FPI: ‘Sampai Warga Garut Tak Membutuhkan Kami Lagi’

Islam Pena - Hari pertama 21 September 2016 relawan FPI terjun ke lokasi banjir bandang Garut dengan berbekal semangat melayani dan membantu umat, terutama korban dampak bencana, kebingungan mengiringi mereka dalam mencari tempat untuk dijadikan posko relawan.

Lobi-lobi pun dilakukan, tepatnya di Kp. Rengganis RW 02 Kel. Paminggir kec. Garut Kota, relawan dipersilahkan membuka posko di sebuah lahan terbuka ukuran 4 x 5 m.

Bantuan berupa pakaian bekas layak pakai dan sembako mulai berdatangan, relawan pun bingung untuk menampung dan mengamankannya ditambah cuaca hujan yang terus turun. Hingga mereka lobi kembali tokoh setempat agar diperkenankan memakai Pos Yandu disamping posko terbuka itu.

Alhamdulillah, sesepuh setempat disana mengizinkan gedung Posyandu yang berukuran 3 x 5 m untuk dipakai gudang penyimpanan sejumlah barang bantuan dan masjid untuk relawan shalat dan istirahat.

Hari demi hari bantuan terus berdatangan, termasuk relawan dari luar garut secara bergantian datang untuk membantu mengevakuasi korban, memberikan pelayanan pengobatan dan membersihkan daerah-daerah beserta bangunan yang penuh dengan lumpur. Membereskan puing reruntuhan rumah warga,  serta pendistribusian bantuan setepat mungkin.





Subhanallah, Posko FPI menjadi salah satu posko yang dipercaya oleh para dermawan. Terbukti, baik pribadi ataupun kelompok, hingga perusahaan menitipkan sumbangannya ke posko FPI untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Sampai bangunan yang dipakai posko penuh sesak dengan barang titipan, walaupun tiap hari tak kurang dari seribu paket disalurkan ke tiap lokasi banjir. Masyaallah.

Tiba dihari ke-7, Rabu 28 September 2016, dengan alasan bangunan Posyandu yang dipakai posko relawan FPI akan dipakai kegiatan, begitu pula masjid yang biasa dipakai relawan untuk shalat dan beristirahat akan dipakai pengajian. Dengan berat hati sesepuh setempat memberi himbauan kepada relawan agar segera mencari tempat lain untuk dijadikan posko sampai batas hari Jum’at. Tempat dan masjid tersebut harus dikosongkan.

Hari Jum’at tiba, para relawan harus angkat kaki dari tempat itu, mereka pamit dan memberikan sejumlah uang kepada sesepuh kampung sebagai penggati listrik dan PDAM yang dipakai relawan selama seminggu, dengan senang hati sesepuh pun menerimanya.

Sabar, itulah bekal mereka para relawan menghadapi keadaan pahit ini. Dengan patungan uang dari sejumlah relawan yang masih bertahan, layaknya pengungsi mereka mencari rumah atau apa saja yang dapat dijadikan posko tempat penyimpanan berbagai macam bantuan dan tempat berlindung para relawan dari guyuran hujan dan dinginnya cuaca.

Singkat cerita mereka mendapati sebuah rumah yang kecil dengan harga sewa 2,5 juta/bulan dan transaksi pun dilakukan. Tapi, disaat mereka tengah bertransaksi sewa rumah, tiba-tiba datanglah seseorang menghampiri relawan dan bertanya: “Sedang apa tuan tuan berkumpul disini?”

Wakil relawan pun menjawab: “Kami sedang mencari kontrakan untuk posko relawan”

Ia pun kembali bertanya: “Bukankah Posko FPI disana” sambil menunjukan ke kampung sebelah dimana posko FPI bernah berdiri,

Wakil relawan menjawab: “Benar pak Haji, tadinya kami disana, tapi kami harus pindah karena bangunan Posyandu dan masjid yang kami pakai posko akan dipakai kegiatan oleh sesepuh disana,”

Terlihat ungkapan sedih pada wajah Pak Haji dan tanpa pikir panjang “Sudah jangan sewa rumah disini, saya punya ruko cukup besar, gudang dan mesjid di dalamnya, mari tak usah sewa”

Wakil relawan: “Kami malu Pak Haji, kami bukan hanya sehari dua hari membuka posko, tapi sampai warga tidak membutuhkan kami lagi,” ungkap relawan

Pak Haji dengan yakin menegaskan: “Tak usah khawatir mau sebulan, dua bulan, tiga bulan pun selagi dibutuhkan, silahkan pakai,” imbuh Pak Haji

Subhanallah Walhamdulillah walaa Ilaha illallah Allahu Akbar… Allahu Akbar…  Allahu Akbar…. begitulah ungkapan hati para relawan yang hanya bisa di ungkapkan dengan deraian airmata, berbaurlah perasaan tidak karuan antara senang dan sedih saat itu. Sujud syukur pun dilakukan atas rahmat dan pertolongn Allah SWT melalui hambanya yang baik itu.

Saat ini para Relawan FPI menempati ruko yang bukan hanya cukup untuk menyimpan barang, didalamnya terdapat sebuah mesjid besar untuk relawan shalat berjama’ah, serta tempat untuk beristirahat yang baik, untuk memulihkan tenaga mereka dalam berjuang di esok hari.

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya kesabaran adalah amalan yang terpuji dan pelakunya akan selalu terbimbing di atas kebenaran.” (Syarh Shahih Muslim 3/101)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT menjadikan sabar sebagai kuda tunggangan yang tak kenal lelah, pedang yang tak pernah tumpul, prajurit yang pantang menyerah, benteng kokoh yang tak bisa dihancurkan dan ditembus. Sabar merupakan saudara kandung kemenangan. Di mana ada kesabaran, di situ ada kemenangan.” (Uddatush Shabirin, hlm. 4)

Sabar merupakan sebuah kata yang ringan diucapkan, namun sangat bermakna dalam kehidupan. Dengannya, perjalanan hidup seseorang akan selalu terbimbing di atas kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kesabaran itu adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223, dari sahabat Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu)

Kiriman Kang Opan, Koordinator Posko FPI Banjir Bandang Garut
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==