Ulama Itu Pewarisnya Para Nabi

Islam Pena - Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain (HR Bukhari Muslim).

Baca sekali lagi dan renung pikirkan hadits diatas, telisik dan teliti, bagaimana Allah peringatkan kita tentang dicabutnya ilmu, yaitu dengan wafatnya para ulama.

Sebab ulama adalah yang paling besar takutnya pada Allah diantara hamba Allah, sebab itu Allah faqihkan mereka dalam agama, dan Allah titipkan ilmu pada mereka.

Dan dalam Islam, tidak terpisah antara dunia dan akhirat, keduanya mutlak memerlukan ilmu, dan disitulah kita berhajat pada ulama, meminta tunjuk mereka atas hidup kita.

Rasul mewariskan agama pada sahabatnya, lalu pada tabiin dan lanjut ke tabiut tabiin, lalu pada para ulama, salaf dan mutaakhirin, begitu agama ini terjaga.

Maka ulama itulah yang membimbing kita, sebab takutnya mereka pada Allah, dan kerasnya usaha mereka memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang mungkin tak kita lakukan.




Kitalah yang berhajat pada ulama, agar hidup kita sesuai tuntunan wahyu bukan nafsu, agar hidup kita selalu bahagia bukan sengsara, agar kita sesuai syariat Allah.

Bisa jadi apa yang ulama sampaikan tidak kita sukai, tapi itulah beda antara yang berilmu dan yang tak berilmu, dan disitulah diuji ketaatan dan berserah kita pada Allah.

Tapi saat ini kita melihat justru sebagian manusia yang melampaui batas, merasa lebih tahu dari ulama, menyalahkan ulama sebab keputusan ulama tak sesuai nafsu mereka.

Mereka menggariskan batas lagi-lagi sesuai nafsu, mencap ulama ini moderat sementara yang lain ekstrim, ukurannya hanya kepentingan politik dan kekuasaan.

Ulama yang mengharamkan pemimpin kafir mereka tuduh dengan seribu fitnah, tapi ulama-ulama palsu yang mendukung mereka, mereka sanjung habis-habisan.

Mereka berusaha agar umat menjauh dari ulamanya, agar umat mengikuti hawa nafsu, lalu tidak mempercayai lagi penuntun mereka, ulama-ulama mereka.

Mereka mencari-cari kesalaham, menjatuhkan kehormatannya, mendiskreditkan, mengarang dan berbohong dan membunuh karakter, agar ulama agar tak lagi dipercaya.

Inilah yang Rasulullah peringatkan kepada kita "manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin", sebab tak ada lagi ulama yang didengar, ilmu musnah.

Sekarang di ibukota lebih dari pemimpin jahiliyah, tapi juga kafir. Para pendukung pemimpin jahil dan kafir ini? Pelakunya sama dengan yang menghina para ulama.

Maka cermati siapa kawan siapa lawan, standarnya jelas, yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah. Ikuti ulama, maka insyaAllah kita termasuk bagian dari jalan kebaikan.

Dukungan kami bagi para ulama kami di MUI, semoga Allah karuniakan kekuatan dan kemudahan, serta keistiqamahan dalam memperjuangkan kebenaran.

Dimanakah dukungan kita sahabat sekalian? Pada ulama yang menjaga kehormatan Al-Qur'an dan As-Sunnah, ataukah pada mereka yang tunduk pada hawa nafsu?
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==