Hal-Hal Yang Menyenangkan Suami

Islampena - Berikut hal-hal yang dapat menyenangkan suami. Pertama, kebersihan rumah. Kedua, menghadirkan makanan yang disukainya tepat waktu. Seorang Muslimah harus menjaga diri untuk mempersiapkan makanan di luar waktu shalat.

Bahkan, seharusnya dia menghadirkan makanan sejam sebelum waktu shalat, agar memungkinkan dia untuk mengikuti shalat berjamaah pada barisan pertama. Ketiga, mengenakan pakaian terbaiknya. Khususnya pakaian dan dan warna-warna yang disukai suaminya.

Ilustrasi



Keempat, bersenandung dan bersuara lembut serta tenang. Khususnya ketika bercumbu rayu, bermanja-manja dan melakukan hubungan badan. Kelima, memperlihatkan berita-berita yang baik, pandangan-pandangan yang bagus dan penampilan yang mulia.

Keenam, jika suaminya datang dari suatu perjalanan, istri harus mempersiapkan dirinya dan rumahnya seakan-akan pada malam pernikahan dirinya. Jangan sampai menceritakan perlakuan buruk orang lain kepada suami atau dirinya ketika menyambutnya. Biarkan kabar-kabar yang tidak baik itu lewat hingga menemukan malam yang tepat untuk diceritakan.

Ketujuh, istri juga harus menerima dan rela terhadap rezeki yang diberikan Allah­ Swt. kepadanya. Jangan banyak mengeluh terhadap harta yang diperoleh meskipun anaknya banyak.

Mari kita belajar pada seorang Mukminah yang hidup pada generasi Salaf yang mengatakan kepada suaminya setiap pagi, “Bertakwalah kepada Allah dan jangan memberi kami makanan haram. Kami sanggup atas kelaparan di dunia ini, tapi kami tidak sanggup atas panasnya api neraka.”

Sah-sah saja seorang istri mendorong suaminya untuk menambah belanja bulanannya, tetapi jangan sampai di luar kemampuan suaminya yang berdampak pada kurangnya rasa cinta dan kasih sayang suaminya terhadap anak-anaknya.

Seorang istri hendaknya sangat menjaga untuk tidak mengambil uang milik suaminya tanpa sepengetahuannya. Atau mengumpulkan harta suaminya dengan cara menabung dari uang belanja harian, khususnya jika dia mengambil uang tersebut untuk diberikan kepada keluarganya, ibunya atau ayahnya sendiri. Itu semua haram, dan salah satu dari faktor hancurnya rumah tangga. Kecuali jika suaminya memberinya izin unuk mengambil sesukanya dari harta tersebut.

Jika tidak, maka seorang istri harus memberi tahu suaminya jika bermaksud berhemat dan mau menyimpan sebagian dari uang belanja tersebut. Kecuali jika suaminya pelit, maka dia boleh mengambilnya secukup­nya tanpa izin untuk dirinya dan anak-anaknya dengan cara yang benar. 

Kita teringat kisah istri Abu Sufyan r.a. yang datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah laki-laki yang sangat pelit.” Rasulullah Saw. menjawab, “Ambillah hartanya dengan cara yang benar secukupnya untuk dirimu dan anakmu.” Dengan demikian tidak ada yang terzhalimi, dibohongi atau tertipu. (Qie/IP)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==