Ini Dosa-dosa dalam Perayaan Pertunangan

Islampena - Pertama, laki-laki yang meminang memegang ta­ng­an wanita yang dipinangnya dan memakaikan cincin pertunang­an. Hal tersebut tidak diragukan adalah haram. Bukanlah hak si peminang untuk menyentuh ta­ngan tunangannya, karena perempuan tersebut masih berstatus sebagai orang lain. 

Kedua, di antara kesalahan-kesalahan yang diharamkan juga adalah laki-laki yang meminang memakai cincin dari emas. Padahal, emas diharamkan bagi laki-laki. Rasulullah Saw. bersabda, “Diharamkan menggunakan emas dan sutera bagi laki-laki dari umatku, tapi dihalalkan bagi wanita me­reka.” (HR. Al-Tirmidzi).


Ilustrasi

Ketiga, di antara kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukan juga adalah menggunakan cincin tersebut di jari manis, sehingga me­nye­rupai orang-orang Kristen. Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Keempat, di antara dosa-dosa yang terjadi juga adalah berbaurnya kaum laki-laki dan wanita. Juga tampaknya wa­ni­ta yang tidak berkerudung, bersolek, dan menggunakan parfum. Terkadang, me­reka datang untuk menyanyi dengan lagu-lagu cinta dan asmara. Atau mereka hadir untuk me­na­ri, hingga para pria berkumpul antara menyia-nyiakan harta dengan murka Allah Yang Maha Tinggi. Lâ hawla wa lâ quwwata illâ bi’lLâh.

Kelima, di antara kesalahan yang ada juga, meng­anggap pera­yaan pertunangan sebagai bagian dari mahar atau ganti dari mahar. Padahal, perayaan pernikah­an tidak dapat memajukan, menunda atau menetapkan pernikahan.

Keenam, di antara dosa-dosa yang terjadi setelah peraya­an pertunangan adalah pria yang meminang berkeyakin­an bahwa tunangannya menjadi serba boleh, baik dengan berduaan dengannya, menjabat tangannya, atau berbicara dengannya seakan-akan dia telah menjadi istrinya. Perayaan pernikahan tidak dapat memajukan atau menunda. Demikian juga, laki-laki yang meminang tidak lantas menjadi suami karenanya. Sebagaimana apa yang ada dalam pertunangan saat pe­ra­ya­an, seperti hadiah, sedikit pun tidak ada kaitannya dengan mahar.

Ketujuh, tidak ada satu pun teks yang memerintahkan pembacaan fatihah di tengah-tengah pemakaian cincin. Maka tidak boleh ada keyakinan bahwa hal tersebut ditetapkan oleh syariat atau menilai perkara tersebut dalam konteks ini se­bagai ibadah. Tidak masalah untuk dibaca dengan niat agar Allah Swt. memudahkan pernikahannya. Juga tidak disyaratkan untuk membaca fatihah, tetapi bisa membaca surat apapun. (Qie/IP)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==