Kisah Nyata Perjuangan Mahasiswa Unnes: JANGAN TAKUT UNTUK KULIAH !!!

Kunnii Sya’adah


Bismillahirohmanirohim

Termakasih Alloh SWT, terimakasih ibuk tercinta #terimakasihbidikmisi

Tergerak hati saya untuk menulis kisah ini, bukan karena apapun tapi saya rasa ini sebuah keharusan untuk melakukannya, untuk berbagi inspirasi, saya yakin diluar saya banyak sekali adik-adik yang masih galau, karena tidak adil jika saya bisa namun saudara-saudara tidak bisa bahkan tidak tahu. Hanya ingin saya sampaikan bahwa jangan pernah takut kuliah hanya karena tidak punya uang karena selama masih ada keinginan dan keikhlasan berjuang maka InsyaAlloh ada jalan dan dimudahkan. Selamat membaca semoga menginspirasi.

JANGAN TAKUT KULIAH

Kalian tahu rasanya jadi orang yang selalu dipandang sebelah mata hanya karena tak punya uang, hanya karena mereka dan aku berbeda.

Itulah yang sering aku rasakan. Oh ya perkenalkan nama saya Kunnii Sya’adah. Rumah saya di Desa Petangkuran, Ambal, Kebumen. Jarak tempuh sekitar 45 menit ke pusat Kabupaten Kebumen. Tinggal di pesisir membuat saya jarang sekali ke pusat kota kebumen. Aku anak pertama dari 4 bersaudara, ibukku seorang ibu rumah tangga yang nyambi nutuk (Membuat emping melinjo) kadang menjadi buruh disawah. Ayahku dulu penjual tempe tapi sekarang aku tidak tau ayahku pergi kemana, Ayah pergi meninggalkan kami sejak aku kelas 1 SMA sampai sekarang sudah 6 tahun.

Cita-cita saya ingin menjadi guru di Kalimantan. Saya selalu diam ketika Bu guru bertanya pada siswa-siswanya tentang cita-cita  masa depan saya hanya diam, teman-teman menjawab beragam ada yang dokter, ada yang petani, polisi, masinis. Aku? Cita-citaku sederhana saja ingin menjadi guru, tapi bukan di sini tapi di luar jawa sana. Sekilas masa kesil pun menjadi kenangan, Saat itu aku sudah duduk di bangku SMA kelas 3 masa yang membingungkan tentunya antara kuliah dan kerja atau bahkan menikah. Ayahku pernah bilang ingin sekali aku kuliah tapi belum tau bisa membiayaiku atau tidak. Aku lupa kapan kalimat itu disampaikan ayahku yang jelas masa SMA kuhabiskan dengan kebimbangan dan kegalauan antara keinginan kuliah dan bekerja membantu orang tua, hingga saat ini akupun kadang masih berpikir bahwa aku adalah anak pertama yang paling egois di dunia.

Dan malapetaka itu terjadi aku Anak pertama yang sering melihat ibu dan ayah bertengkar, hampir setiap hari, membuat aku tidak betah dirumah, membuatku tidak ingin belajar, membuat aku rasanya ingin memaki mereka yang bertengkar dihadapan aku dan ketiga adikku, sampai akhirnya ayah pergi meninggalkan kami dengan alasan bekerja. Beliau meninggalkan Ibu dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. Aku bahkan sudah lupa rasanya menahan lapar saat ibukku belum punya uang untuk sekedar menanak nasi, jangankan untuk uang jajan unuk makan saja harus pinjam sana sini. Masih terkenang waktu itu adalah saat-saat sangat menyedihkan karena seorang ibu dan keempat anaknya sering menangis menahan lapar dalam keheningan dan dingin malam. Miris saat itu ibu mulai sakit-sakitan, aku terbisa berangkat sekolah dengan hanya membawa uang 2000 rupiah untuk ongkos pulang pergi ke sekolah naik angkot, terbiasa nyenen-kemis untuk menahan lapar saat di sekolah, beruntung ada sahabat yang setia memberi tumpangan saat berangkat (Samirah) Alhamdulillah. Saat itu semua keinginan kuliah sudah luntur melihat adik-adikku merengek minta jajan saja rasanya sakit apalagi mengutarakan keinginan kuliah sepertinya itu tidak realistis, aku diam.

