Ciri-Ciri Pungutan Liar di Kampus

Foto: Jaringan Advokasi Mulawarman


Mahasiswa News | Berbicara soal korupsi, pasti kita langsung berpikir hal-hal negatif dan menilai budaya ini sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Korupsi pula sudah mengerogoti di semua elemen instansi. Instansi pemerintahan, instansi publik, instansi swasta bahkan instansi pendidikan tak luput dari budaya korupsi.

Universitas Mulawarman (Unmul) adalah kampus yang 2 tahun terakhir terus meningkat dari segi BOPTN. Tahun 2015, BOPTN Unmul sebesar 31 Milyar meningkat dari 29 Milyar pada tahun 2014. Tahun ini Unmul mendapatkan dana BOPTN sebesar 33 Milyar. Dengan dana yang jauh dari kata ideal untuk pembangunan dan meningkatkan kualitas, ditengah keterbatasan yang ada Unmul terus berbenah dengan dana dimiliki.

Unmul sejatinya sudah menerapkan kebijakan sistem BLU mulai tahun 2009. Itu artinya boleh mencari pendapatan dari pihak ketiga yang menjadi PNBP serta harus melalui rekening Unmul dan jelas diatur dalam aturan yang dibuat oleh Unmul.

Pada dasarnya Unmul menerapkan kebijakan ini untuk efisiensi dan produktivitas Anggaran. Dan mengelola anggaran secara mandiri melalui pihak ketiga karena dari perspektif BLU boleh melakukan kegiatan bisnis untuk menunjang pendapatan selain dari dana bantuan APBN dan BOPTN dari pemerintah. 

Namun, dalam perjalanannya banyak sekali yang menyalahi aturan dengan melakukan pungutan diluar aturan yang ditetapkan Unmul. Kita biasanya menyebutnya pungli (Pungutan liar).

Budaya pungli sudah terjadi sejak dahulu dan terjadi di kampus Unmul. Biasanya pungli terjadi untuk memudahkan administrasi dalam pengurusan surat menyurat atau dokumen, meminjam gedung, study tour bahkan untuk menunjang nilai kuliah tanpa harus melalui ujian. 

Di Universitas Mulawarman selama bertahun-tahun kerap menjalankan praktek pungli. Barangkali dari kita ada yang sudah terbiasa bertemu pungli. Namun tak sedikit dari kita yang kesal ditarik pungli. Entah karena malas merogoh uang di kantong, tidak punya cukup uang, maupun karena sudah mengetahui aturan yang dibuat. Karena sudah menjadi tradisi dan sudah terbiasa menemukan pungli di kampus.

Kadang kita bergumam dalam hati, “ah cuma Dua ribu aja”. Ya, kalau cuma dua ribu, kalau sekian juta? Ya, kalau cuma dua ribu, kalau dilakukan berkali-kali ?. Tanpa sadar, uang yang kita bayar tidak masuk ke kas Unmul dan tak berarti apa-apa untuk Unmul. Uang tadi masuk ke kantong pribadi-pribadi, yang memanfaatkan birokrasi demi kepentingan pribadi. 

Ciri - ciri Pungutan liar antara lain :

1. Dipungutnya biaya tambahan, di luar yang diatur di standar layanan. 
2. Biasanya tidak ada tanda terima. 
3. Tidak disetor ke negara, dan biasanya dengan dalih untuk operasional. 

Hal termudah mengetahui pungli di kampus tentu saja ketika bertemu jenis pungutan yang tidak disertai tanda terima. Itu sudah jelas sekali. Termudah kedua, adalah pungutan yang tidak ada dasar aturan yang jelas.

Di kampus, kita bisa menemui banyak sekali macam-macam pungutan. Dari sekian pungutan, bisa jadi salah satu diantara adalah yang merasakan ganasnya pungutan liar adalah kita mahasiswa.

