Mengabaikan Al-Qur’an dalam Mengobati Penyakit Hati

Islampena - Ketika kaum Musyrikin sering mencela al-Qur’an, dada Rasulullah Saw. menjadi sempit dan mengadukan prilaku mereka kepada Allah Swt.:

 “….Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS: Al-Furqân [25]: 30).

Kaum Kafir Quraisy mengingkari al-Qur’an, tidak mem-percayai kebenaran kandungannya, mengabaikannya dalam setiap prilaku sehari-hari dan tidak mendengarkan ayat-ayat-nya yang dibaca.

Ilustrasi


Maksud ayat tersebut adalah menghormati pengaduan dan menakut-nakuti umat Beliau, karena jika para Nabi menghadap kepada Allah dan mengadukan sikap kaum Mereka kepada Allah, maka kaum Mereka pasti diadzab.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata, “Ada banyak jenis pengabaian terhadap al-Qur’an; 1) tidak mendengarkannya; 2) tidak mempercayai kandungannya; 3) tidak mengindahkan ketetapannya dan menentangnya; 4) tidak menggunakannya sebagai cara untuk mengobati penyakit-penyakit hati. Semua itu masuk dalam ayat:

 “…Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS: Al-Furqân [25]: 30).

meskipun tingkat jenis pengabaian yang satu lebih ringan dibandingkan lainnya. Kewajiban kita sebagai seorang Muslim adalah mengetahui apa saja yang harus kita lakukan terhadap al-Qur’an, di antaranya, mendengarkannya dengan seksama, mengimani-nya dengan sebenar-benarnya keimanan. 

Menjadikannya sebagai rujukan untuk urusan-urusan dunia dan akhirat. Merenungi dan memahami arti kandungannya. Menjadikannya sebagai wasilah untuk penyembuhan dan keberkahan. Men-jadikannya sebagai obat untuk semua penyakit hati kita. Agar kita tidak menjadi orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang diabaikan.(Qie)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==