Cobaan itu datang bertubi-tubi. Setengah tahun berlalu ayahku pergi tanpa kabar, saat itu pengambilan raport kelas 1 semester 2. Ibukku berangkat ke sekolah untuk mengambil raport membawa adikku yang masih kecil belum bisa berjalan, naik angkot dan menangis karena kepanasan dengan bermodal bismillah dan berharap keringan dari sekolah ibuku menghadap wali kelas kemudian disuruh menghadap bagian administrasi dan muter-muter untuk membuat surat keringanan agar raportku bisa diambil, namun nihil usaha itu sia-sia raportku tidak boleh diambil dan hanya diperlihatkan nilaiku. Aku dan Ibu pulang di angkot aku menahan menangis, sampai rumah aku menangis sejadi-jadinya, mengumpat tuhan Saat itu aku merasa bahwa ini cobaan terberat, pertama kalinya aku berpikr bahwa Alloh tidak adil, Alloh Jahat intinya saat itu aku sangat marah dan aku tak mau berbicara pada siapapun.untuk kesekian kalinya aku memilih diam.

Aku mulai terbiasa hidup dalam keterbatasan, kami terbiasa nrimo dengan semua yang Alloh berikan. Adik pertamaku saat itu sudah masuk SMP dengan dibantu biaya oleh paklik, dan sebagai kewajiban kini adiku punya tugas baru yaitu membersihkan kandang sapi milik paklik sepulang sekolah selama SMP, akupun banyak mendapat bantuan dari SMA saat itu aku sudah tidak sedih lagi kalau raportku tidak boleh diambil, bagiku itu hal biasa namun ibuku tetap datang kesekolah memenuhi tanggungjawabnya.

Terkenang saat itu sudah memasuki kelas 3 banyak sekali sosialisasi tentang kuliah dan perguruan tinggi. Karena setiap tahun Alumni SMA selalu melakukan bedah kampus untuk memberi informasi dan sosialisasi tentang seputar PTN dan PTS terbaik di Indonesia, Keinginan yang dulu pernah ada dan sudah terkubur dalam-dalam akhirnya muncul lagi, Bagaimana aku tidak tergoda ada kakak-kakak yang memberi informasi bahwa ada beasiswa dari dikti yang memberikan bantuan gratis kuliah sampai lulus dan juga masih mendapat biaya hidup (Bidikmisi), ada juga yang ada asramanya (Beastudy Etos Dompet Dhuafa). Aku sangat berterimakasih kepada mereka yang masih peduli dan mau berbagi informasi kepada adik-adiknya. Motivasi yang kuat dari kakak-kakak Alumni yang telah berhasil kuliah membuat tekad itu semakin kuat, Aku pernah membaca buku yang isinya kisah-kisah inspiratif dari kakak-kakak etoser yang isinya perjuangan untuk bisa berkuliah, kalau tidak salah ada tulisan mahasiswi UGM yang membuat hatiku bergetar, kata-katanya seperti ini

“Uang mungkin kendala, namun tanpa uang bukan berarti kita terkendala”,

kata-kata ini yang setelah itu aku gunakan untuk meyakinkan ibuku, bahwa orang miskinpun bisa kuliah. Tiap malam aku selalu berdoa dan menyakinkan diri bahwa aku harus kuliah, semangat itu luar biasa seolah reluapkan habis untuk sebuah asa kuliah.

“Kuliah?, apa mamake bisa mbiyayani, wong gaweane ya mung nutuk nggo mangan bae nyenen-kemis masa arep nggo kuliah? Ngana nek arep kuliah kowe nggoleti bapakmu!, dipikir sing temen disit yo tembe dilakoni. Aja mung melu-melu kancane sing anake wong sugih yo”. Kalimat itu justru yang keluar dari ibukku saat aku menyampaikan keinginan berkuliah namun dengan berbagai alasan kujelaskan, berbagai beasiswa aku terangkan, untung ibukku adalah orang tua yang demokratis dan akhirnya setuju dan mendukung keinginanku kuliah dengan syarat mendapat beasiswa bidikmisi. Aku yakin ibukku adalah wanita yang sangat hebat aku bahkan tidak berani membayangkan rasanya jadi beliau yang harus membanting tulang untuk 4 anaknya seorang diri, tanpa seorang ayah yang harusnya bekerja. Terlihat wajah ibukku mulai menua rambutnya harusnya belum memutih untuk orang seusianya namun sejak saat itu rambut ibuk sudah banyak yang memutih. Sebenarnya aku juga tidak tega, tapi aku harus mencoba.

