Tenggelamnya Bahtera Pernikahan

Islampena - Mungkin terdapat suatu hal menyakitkan bagi dua pasang­an. Kemudian permasalahan itu berkembang, dan fitnah semakin banyak. Masing-masing pasangan saling berseteru, dan antara keduanya terjadi persengketaan, perpecahan, akhlak yang tidak baik dan masing-masing dari keduanya menentang pasangannya.


Ilustrasi


Jadilah rumah sebagai lautan duka dan kesedih­an. Jika keadaannya sampai demikian, dan masing-masing ke­duanya berketetapan hati untuk berpisah, maka syariat Islam dalam hal ini mengajukan beberapa poin untuk menelusuri masalah tersebut dengan perlahan dan tenang. Allah Swt. berfirman:








“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalehah, ialah yang taat kepada Allah­ lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada oleh kaena Allah telah memelihara (mereka). Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz-nya, maka nasihatilah me­reka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka ja­nganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Se­sungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika kedua orang juru damai itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Me­ngetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: Al-Nisâ’ [4]: 34-35).

Dua ayat di atas, mengajukan beberapa kaidah yang sa­ngat mendasar ketika terjadi perbedaan dan persengketaan an­tara suami dan istri. Pertama, seorang laki-laki adalah pemimpin atas wanita, karena Allah Swt. memberi laki-laki kekhususan-kekhususan yang mana kekhususan tersebut se­suai dengan fitrah yang membedakan dirinya dengan wanita dalam menafkahkan harta.

Kekhususan yang sesuai fitrah tersebut adalah Allah Swt. memberikan kekhasan bagi laki-laki dalam bentuk akal me­reka lebih mendominasi emosi mereka. Berbeda dengan wanita, emosi mereka lebih mendominasi akalnya. Karena itu, keputusan yang diambil oleh wanita kebanyakan tidak pada tempatnya. Namun ini tidak berarti bahwa laki-laki lebih cerdas dari wanita, karena bisa jadi seorang wanita lebih cerdas dari laki-laki.

Kedua, kepemimpinan laki-laki terhadap wanita tidak ber­arti menzhalimi atau memaksa mereka melakukan se­su­a­tu yang berada di luar kemampuannya. Bukan pula untuk me­ning­gikan diri, menekan mereka atau memandang mereka sebagai kelas dua sementara dirinya kelas pertama.

Ketiga, seorang wanita yang shalehah dan menjaga diri demi suaminya ketika tidak ada, jika suaminya memandang­nya membuatnya senang serta jika suaminya menyuruhnya dia mentaatinya, itu semua akan memungkinkan tertutupnya semua jalan menuju perceraian.

Keempat, syariat Islam mengajak suami untuk memberikan terapi terhadap penyebab robohnya rumah tangga, rusaknya hubungan antara mereka dan tidak meninggalkan masalah hingga menjadi gawat. Jika di rumahnya terdapat televisi dan diketahui bahwa televisi tersebut yang menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga mereka, maka sudah seharusnya dia mencoba untuk mengalihkan seluruh anggota keluarga de­ngan media alternatif. Atau menyaksikan acara yang halal saja, walaupun itu sulit. (Qie)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==