Mengharukan Lulus SD Jadi Buruh Tani, Sekarang Jadi Rektor UNY

Prof Dr Rochmat Wahab (UNY.ac.id)


Mahasiswa News | Bangkit dari sosok tanpa ibu dan ditinggal ayahnya menikah lagi, Prof Dr Rochmat Wahab MPd MA sejak kecil telah ditempa oleh kehidupan untuk selalu berjuang dalam kondisi yang sulit untuk menggapai cita-cita. Hal inilah yang dicoba untuk direfleksikan Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Ketua Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN/SBMPTN) menjelang akhir masa jabatannya sebagai rektor UNY.

"Siapa mengira saya disini bisa jadi doktor? profesor? rektor lagi? Saya sendiri tidak pernah membayangkan itu. Mengalir saja dengan kondisi saya yang penuh perjuangan," ujarnya.

Terlahir di Jombang, 10 Januari 1957, Rochmat Wahab dibesarkan dalam asuhan nenek dari garis keturunan ayah. Rochmat tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang ibu karena sang ibu sudah tak ada di sisinya. Kasih sayang sang ayah juga jarang dirasakan karena sang Ayah juga telah memiliki istri lagi. "Saya tidak pernah tahu tentang Ibu saya. Tahu-tahu umur satu tahun sudah ngga punya ibu," ujarnya.

Bersama nenek, Rochmat tinggal dalam rumah yang cukup kecil di daerah desa Blimbing, Jombang, Jawa Timur. Rumah tersebut dihuni Rochmat, sang nenek, bersama dengan tiga paman dan bibinya. Setiap hari, masing-masing berbagi tugas rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidup seisi rumah. "Mbah kakung pun sudah ngga ada," ujarnya.

Tahun 1971, Rochmat mulai mengenyam bangku sekolah dasar. SD Karangprabon, Jombang menjadi sekolah yang dienyam Rochmat. Disana Rochmat menjadi siswa yang belajar dengan sungguh-sungguh dan cukup berprestasi.

Saat kelas 6 SD, Rochmat diberi amanah oleh gurunya untuk menjadi ketua kelas dan mendapatkan peringkat dua dalam ujian kelulusannya. Sembari bersekolah di SD, Rochmat juga mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah untuk belajar mengaji di sore harinya.

Masa SD Rochmat diwarnai dengan sifat dirinya yang cukup pendiam dan tidak banyak bermain dengan teman-temannya. Seringkali pada jam istirahat dan ketika jam kosong saat guru berhalangan hadir, Rochmat  menghabiskan waktunya dengan membaca buku dan mengerjakan soal calistung.

Saat dirinya kelas 5 SD, guru SD Rochmat menawarkan kepadanya untuk lompat kelas dan langsung mengikuti ujian kelulusan SD (Ujian Negara). Pada waktu itu, mata pelajaran yang diujikan adalah berhitung, Bahasa Indonesia, dan pengetahuan umum.

Guru SD Rochmat tersebut memiliki keyakinan bahwa Rochmat memiliki kemampuan lebih dan mampu untuk lulus ujian tersebut saat itu juga. Namun Rochmat menolak karena masih ingin mendalami pengetahuan dan mencari pengalaman bersekolah.

Keinginan Rochmat untuk mendalami ilmu itulah yang kemudian difasilitasi oleh sekolah dengan memberikan bimbingan khusus kepadanya dan tiga teman lainnya yang juga memiliki kelebihan di bidang akademis. Mereka dipisahkan dari teman seangkatannya yang lain dan dibina oleh dua guru khusus.

Di pembinaan itu dirinya dibekali pengetahuan dan tugas yang lebih kompleks dari teman-temannya. "Saya ingat betul itu. Dua guru mengajar secara intens dan spesial. Saya tersanjung dan alhamdulillah bisa jadi rangking dua karena bimbingan guru saya itu. Padahal yang tidak lulus ujian pada saat itu ada separuh angkatan lebih," ungkapnya dengan haru.


Selanjutnya>>

Hal  1   2