Semester 1 kelas 3 aku lewati dengan baik-baik saja, latian ujian juga sudah terlaksana, saat itu sudah masuk pendaftaran SNMPTN 2013 aku mendaftar bersama teman-teman lainnya dibantu oleh guru BK sekolah kami dengan juga mulai mengisi borang dan persyaratan bidikmisi. Aku mengurus persyaratan bidikmisi sendiri karena tidak mungkin minta bantuan ibu, bolak-balik ke Balaidesa dan kecamatan dengan bersepeda. Pulang sekolah berita aku ingin kuliah sudah menyebar ke seluruh tetangga, dan gempar seorang anak yang tidak punya ayah ingin kuliah, begitulah yang terdengar dari tetanggaku “Haah, anake yu Jeminah ape kuliah, nggaya temen pan mbayar nganggo apa, mangan bae kangelan. Utek kok ya gak go mikir. Jaman siki beasiswa, beasiswa apa? Ndarani biaya kuliah gak larang. Masa bisaha, gak mungkin.” Aku menutup telingan rapat-rapat dan menutup mata pura-pura tidak melihat. Dalam hati aku menutuk diriku sendiri kenapa aku  harus nekat jika itu memang tak mungkin, tapi hatiku yang terkecil terus berkata harus yakin. Cemoohan demi cacian kuabaikan karena begitulah realita hidup jika menajdi orang tak mampu segala apapun tolak ukurnya uang. Tidak hanya tetanggaku yang tidak mendukung aku kuliah bahkan keluarga-keluargaku pun tidak mendukung, Paklik, bulik, Budhe, Pakde semuanya tidak mengizinkan aku kuliah karena mereka tidak percaya dengan apa yang disebut beasiswa bidikmisi. Hanya ada satu yang mendukung yaitu paklik dan bulik yang juga tidak bisa banyak membantu namun mendukung keinginanku kuliah.

 Ujian Nasional berakhir dengan biasa saja tidak ada yang bisa dibanggakan, dan keadaan pun masih sama aku tertekan dengan berbagai cacian, aku berjuang di atas ketidakpercayaan orang-orang, tanpa banyak restu dari keluarga karena mereka menilai aku anak yang tidak tahu diri, harusnya aku sibuk mempersiapkan diri untuk bekerja di pabrik seperti temanku pada umumnya di sini. Namun aku lain aku harus mondar-mandir kesana kemari mengumpulkan informasi dan berkas kuliah. Setiap ada orang yang menghinaku aku selalu diam, hanya dalam hati aku menghumpat, tunggu ya, kalo aku bisa kuliah, kalian pasti diam.

Manusia hanya bisa berencana, namun Allohlah yang menentukan, hari itu pengumuman SNMPTN, dengan harap-harap cemas aku ke warnet sedikit takut juga karena sudah banyak temanku yang melihat pengumuman dan hasilnya tidak lolos, dan benar saat ini aku sama dengan mereka aku tidak lolos, karena teman se SD ku yang paling pintarpun tidak lolos SNMPTN. Aku kecewa namun aku tidak menangis karena memang banyak temanku yang tidak lolos. Aku belum menyerah karena saat itu masih ada seleksi selanjutnya yaitu SNMPTN dengan berstatus sebagai pendaftar beasiswa bidikmisi jadi SBMPTN pun gratis, kembali aku pilih jurusan yang sama dengan SNMPTN yaitu Pendidikan Bahasa Inggris Unnes sebagai pilihan pertama dan setelah itu aku kembali dibingungkan dengan biaya saat seleksi SBMPTN dan tempat menginap dimana karena saat itu ujian SBMPTN 2 hari, aku berbeda sendiri karena teman-temanku rata-rata memilih saintek yang panlok semarang lokasi ujiannya di Unnes, sedangkan aku soshum lokasi ujiannya di Undip. Aku mencari kenalan sana sini sms siapa saja yang kira-kira bisa membantu, akhirnya aku mendapat bantuan dari kakak kelas SMA yang kuliah di Undip, dan diizinkan menginap di Asrama Beastudy Etos Semarang, alhamdulilah. Aku berangkat ke semarang berdua dengan teman SMP ku dengan modal nekat membawa uang hanya mepet dengan kondisi tidak fit, sampai di semarang aku bertemu orang-orang luar biasa yang sangat menginspirasi dan mempetertebal keinginanku kuliah, semalaman aku terus berfikir dan tidak bisa tidur akhirnya aku sakit saat ujian, ujian aku kerjakan sebisaku namun tetap yakin, menahan dua hari sakit di semarang akhirnya kami pulang.

