Melatih Diri Menahan Nafsu

Islampena - Ketahuilah wahai manusia bahwa jiwa yang ammârah bi al-sû’ (suka menyuruh terhadap keburukan) lebih jahat bagimu daripada Iblis. Syaithan memperkuat dirinya dengan hawa nafsu dan segala hasrat yang ada di dalamnya. Jangan sampai engkau tergoda dengan keinginan-keinginan nafsumu. Salah satu bentuk dan karakter nafsu adalah rasa aman, lalai, kesenang­an, kekosongan waktu dan kemalasan. Apa yang diperintahkan nafsu adalah salah. Semua hal darinya hanyalah semu. Jika eng­kau tunduk dan menuruti perintahnya, maka engkau akan rusak. Jika engkau lalai untuk menundukkannya, maka engkau akan tenggelam. Jika engkau takluk dan tidak mampu bertarung dengannya, dan mengikuti keinginannya, maka ia akan menggiringmu ke neraka. Nafsu tidak mengenal kebaikan. Ia adalah sumber petaka, tambang kemalangan. Ia adalah gudang Iblis dan pabrik segala kejahatan. Tidak ada yang benar-benar mengetahui nafsu kecuali Yang menciptakannya.

Ilustrasi


Sudah selayaknya orang yang berpikir untuk segera bertaubat terhadap dosa-dosa yang telah lampau, berpikir tentang hal yang mendekatkan dirinya (dengan Allah), menyelamatkan dia di akhirat. Tidak memperpanjang angan-angan, tetapi segera bertaubat, berdzikir kepada Allah Swt., menjauhi segala larangan, bersabar, dan tidak mengikuti keinginan hawa nafsunya. Nafsu adalah berhala.

Barang siapa yang menjadi budak nafsu, maka berarti ia menyembah berhala. Dan barang siapa yang menyembah Allah dengan ikhlas, maka dialah yang bisa menguasai nafsunya.

Diceritakan bahwa Malik bin Dinar pernah berjalan-jalan di pasar di kota Bashrah. Ia melihat buah Tin dan ingin membelinya. Ia menanggalkan sandalnya dan memberikannya kepada penjual Tin. “Berikanlah aku buah Tin,” katanya kepada si penjual. Penjual itu berkata kepada Malik. “Ini tidak bernilai apa-apa.” Malik pun berlalu. Kemudian seseorang datang dan berkata kepada penjual itu. “Tidakkah kamu tahu siapa orang itu?” Ia menjawab, “Tidak.” “Dia adalah Malik bin Dinar,” kata orang tersebut. Penjual itu segera menyuruh hamba sahayanya membawa satu nampan berisi buah Tin untuk Malik. Ia berkata, “Jika dia menerima pemberian ini, maka kamu aku bebaskan.” Hamba sahaya itu mengikuti Malik dan berkata, “Terimalah buah Tin ini, tuan.” Malik bin Dinar menolaknya. Hamba itu terus merajuk dan berkata, “Terimalah, karena jika kamu menerimanya aku akan merdeka.” Malik berkata, “Jika kamu merdeka karena itu, maka karena itu pula aku akan disiksa.” Hamba sahaya itu terus memaksa. Tapi Malik bin Dinar berkata, “Aku bersumpah untuk tidak menjual agamaku dengan buah Tin ini, dan aku bersumpah tidak akan makan buah Tin hingga kiamat nanti.”

Nabi Sulaiman bin Daud a.s. berkata, “Orang yang bisa me­nguasai dirinya lebih kuat daripada orang yang bisa menaklukkan se­bu­ah kota.”

Ali bin Abu Thalib, karramallâh wajhah, berkata, “Aku dan nafsuku seperti pengembala kambing. Ketika aku menghalaunya dari satu sisi, ia akan berpencar ke sisi yang lain. Barang siapa yang berhasil membunuh nafsunya, maka ia akan mendapatkan rahmat, akan dikuburkan di bumi karamah. Dan barang siapa yang mematikan hatinya, maka ia akan mendapatkan laknat, dan akan dikuburkan di bumi musibah.”

Yahya Mu’adz al-Razi rahimahullâh berkata, “Semangati dirimu dengan latihan dan ketaatan. Latihan kurang tidur, sedikit bicara, menanggung rasa sakit, dan mengurangi makan. Kurang tidur akan memunculkan kejernihan asa. Sedikit bicara akan menyelamatkan diri dari musibah. Menanggung rasa sakit akan mengantarkan kita kepada puncak tujuan. Sedikit makan akan membunuh syahwat. Banyak makan adalah sumber ke­ras­nya hati, dan penyebab hilangnya cahaya hati. Cahaya hikmah adalah menahan rasa lapar. Kenyang hanya akan menjauhkan diri dari Tuhan.”

Lukman Hakim juga pernah berkata kepada anaknya, “Ja­ngan mem­perbanyak tidur dan makan, karena orang yang mem­per­ba­nyak keduanya akan merugi di akhirat nanti.”

Diceritakan pula dari Yahya bin Zakaria, bahwa suatu ketika ada Iblis yang menampakkan diri di hadapannya. Iblis itu penuh de­ngan rantai di tubuhnya. Yahya bertanya kepada­nya, “Apa ini?” Iblis menjawab, “Ini adalah syahwat-syahwat, dan kesenangan-kesenangan. Aku berburu Bani Adam dengannya.” Yahya berkata, “Apa­kah ka­mu bisa menjeratku dengannya?” Jawab Iblis, “Tidak. Tetapi pada suatu malam ketika kamu kenyang, kami pernah menjadikanmu malas melaksanakan shalat.” Yahya berkata, “Tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah kenyang setelah ini, dana selama­nya.” Maka Iblis pun berkata, “Tidak apa-apa. Aku juga tidak akan lagi menasehati siapa pun setelah ini.” (Qie)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==