Aksi Bela Islam 212 Munculkan Beberapa Anomali, Ini Kata Rektor UMM



Mahasiswa News | Aksi bela islam 3 yang akan diikuti ribuan umat islam pada tanggal 2 desember 2016 memang patut untuk disimak perkembangannya. Banyak pihak yang tergelitik untuk memberikan tanggapan terkait kondisi perpolitikan di Indonesia khususnya Jakarta saat ini. Tak ketinggakan, Rektor UMM Drs.Fauzan juga memberikan pandangannya terkait aksi 212 tersebut.

Fauzan Menilai, aksi 212 itu sendiri merupakan sebuah anomali. Dirinya menilai, rentetan fenomena yang terjadi sebelumnya, yaitu aksi 14 oktober dan 4 november. Fauzan menganalisa, rentang waktu demonstrasi yang tak sampai satu bulan, namun masa aksi yang mengikuti demontsrasi tersebut memiliki jumlah yang sangat besar.

“Terlebih, jika dibandingkan dengan rentetan aksi ini dengan demonstrasi besar yang pernah terjadi di Indonesia, diantaranya Reformasi 1998, Malari 1974 dan Tritura 1966. Ketiga demonstrasi tersebut dipicu faktor Ekonomi, Sesuatu yang tidak terjadi pada aksi 411 dan 212,” Papar Rektor.

REKTOR : MAHASISWA TIDAK LAGI JADI AKTOR UTAMA DEMONSTRASI

Lebih lanjut, Fauzan menilai anomali lain dari aksi 212 adalah tidak terlibatnya mahasiswa sebagai aktor utama gerakan demonstrasi ini. Aksi justru dipimpin oleh beberapa ormas islam dan simpatisan islam lainnya. Sedangkan mahasiswa hanya menjadi partisipan dalam aksi tersebut.

“Sekalipun sejumlah eksponen gerakan mahasiswa mengikuti aksi 411 dan 212 merrka bukanlah aktor melainkan hanya partisipan dan simpatisan saja,” Ungkap Fauzan

Tidak Ada Tendensi Politik Terbuka, Bedakan Aksi Bela Islam Dengan Aksi Reformasi 1998

Selain itu, terdapat ke khasan dalam tuntutan yang di sampaikan para demonstran. Ke khasan tersebut karena tidak adanya tendensi politik yang terbuka, karena massa aksi sendiri mampu mencitrakan aksi yang dilakukan sebagai aksi bela islam melawan penista agama. Berbeda dengan ketiga demonstrasi dengan sekala besar sebelumnya, yang secara terbuka menyerukan perlawanan politik.

Aksi Besar Dalam 2 Terakhir, Refleksi Krisis Kepemimpinan Bangsa

Sekalipun begitu, Fauzan,menilai aksi besar yang terjadi di dua bulan terakhir ini sebagai bukti bahwa telah terjadi krisis kepemimpinan bangsa. Menurutnya, rakyat saat ini lebih mudah diarahkan oleh para pemimpin opini ketimbang pemimpin formal.

“Aksi Bela Islam permu menjadi suatu refleksi bagi pemerintah. Terutama pada persoalan sejauh mana kepercayaan rakyat pada pemimpinnya. Bagi umat Islam, pemimpin itu tak hanya dilihat dadi sisi kemampuan manajerial dan pengambilan kebijakan saja, tetapi juga perilaku dan atitut katanya sebagai teladan masyarakat,” Ungkap Rektor.

Ketiadaan pemimpin sesuai idaman masyarakat tentu saja menimbulkan kekecewaan dalam diri masyarakat itu sendiri. Fauzan menilai, tugas pemerintah kedepan adalah mengelola kekecewaan tersebut dan merubahnya menjadi suatu harapan. (uc)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==