Pengumuman SBMPTN telah tiba, dan sudah bisa diakses sejak dini hari pukul 00.00 waktu itu, aku tidak bisa membuka karena tidak punya HP bagus harus menunggu ke warnet. Gemuruh saat itu rasanya hatiku antara penasaran, takut, berharap menjadi satu, aku pergi ke warnet bersama teman SMP yang bersama tes di undip tadi bersepeda, hatiku rasanya tidak enak dari pagi kabar banyak sekali ada sms alhamdulilah, ada curhatan belum diterima rasanya aku tidak ingin membuka pengumuman itu, namun aku harus, dan bismillah klik-klik aku memejamkan mata dibilik sebelah ada yang mengucap bismillah artinya teman SMP ku diterima, dan aku membuka mata, hancur rasanya hatiku karena yang tertulis adalah kata MAAF ANDA TIDAK LOLOS SELEKSI SBMPTN 2013, aku menahan tangis dan keluar dari bilik menemui temanku yang lolos di Fakultas Teknik Unnes, “Selamat ya rod kataku, dia menjawab terimakasih, kamu harus semangat masih ada UM pokoknya kamu harus kuliah, jawabnya.

Aku pulang dengan hati sangat sedih aku menangis bersama teman dekatku yang saat itu juga belum diterima. Malam itu banyak sekali sms masuk siapa yang diterima dan tidak diterima SBMPTN 2013, hal yang sedikit membuatku senang temanku yang selalu setia memboncengku ke sekolah (Samirah) diterima di Jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNS. Dan juga ada beberapa teman yang diterima di PGSD Kebumen FKIP UNS juga. Ibukku hanya bisa menenangkanku sambil menyuruh bersabar, “Sing sabar mbak, mungkin belum rejeki di unnes kan masih ada jalur seleksi yang lain, Masih semangatkan?” kata ibuku, rasanya aku tak ingin menjawab pertanyaan itu, aku sama sekali tidak punya semangat untuk ikut ujian lagi. Malam itu aku menangis sesenggukan, aku berdoa kepada Alloh jika memang takdirku menjadi mahasiswa mudahkanlah ya Alloh, aamiin.

Hari itu mungkin adalah kegalauan semua anak-anak yang tidak lolos SBMPTN hanya beberapa Seleksi Mandiri yang masih bisa membawa mereka kulian di PTN, yang kuingat tinggal SM-UNY, SPMU UNNES SM-UNSOED dan UMBPTN dari kesekian UM akhirnya temanku memilih berbeda-beda, aku bingung namun akhirnya aku memilih SPMU UNNES saat itu biaya ujiannya 200.000 dan dengan bergaris bawah pendaftar Beasiswa Bidikmisi gratis, dan karena gratis akhirnya untuk ketiga kalinya kulayangkan pendaftaran ke SPMU UNNES, namun ternyata harus tetap membayar 200.000 dan akan dikembalikan pada saat pelaksaan test SPMU UNNES. Aku kembali berjuang untuk ketiga kalinya dan kali ini ujiannya berlokasi di kampus yang selama ini menjadi bidikan saya Unnes.

Aku berangkat bersama 7 teman SMA ku dan aku sudah mencari tumpangan untuk menginap selama SPMU Unnes, kita semua berangkat ke semarang untuk ujian SPMU, selesai ujian kemudian pendaftar yang berstatus pendaftar beasiswa bidikmisi dikumpulkan di auditorium untuk pengembalian biaya pendaftaran SPMU, saat itu lokasi ujian saya di gd E, Fakultas teknik unnes selesai shalat dzuhur di musolla fakultas teknik temanku menemuiku untuk bersama ke auditorium di gd H kami berjalan dari fakultas teknik menuju auditorium untuk pengembalian biaya pendaftaran bagi pendaftar yang berstatus pendaftar bidikmisi.

Cukup melelahkan ternyata berjalan dari fakultas teknik menuju auditorium, sampai di sana kami mengantri untuk pengembalian uang. Aku bersama 3 orang temanku yang juga pendaftar bidikmisi, lama menunggu nama kami dipanggil akhirnya dua temanku sudah dipanggil dan mendapatkan uang pengembalian, sesuatu yang tak terduga terjadi sampai antrian hampir selesai namaku belum dipanggil, setelah itu ada pengumuman silahkan bagi pendaftar yang namanya tidak dipanggil berkumpul di gd BPTIK untuk mengurusnya, akhirnya aku tanya ke petugas yang ada disitu dan benar namaku tidak tercantum, akhirnya aku menemui dua temanku dan memberitahu mereka agar pulang ke kos terlebih dahulu, karena aku ada masalah akhirnya mereka berdua pulang ke kos terlebih dahulu.

