Wah.. Mahasiswa Pedagang Asongan Ini Raih IPK 4,00!

Mahasiswa News | Kabar gembira kali ini datang dari salah satu mahasiswa pedagang keliling atau biasa kita sebut pedagang asongan. Pekerjaan sehari-harinya yaitu sebagai pedagang kacamata di terminal pelabuhan gilimanuk, Banyuwangi. Namun, siapa yang menyangka, jika tahun 2015 lalu, ia merupakan mahasiswa yang meraih IPK tertinggi di Universitas 17 Agustus (Untag) Banyuwangi dengan nilai IPK sempurna, yap ia meraih IPK 4,00.

Sopari, S.H., hingga kini masih menjajakan kacamatanya di kawasan pelabuhan setiap harinya. Berkat kegigihan dan keuletannya inilah yang membawa ia lulus dengan nilai sempurna tersebut.


Hidup Tidak Perlu Gengsi

Di kutip dari Jatim Times, ditemui di sela sela kesibukannya, dia menuturkan aktifitasnya sehari-hari sebagai pedagang asongan. Setelah masa shift selesai, yaitu antara jam 22.00 WIB sampai 03.00 WIB dini hari, ia akan kembali ke kontrakannya di Ketapang yang hanya berukuran 2×3, bergandengan dengan Lanal Banyuwangi.

Ia mengaku tidak pernah merasa gengsi untuk berjualan kaca mata dan sebagai asongan meskipun banyak yang meremehkannya. Hal ini ia lakukan lantaran ia pun harus memenuhi kebutuhan keluarganya dan juga pendidikannya sendiri. Ia merupakan tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal beberapa tahun silam.

“Buat apa malu, toh saya tidak merugikan orang lain. Apa yang saya lakukan halal.” kata Alumni Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus ini kepada media.

Mahasiswa Pedagang Asongan Ini Raih IPK 4,00!


Awalnya Tidak Ada Niatan Kuliah

Memasuki tahun 2008 silam, tahun pertama kali dirinya merantau ke Banyuwangi, tujuannya hanyalah untuk bekerja bukan kuliah. Karena memang kondisi perekonomian orang tuanya yang terbatas saat itu. Namun, dalam hatinya, tujuan mencari pekerjaan tersebut dimaksudkan untuk membiayai mimpinya yang tertunda tersebut, yaitu kuliah.

Namun setelah ia menjalani profesi barunya ini, Ayahandanya meninggal dunia. Hal ini memang membuat dirinya turun tangan menjadi tulang punggung keluarga. Namun, hal ini pula lah yang justru memacu semangat belajar dan bekerjanya sehingga ia bisa menjadi yang terbaik.

“Ya, bagi saya ini adalah ujian, bukan halangan untuk meraih mimpi. Mimpi saya tetap tertanam kuat dalam hati” tuturnya kemudian.
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==