Komisaris Tingggi HAM PBB Peringatkan Rusia atas Kejahatan Perang di Suriah

Islampena - Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Zeid Ra’ad memperingatkan Rusia pada hari Selasa (04/10/2016) atas penggunaan senjata pembakar di lingkungan sipil yang terkepung di Aleppo timur, dan mengatakan kejahatan yang dilakukan oleh satu pihak tidak berarti pihak yang lain dibolehkan melakukan tindakan ilegal lainnya, lansir Aljazeera Selasa.

Ratusan warga sipil telah tewas atau terluka dalam serangan udara sejak runtuhnya gencatan senjata dan pengumuman serangan rezim Suriah yang didukung Rusia bulan lalu untuk merebut kembali Aleppo.

Serangan berulang-ulang pada infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit, telah menarik kecaman internasional – dan merupakan kejahatan perang.

Zeid mengatakan bahwa situasi di Aleppo menuntut inisiatif baru yang berani “termasuk usulan untuk membatasi penggunaan hak veto oleh anggota tetap Dewan Keamanan,” yang akan memungkinkan badan PBB untuk merujuk situasi di Suriah ke Mahkamah Pidana Internasional (the International Criminal Court-ICC).





“Rujukan seperti itu akan sangat berarti mengingat impunitas yang merajalela dan sangat mengejutkan yang terlihat dalam konflik dan besarnya kejahatan yang telah dilakukan, beberapa di antaranya kemungkinan memang merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya di sebuah pernyataan.

Rezim Assad dan sekutunya telah melakukan sebuah “pola serangan” terhadap sasaran yang memiliki perlindungan khusus di bawah hukum kemanusiaan internasional, termasuk unit medis, pekerja bantuan dan stasiun pemompa air, katanya.

Menurut Fadela Chaib, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization-WHO), sedikitnya 342 orang, termasuk 106 anak-anak, telah tewas di Aleppo timur antara 23 September hingga 2 Oktober. Sebanyak 1.129 orang, termasuk 261 anak-anak, terluka.

Angka-angka tersebut didasarkan pada laporan dari pusat kesehatan yang masih berfungsi dan jumlah korban sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi, kata Chaib.

“Sampai kemarin, kami hanya memiliki enam rumah sakit yang berfungsi, namun hanya satu rumah sakit yang menawarkan layanan trauma,” kata Chaib lagi.

Sementara itu, televisi rezim Suriah melaporkan pada Selasa bahwa penembakan oleh pejuang-pejuang oposisi menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai 20 lainnya di wilayah yang dikuasai pemerintah rezim Assad di Aleppo.

Sejak pertempuran pertama pecah di sana pada tahun 2012, Aleppo telah dibagi antara pejuang oposisi di timur dan tentara rezim Assad di barat.

Rusia adalah pemain kunci dalam perang Suriah berdasarkan dukungan militer mereka untuk Bashar al-Assad dan perannya sebagai salah satu dari lima kekuatan hak veto di Dewan Keamanan.

Penggunaan senjata sembarangan seperti senjata pembakar di daerah padat penduduk mendapat perhatian yang sangat besar, Zeid mengatakan, menggambarkan situasi tersebut mirip dengan pertempuran Warsawa, Stalingrad dan Dresden selama Perang Dunia Kedua.

“Saya mengingatkan kepada semua pihak tentang Negara Protokol III dari Konvensi Senjata Konvensional Tertentu (the Convention on Certain Conventional Weapons), termasuk Federasi Rusia, bahwa mereka dilarang menggunakan senjata pembakar dalam serangan udara di daerah padat penduduk, dan bahwa penggunaan senjata tersebut oleh pasukan darat sangat dibatasi,” kata Zeid.(DP)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==