Tentu dalam memperangi Korupsi, di tatanan pemerintah mempunyai lembaga KPK. Sedangkan di tatanan Kampus mempunyai lembaga SPI (Satuan Pengendalian Internal) Unmul yang mempunyai wewenang memeriksa, mengaudit dan menindak tegas oknum Pungli di semua fakultas yang ada di Unmul. Tentu dengan melihat laporan mahasiswa dan keganjilan laporan keuangan fakultas yang selalu disetorkan kepada universitas setiap bulan agar SPI bisa menjaga nilai-nilai akuntabilitas dalam hal laporan keuangan sehingga tak ada lagi anggaran yang tak terpakai, membengkak, dan penyerapan anggaran tak maksimal.

Setiap uang yang kita setor ke kampus, haruslah menjadi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Tidak segala hal menjadi PNBP. Artinya, ketika uang yang kita setor tidak masuk sebagai PNBP, pastilah merupakan pungli. Bahkan sekarang jika kita menyetorkan uang harus melalui rekening Unmul bukan lagi rekening pribadi. Dan juga disertai laporan pendapatan universitas pertahun, sehingga publik mengetahui dan mengawasi laporan keuangan.

Uang yang dibayar yang tidak masuk ke PNPB setidaknya ada yang tujuannya baik, misalnya untuk rehabilitas gedung, peningkatan pengurusan administrasi, pengadaan fasilitas dan sebagainya. Akan tetapi persoalannya bukan seputar baik atau buruk tujuan dari pungutannya. Persoalannya adalah seputar pertanggungjawaban alias akuntabilitas dari uang tersebut. Mengelola kampus, tentu berbeda dengan mengelola dompet pribadi. Kampus adalah Badan layanan umum, sehingga setiap pengeluaran sekecil apapun bertanggungjawab kepada publik.

Hari Anti Korupsi mestinya dipromosikan bukan saja untuk membenahi kultur dan struktur pengelolaan urusan publik (governance) tapi juga menanamkan nilai-nilai semangat pengabdian pada kemaslahatan publik. Apabila semangat semacam ini tumbuh menjadi kebiasaan orang Indonesia, kami yakin akan tercipta kultur dan struktur administrasi publik yang baik. Tapi sepanjang etos ini hanya ada di segelintir manusia Indonesia maka kemungkinan besar dia kurang daya melawan arus sistem yang mementingkan hak pribadi. Pejabat melakukan korupsi belum tentu karena niat pribadi tapi karena desakan sistem atau struktur kuasa yang busuk sehingga memperangkap orang yang sebenarnya baik menjadi tidak lagi berdaya atau bahkan tersedot oleh sistem yang ada.

Menanamkan semangat anti korupsi dengan berani untuk jujur adalah langkah jangka panjang  dan harus dilakukan terus menerus. Pembenahan bisa dimulai dari diri kita sendiri. Langkah awal bisa dilakukan di lingkungan terdekat kita : di keluarga, kampus, kelas, komunitas, atau di tempat kerja. Sebarkan virus anti korupsi ini setiap saat tidak harus menunggu Hari Anti Korupsi.

Mari berantas pungli di Kampus Unmul, karena awal dari pungutan liar akan menjadi budaya korupsi yang mementingkan kepentingan pribadi. Dengan keterlibatan aktifmu memerangi pungli, kamu sama saja sudah berusaha menyelamatkan generasi muda dari budaya korupsi. Dan juga tentu saja menyelamatkan uang yang diamanahkan oleh orang tua tercinta, sehingga tidak jatuh di pihak yang salah. Masih banyak pungli berkeliaran di sekitarmu, siapkah kamu memeranginya? Waspadalah !

Untuk hebat, tidaklah perlu untuk membuat hal-hal yang besar yang ribet, cukup jujur dalam hal kebaikan dan kebermanfaatan untuk menghilangkan budaya korupsi. Karena berani jujur itu hebat wal!

Salam,
Freijae Rakasiwi
Koordinator Jaringan Advokasi Mulawarman
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==