan istana. Tuntutan mereka sederhana, agar hukum tetap berdiri tegak diatas siapa saja. Ditetapkannya BTP sebagai terdakwa kasus penistaan agama, seharusnya menjadi dasar tegaknya hukum, yaitu UU nomor 23 pasal 83 ayat 1-3. Disana disebutkan bahwa seorang gubernur harus diberhentikan sementara tanpa usulan DPRD apabila sedang dalam proses hukuman dan menjadi terdakwa.

Berdasarkan hal tersebut, presiden bertanggung jawab untuk menunjuk pengganti gubernur Jakarta yang berstatus tersangka, melalui mendagri. Namun sayangnya, sampai saat ini hal tersebut tidak terjadi. Padahal, gubernur Banten dan Sumatera Utara, pada tahun 2013 dan 2016 di non aktifkan karena statusnya sebagai terdakwa. Ketidakadilan sekaligus tindakan inkonstitusional inilah yang menggerakan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia, Wilayah Jabodetabek-Banten, untuk turun ke jalan.

Namun, lagi-lagi saya dikagetkan dengan upaya pemerintah, melalui aparatur negara, yaitu polisi untuk mengkebiri gerakan mahasiswa. Masa aksi yang sudah berkumpu di jalan Merdeka Barat, di bubarkan paksa karena alasan yang tidak logis. Bukan hanya itu, para pimpinan lembaga yaitu Ketua BEM STEI SEBI (Koordinator BEMSI Wilayah Jabodetabek-Banten), Ketua BEM PNJ (Koordinator Media BEMSI) bahkan Ketua dan Wakil Ketua BEM UNJ ditangkap dan di bawa ke polda metro jaya beserta para masa aksi. Bahkan Ketua BEM PNJ, Fikri Azmi, mendapatkan bogem dari polisi. Tindakan represif dari aparatur negara ini sungguh menyayat hati bagi para mahasiswa yang hanya ingin menegakan hukum.

Kondisi bangsa saat ini mengingatkan saya pada sejarah masa lalu Indonesia. Dimana para mahasiswa yang menjadi kontrol sosial justru dibungkam agar memuluskan jalan penguasa. Kondisi-kondisi seperti ini juga, di dalam buku-buku sejarah, menadakan kepanikan rezim atas kecacatan sistem yang diberlakukannya. Hingga ujung dari perjalanan ini tak lain dan tak bukan adalah sebuah reformasi. Di Indonesia ada siklus unik 20 tahunan, yang memberikan perubahan pada setiap zamannya. Dan 20 tahun itu kini sudah berada dalam masanya setelah bergulir di tahun 1998 lalu, ketika rezim otoriter itu tumbang dan mahasiswa jua lah yang menjadi panglima perangnya. Apakah yang akan terjadi pada bangsa kita ? Tentunya sejarah akan berulang dengan waktu, suasana, dan aktor yang berbeda.
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==