Solo, The Spirit of Indonesia (Menanti Gerakan BEM Seluruh Indonesia)

Wildan Wahyu Nugroho, Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia 201 7 (Dok. BEM SI)


Mahasiswa News | Slogan solo, The Spirit of java pertama kali digelorakan pemerintah daerah dikawasan Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten) pada tahun 2007 dengan latar belakang perlunya brand untuk dijadikan sebagai identitas bagi kota Solo. Selain sebagai identitas kota Solo, proses pemberian slogan sebagai brand image kala itu sedang populer dibeberapa kota di Indonesia. Sebut saja seperti kota Jogja dengan slogan Jogja Never Ending Asia, Jakarta dengan Enjoy Jakarta serta Semarang dengan slogan The Beauty of Asia membuat beberapa unsur masyarakat kota Solo merasa perlu untuk membuat sebuah slogan yang bisa membuat kota Solo semakin familiar di local maupun international . Setelah 10 tahun slogan itu disosialisasikan, kini Nampak berhasil membuat Solo berdiri dengan brand image yang terkenal di local maupun international.

Namun Kini kota Solo juga harus mau mengemban slogan baru demi perjuangan untuk membela rakyat Indonesia, slogan itu adalah: Solo, The Spirit of Indonesia. Jika dulu Solo, The Spirit of Java dipilih untuk menggambarkan keterikatan ketujuh wilayah daerah, kedalaman makna akan akar budaya, seni, dan sejarah kota Solo hingga mengklaim bahwa kotanya sebagai “Jiwanya Jawa”. Maka “Solo, The Spirit of Indonesia” adalah amanah perjuangan advokasi kaum papa yang luput ditangani pemerintah, perlawanan menyatakan hitam adalah hitam dan putih adalah putih pada setiap tindakan yang merusak arti kebenaran, dan senantiasa menjadi teman setia (sosial control) pemerintah. Slogan baru untuk Solo ini karena amanah kordinator pusat BEM SI kini di emban oleh Universitas Sebelas Maret (UNS) yang berlokasi di Solo.

Pada Musyawarah BEM SI ke X yang digelar di Universitas Mulawarman, UNS telah terpilih menjadi kordinator pusat BEM SI. Masih teringat ketika teman-teman UNS begitu lantang menyuarakan aspirasi rakyat kala Presiden Joko widodo berkunjung ke kampus UNS. Bahkan kata “Mari pulang pak ke Solo” sebagai ungkapan kekecewaan terhadap kepemimpinan presiden seringkali teman-teman UNS suarakan dengan lantang. Semoga kata yang sama semakin lantang teman-teman ucapkan ketika mengemban amanah korpus BEM SI. 

Pasalnya kini negara Indonesia sedang mengalami masa dimana kebeneran diatur menurut versi rezim berkuasa (otoriter). Hingga Indonesia penuh akan klise yang disembunyikan. Pengangguran yang menyentuh angka 7,03 juta orang , tingkat kelaparan serius di dunia dengan nilai indeks kelaparan Global (Global Hunger Index/GHI) sebesar 21,9%, jumlah penduduk miskin sebanyak 27,76 juta orang, tingkat ketimpangan atau gini ratio 0,396, kasus kekerasan terhadap anak 254 kasus , hingga ancaman Kelangkaan kuota BBM bersubsidi dimana total kebutuhan BBM masyarakat Indonesia pada tahun 2017 diprediksi 80,000,000 Volime (KL) padahal ketika melihat laporan total kuota BBM bersubsidi yang terealisasi hanya 60% dari anggaran 16.688.000 Volime (KL) atau sebesar 6,837,273 (40%) pada tahun 2016 saja berarti ancaman kelangkaan semakin besar.

Belum selesai data diatas dipaparkan, rencana pembangunan  proyek Strategis Indonesia yang meliputi pembangunan 225 proyek fasilitas umum dan 1 program kelistrikan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dimana terdapat sekitar 52 proyek pembangunan Jalan, 19 proyek kereta, 17 proyek Bandar Udara, 13 proyek pelabuhan, 3 proyek perumahan, 7 proyek energi, 3 proyek pertanian/kelautan, 10 proyek pembangunan fasilitas air bersih, 25 proyek kawasan, 3 proyek teknologi, 60 proyek bendungan, 7 proyek PLBN, 6 proyek smelter, dan 1 program kelistrikan. Rawan sekali untuk di korupsi atau penyelenggaraannya tidak efektif, sehingga proses pengawasan menjadi tugas bersama kita sebagai sosial control. Apalagi jika kita melihat alokasi  belanja infrastruktur Indonesia mencapai Rp. 317,1 triliun pada tahun 2016 dan akan meningkat menjadi Rp. 387,3 triliun pada tahun 2017 memberikan kerawanan tersendiri. dimana rencana pembiayaan infrastuktur ini, 31% atau sekitar Rp. 154 triliun akan berasal dari swasta.

Tugas korpus memang terlampau banyak, namun keringat perjuangan harus tetap menetes disetiap langkah perbaikan yang kita lakukan untuk Indonesia. Jalan ini terlampau berliku, penuh cacian dan makian, terlampau panas karena memegang kebenaran ibarat memegang bara api maka itu kebersamaan, komunikasi, dan idealisme yang kuat adalah kunci dari kesuksesan pergerakan ini. Urusan hasil biarkanlah Tuhan sang pemilik negeri ini yang mengaturnya, kita hanya bisa berusaha. Jika terlampau pergerakan ini kita juga yang mengeksekusi maka memang sudah saatnya mosi tidak percaya harus digelorakan. Mari berjuang kawan, kami akan senantiasa ada dalam barisan, mari berjuang bersama. Kita adalah superteam bukan lagi superman.

Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Ir. Soekarno,1967)


Penulis:

Ihsan Munawwar
Presiden BEM KBM STEI SEBI kabinet Inisiator Peradaban
Kordinator Wilayah Bsjb-BEM SI

Rio Martin Ade Putra
Mahasiswa STEI SEBI Jurusan Akutansi Syariah

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==