Aku muter-muter mencari gd BPTIK dan akhirnya ketemu ternyata di dalam gedung itu sudah banyak sekali pendaftar yang bernasib sama denganku, aku lemas kepalaku pusing karena melihat banyak sekali orang dan mengantri lagi, aku sempat berfikir untuk pulang saja namun aku sudah berjanji kepada ibu bahwa biaya pendaftaran akan dikembalikan, akhirnya aku tetap bertahan dan ikut dalam antrian panjang itu. Pucat sudah wajahku karena belum makan dari pagi dan sudah berdiri lama mengantri akhirnya tiba juga antrianku ternyata nama dalam entri bidikmisi berbeda dengan nama yang ada dalam data ijazahku dan menyebabkan dataku tidak singkron dan uang pendaftaran tidak bisa dikembalikan, begitulah kata petugas BPTIK saat itu. Lemas sudah badanku, gemetar juga perjuangan panjang dari pagi ternyata sia-sia hari itu, aku sudah tidak ingat bagaimana aku bertahan sejak setelah itu. Aku keluar gedung tersebut dengan lesu, ternyata temanku sudah menunggu di luar dan menanyaiku bagaimana, akhirnya kujawab bahwa tidak bisa dikembalikan uangnya, temanku menarik nafas dan hanya bilang yang sabar ya. Awalnya kami berencana untuk pulang hari itu juga namun karena kesorean akhirnya kami menginap satu malam lagi di semarang dan pulang kebumen besok paginya.

Perjalanan dari Semarang-Kebumen terasa sangat singkat karena sepanjang perjalanan, aku sibuk berpikir bagaimana nasibku setelah ini, kalo aku tidak diterima lagi bagaimana?, segala hal berkecamuk saat itu. Beberapa hari di kebumen temanku Dewi memberi kabar bahwa dia diterima SM UNY di jurusan pendidikan IPA, alhamdulillah aku ikut senang, hari-hari setelah itu aku lewati dengan kegalauan.

Alloh tahu mana yang terbaik itu hambanya. Sepertinya hanya kata itu yang mampu kuterima saat itu, hari itu akhirnya datang juga. Aku rasanya tak ingin membuka pengumuman, aku takut gagal lagi aku belum sanggup aku benar-benar takut menghadapi kenyataan yang akan terjadi saat itu, Aku harus menahan pahit yang kurasakan sebelumnya penolakan itu terjadi lagi aku tidak lolos SMPU 2013. Hati ini rasanya sudah tak ingin merasa lagi, rasanya aku ingin mati saja, aku bingung, aku malu, aku takut, aku takut menghadapi kenytaan-kenyataan yang menghampiriku saat itu, mungkin hari itu aku hampir gila. Ibuku tak mampu menahan tangis melihat aku seperti itu, dan aku melakukan hal bodoh saat itu aku pergi dari rumah, aku mengutuk takdir, aku benci kenapa Alloh begitu jahat kepada keluarga kami. Hari itu aku meluapkan segala emosiku di temapat yang jauh, jauh dari rumah, Aku hancur.

Hari itu berlalu dan sepertinya itu adalah hari terburukku, aku benci unnes sekarang, aku sudah mengubur dalam-dalam keinginan untuk berkuliah di semarang, aku tidak akan mencoba lagi. Saking hancurnya harapan dan perasaanku sampai aku lupa bagaimana nasib teman-temanku yang lain, akhirnya yang kutahu dari 7 orang temanku yang diterima hanya 3, Eri dan Eni di PGSD Tegal dan Bibit di jurusan PKN. Ibarat orang sakit aku sudah enggan berobat saat itu, aku adalah anak yang hancur dengan sejuta mimpinya, hanya seorang anak miskin yang tidak tahu diri yang sibuk memikirkan diriku sendiri sampai lupa orang-orang disampingku, saat itu keinginan kuliah sudah memudar, aku menyerah.

Perjuanganku untuk kuliah memang dramatis, bagaimana tidak ingin menyerah sudah beberapa kali aku mencoba dan gagal, rasanya aku tidak ingin meneruskan hidup, tapi orang hebat adalah orang yang bisa bangun dari kehancurannya. Aku akhirnya menemui temanku mbak evi yang juga tidak lolos spmu unnes, dia katanya mau kerja saja tidak mau kuliah, aku juga mendengar temanku puji juga tidak mau keluar rumah karena tidak jadi kuliah, dan satu lagi temanku ero dia sudah mau ke jakarta untuk mencari pekerjaan, mereka semua sudah menyerah dan tak ingin kuliah. Aku marah saat itu, aku tidak habis pikir kenapa Alloh memberikan cobaan itu kepada kami, “Ya Alloh orang tua kami tidak mampu membiayai kami kulaih, dan ini ada kesempatan tetapi kepana Engkau tidak mengizinkan kami?, kenapa apa kurang syukur kami kepada Engkau wahai yang Maha Pengasih dan penyayang?’’. Rasanya aku tidak terima jika mereka tak jadi kuliah mereka bertiga siswa yang pandai tak adil rasanya, dengan semangat yang sudah pupus dengan sedikit harapan entah bisikan dari mana aku mengajak mereka bertiga untuk mendaftar UM Sekolah Vokasi UGM.

Aku adalah anak yang keras kepala, jadi ketika aku menyampaikan keinginanku kepada ibu beliau mengiyakan saja, aku mengajak puji awalnya dia tidak mau tapi terus kubujuk akhirnya dia mau, begitu pula dengan ero dan ,mbak evi dengan berbagai alasan kuajak mereka bertiga akhirnya kita sepakat mendaftar UM SV UGM. Tetangga-tetanggaku semakin senang menghinaku, aku mau sebenarnya tapi satu kesempatan ini aku ambil, aku harap hasilnya berbeda dengan yang sebelumnya namun kali ini aku tidak teralalu berharap dan mencoba iklas. 

Biaya ujian 300.000 aku dapatkan dari pinjaman mba evi dan erowati, akhirnya kami berempat pergi ke jogja untuk ikut ujian masuk sekolah vokasi ugm, kami meninap di tempat kakak tingkat yang sudah aku hubungi, mbak April. Sampai di jogja mbak april mengajak kami jalan-jalan ke ugm, itu adalah pertama kalinya aku jatuh cinta dengan ugm megah sekali pikirku Ya Alloh jika takdirku di sini maka mudahkanlah. Kami berjalan-jalan sambil melihat lokasi ujian besok pagi di kampus terbaik yang sudah mencetak orang-orang penting di negeri ini, termasuk presiden RI tahun ini juga lulusan UGM.

Aku mendaftar jurusan D3 Manajemen dan kearsipan, aku berdoa semoga aku diterima namun aku juga ragu-ragu karena saat itu status kami adalah pendaftar reguler bukan lagi pendaftar bidikmisi jadi jika aku diterima akupun belum tahu akan membayar darimana biaya masuk ugm itu, namun yang penting diterima dulu urusan uang bisa dicari sepertinya begitulan yang sedang kami rasakan saat itu. Ujian sudah selesai kami kerjakan dan kami pamit pulang pada mbak april kami diantar mencari bus kota untuk menuju terminal, anehnya saat itu aku sudah tidak ketakutan rasanya biasa saja atau aku yang sudah putus asa, entahlah.

Sekarang aku sudah tidak memaksa untuk diterima, doaku kepada Alloh semoga kami diberi yang terbaik, hari tu pengumuman ujian masuk ugm aku sudah tidak deg-degan lagi jika tidak dierima aku juga sudah kebal dengan penolakan, jika diterima ya alhamdulillah. Sepertinya Alloh memang tidak meridhoi aku kuliah pada tahun 2013, semua temanku diterima Puji di jurusan D4 Bidan Pendidik, mbak Evi di jurusan rekam medis dan Ero di jurusan Sistem Informasi Geografis (SIG), aku sangat senang karena sahabat-sahabat terbaikku seperjuangan akhirnya bisa diterima saat semangat mereka hampir habis, aku sama sekali belum melihat penumuman sampai akhirnya temanku yang melihatkan pengumuman dan benar aku tidak lolos lagi. Kali ini aku tidak menangis karena dari awal aku sudah iklas dengan apa yang menjadi takdir-Nya, dari keempat orang ini akulah yang terlihat optimis namun sebenranya akulah yang paling pesimis saat ujian itu, aku sedih keran aku tidak diterima namun aku senang sekali karena kalian semua diterima setidaknya aku berhasil memberi semangat pada kalian untuk jangan menyerah, meskipun pada akhirnya akupun yang tak kuasa untuk tidak menyerah selamat ya kawan, doakan tahun depan aku menyusul di ugm kataku pada mereka bertiga.

Hari itu langit terasa berbeda, matahari enggan menampakkan sinarnya sepertinya dia juga terenyum melihat nasibku, bahwa di dunia ada anak sepertiku yang entah bagaimana dia bisa kembali bangkita tau tidak. Tetanggaku yang tadinya banyak yang mengejek sudah diam tertepa angin dan waktu.Ibukku berharap aku tetap sabar dan jangan menyerah, masih banyak jalan lain menuju sukses, tidak hanya kuliah. Bagaikan tunaman yang sudah lama tidak tekena hujan aku melewati hari-hari tanpa semangat. Satu tahun tersa sangat lama dan menjenuhkan.

Masalah baru akhirnya muncul lagi, aku harus bekerja untuk membantu ibu namun bekerja di mana. Ijazahku masih ditahan sekolah karena kami belum mampu melunasi kekurangan biaya sekolah, Pakde dan budhe ku banyak yang memaki-makiku kenapa aku tidak bekerja di pabrik saja mereka tidak pernah tahu bahwa saat itu aku tidak bisa bekerja dipabrik karena ijazahku belum lunas, namun lagi-lagi aku hanya diam karena jika aku bercerita mereka juga tidak membantu dan akan semakin berbicara yang tidak-tidak aku lelah jadi lebih baik aku diam. Setelah beberapa bulan jadi pengangguran dan hanya membantu ibu di rumah akhirnya aku dapat tawaran bealajar menjahit di rumah tetangga, aku pikir bu wiwin lah yang membuat semangtaku kuliah tidak lebur, dalam diam aku selalu berusaha sabar, berdoa dan menyusun kekuatan untuk menguji nasib tahun depan. Sedikit demi sedikit aku belajar menjahit, awalnya hanya membantu packing sampai akhirnya bisa membuat baju, menjahit pekerjaan yang ang mengasikkan tapi membutuhkan ketelatenan. Aku bahkan sempat berpikir untuk iadi penjahit saja uangnya banyak tidak usah kuliah, namun bu wiwin melarangku dan berpesan agar aku tetap semangat kuliah.

Satu tahun itu aku lewati dengan banyak cobaan yang tak bisa dituliskan, satu hal yang kuingat saat itu aku sering ke sawah ngarit (mencari rumput untuk pakan kambing) dan banyak tetangaku yang biang seperti ini “pati-pati lulusan SMA kok gaweane ngarit” aku diam saja. Hasil dari menjahit aku berikan kepada ibu untuk membantu membeli keperluan dan sisanya kusimpan utuk persiapan tahun depan. Di sini satu hal yang aku maknai sangat dalam di saat keluargaku tidak mendukung aku kuliah, sahabat dan teman-temanku selalu memberiku semangat untu kuliah, mereka mendatangiku saat mereka pulang ke rumah, aku bersyukur sekali karena teman-teman sangat peduli kepadaku.

Perjuangan yang tidak mudah pula saat memasuki tahun 2014 aku mulai mendaftar beasiswa lagi mengurus ke sekolah, alhamdulilah guru-guru SMA sangat mendukung aku kuliah dan aku malah disuruh membantu memasukkan data-data SNMPTN selama beberapa hari di SMA. Rencana kuliah tahun ini ibuku sudah ikhlas dan sangat setuju akhirnya aku berdiskusi dengan ibu dan ibuku berpesan agar aku mengambil jurusan PGSD. Saat itu aku menjual HP satu-satunya yang ayah belikan untuk menambahi kekurangan agar bisa menebus ijazah dan alhamdulilah lunas dan ijazahku bisa di bawa pulang. Aku kembali mengumpulkan berkas-berkas bidikmisi kedua kalinya. Aku juga mendaftar beastudi etos dan saat itu alhamdulillah sudah lolos administrasi dan wawancaranya tinggal menunggu pengumuman SBNPTN 2014 jika aku diterima di Universitas dan jurusan yang direkomendasikan maka aku lolos sebagai etoser.

Manusia sudah terlahir membawa takdirnya masing-masing dan sayangnya tadkir itu hanya Alloh yang tau. Aku mendaftar SBMPTN 2014 sekarang aku bingung pilihannya sudah trauma dengan unnes aku membuang jauh-jauh keinginan kuliah di semarang bahkan panlok ujian pun aku memilih yogyakarta, kaena aku juga harus memilih universitas dan jurusan yang direkomendasikan etos akhirnya terpilihlah Ilmu Komunikasi UGM sebagai pilihan pertama, dan yang kedua Ilmu sejarah nah pilihan yang ketiga aku bingung, teringat pesan ibuku untuk mencoba pgsd, ku klik pgsd uns kebumen sebagai pilhan ketiga namun entah kepada akhirnya aku mengantinya dengan Pgsd Unnes Tegal. Selesai mendaftar aku pulang.

Menunggu pengumuman SBMPTN membuatku cemas juga, dan akhirnya hari itu datang saat itu sudah memasuki bulan puasa, aku bersepeda kewarnet milik guru SMP ku Pak Hardi, agak ngeri juga saat itu karena aku bertemu anak-anak yang beberapa tidak lolos sbmptn. Sebelum berangkat tadi ibuku hanya berpesan agar aku ikhlas menerima apapun yang terjadi, aku memasuki bilik warnet dengan perasaan tak karuan akhirnya bismillah aku masukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahirku, klik-klik aku memejamkan mata sampai ada suara, Selamat anda diterima... Pak hardi mengagetkanku akumembuka mata dan benar rasa syukur langsung terucap ketika aku melihat tulisan selamat di monitor namun aku seketika lemas saat membaca dengan saksama tulisan

Selamat anda diterima SBMPTN 2014 di Universitas Negeri semarang jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Tegal). 

Aku bingung aku harus senang apa aku harus sedih, aku sama sekali tidak berniat ke sana, aku tidak tahu tegal itu sebelah mana, aku pulang dengan perasaan tak menentu aku bercerita pada ibu dan ibu sangat senang malam itu menjadi magrib terindah ramadhan tahun ini.

Maka nikmat tuhanmu manakh yang kau dustakan? Sederetan perjuangan panjang yang tidak mudah begitu banyak tantangan dan rintangan, untuk mewujukan sebuah mimpi anak bangsa yaitu kuliah, aku ditrima di unnes dan lolos beasiswa bidikmsi. Menunggu berangkat ke semarang, aku bekerja di warung sate saat lebaran lumayan hasilnya untuk sangu ke sana, Aku mengikuti serangkaian kegitan penerimaan mahasiswa baru di semaramg uang yang aku kumpulkan dari hasil menjahit dan kerja diwarung sate hanya cukup untuk menopang hidupku di semarang.

Dengan cerita panjang ini akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa unnes, ibuku sangat senang tetangga-tetangga yang dulu menghina hanya diam, aku bersyukur akhirnya mimpi itu hampir tercapai, dengan diberi uang Rp 600.000,00 oleh ibukku hasil dari meminjam budheku  aku berangkat ke tegal pamit kepada keluarga diantar menggunakan sepeda oleh ibu sampai tempat angkot di pasar dan kemudian  menunggu bis di kutowinangun. Aku berangkat dengan teman SMA ku eri yang sudah kuliah di tegal di sana aku sudah dicarika kos oleh temanku. Sampai di tegal aku baru sadar jika aku belum membeli apa-apa untuk keperluanku di tegal. Beruntung sekal temanku membayarkan kosku selama 1 semester di tegal dan boleh menyicil untuk pengembaliannya, aku berjanji padanya mengembalikan saat uang bidikmisi cair, namun ternyata living cost bidikmisi cair setelah 5 bulan aku mejadi mahasiwa, jika meningat hal itu rasanya nikmat sekali ujian dari dari Alloh untuk pertama kalinya aku hidup di tanah rantau jauh dari ibu dan adik-adik.

Sekarang aku sudah semester 5 di pgsd tegal unnes, jurusan yang sama sekali tidak aku sanka dan terbesit, namun inilah takdir di sini aku mengenal banyak orang yang baik hati. Sahabat-sahabat yang baik, untuk ayahku andaikan ayah tau aku sudah berhasil mewujudkan pesan ayah agar aku kuliah, untuk ibuku terimakasih telah mempercayai aku untuk mewujudkan mimpi kecil menjadi mahasiwa namun ini bukan akhir perjuangan, masih banyak perjuangan untuk meraih cita-cita nanti.

Kisah ini mungkin sederhana aku bukanlah mahasiwa yang cumlod IP 4 aku hanya seorang anak yang pernah punya sejuta mimpi dan sedih berjalan tertatih meraih mimpi itu, aku yakin ketika kita punya mimpi jangan pernah menyerah berusahalah dan libatkan Tuhan dalam mimpi itu jika itu blm terwujud yakinlah bahwa Alloh akan mengagantinya dengan yang lebih baik, dan untuk kuliah janganlah takut untuk kuliah selama masih ada niat dan usaha serta doa Insyaalloh dimudahkan oleh-Nya.
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==