Galak Kepada Adik Maba Tapi Takut Birokrat Kampus

Mahasiswa News | Sebenarnya sudah bukan lagi kewenangan saya selaku senior di atas senior-senior aktivis kampus untuk mengomentari senioritas. Sudah saatnya saya beranjak lulus  memikirkan hal luar kampus secara serius; misal memikirkan pengorganisiran fans club yang reaksioneris sebagai massa pembaca artikel saya supaya saya bisa dengan mudah meniti tangga popularitas. Tapi jahanamnya, saya tidak punya fans club. Ow, sungguh kejamnya dunia netizen yang latah berantah ini!

Tak apalah, toh popularitas itu fana belaka. Yang awet adanya ialah penindasan, dalam wujud senioritas sekalipun. Bila musim ospek tiba, pemandangan nyata tersebut lumrah dibuat-buat. Maba seakan kerbau yang sepatutnya dibebani, diatur-atur, disuruh-suruh, diarahkan atasnama pengenalan kampus. Senior yang mewujud jadi panitia ospek merasa dirinya berwenang mendidik adik maba ihwal kelakuan mahasiswa yang baik nan benar. Prek!

Bahkan, di tempat saya bermain tapi belajar, yakni Universitas Negeri Yogyakarta, kerap dipertontonkan sandiwara angker senioritas kepada adik-adik maba. Tentunya, ketika saya masih menjelma maba pun pernah berpura-pura takut kepada kakak-kakak galak yang sengaja dipersiapkan untuk menertibkan adik-adik maba dalam momen ospek.
Ilustrasi



Ciri khasnya, kakak-kakak galak itu ber-dresscode serba hitam, pasang muka tanpa senyum, berlagak kaku (bukan tegas), dan seenaknya mereka membentak tanpa malu-malu walau belum kenal. Mereka memang sekumpulan tim khusus berlagak galak dan membentak-bentak ria. Adik-adik maba yang ketahuan melanggar peraturan, nantinya akan berurusan dengan orang-orang macam mereka. Hukuman pun menanti bagi adik-adik maba pelanggar aturan; lagi-lagi atasnama pengenalan kampus.

“Mana tugasnya?!”, “Kenapa telat?!”, “Cepaaaat, jangan lambat!”, “Kamu dihukum….”, dan lontaran bernada bentak lainnya kerap terdengar berisik tiada arti di telinga adik-adik maba. Mungkin saja, adik-adik maba tahu bahwa kakak-kakak galak itu cuma berpura-pura. Atau juga, adik-adik maba banyak yang maklum bahwa kakak-kakak galak itu butuh pengakuan hormat dari para juniornya setahun sekali. Yaelaaah… kapan lagi coba bisa dihormati para junior kalau tidak pas momen ospek? Karena di hari-hari berikutnya, bisa jadi kakak-kakak galak itu menjelma para penurut di hadapan dosen atau malah merupa kerbau bebal di hadapan bebalnya birokrat kampus. Payah pisan euy….!

Namun sebagai orang yang diakui senior di atas senior-senior aktivis kampus, saya menganggap bahwa mazhab galak yang dianut kakak-kakak panitia tersebut merupakan euforia konyol atau tontonan drama kebodohan yang sepatutnya ditiadakan saja. Galak-galak ria adalah pemaksaan hormat kepada senior. Sepengalaman saya sebagai senior, kehormatan yang diperoleh dari para junior itu datang karena sumbangsih kesabaran para senior dalam membimbing, memberi ilmu bermanfaat, mengorbankan waktu untuk mbribik, apalagi meneladankan sifat berani melawan penindasan dalam kampus dan membela junior cantik  golongan mustadh’afin. Tentunya, ya, seperti saya ini. Bukan saya bermaksud sombong, setidaknya yang saya sampaikan tersebut memang valid. Kalau nggak percaya, tanyakan saja kepada junior-junior saya di kampus.

Berlagak angker menakut-nakuti maba hanyalah pelarian diri dari realita penindasan yang dialami mahasiswa. Sekuat-kuatnya iman, senior juga punya keterbatasan kuasa dalam menghadapi pihak-pihak yang mendominasinya. Ini rentan dialami mahasiswa. Banyak contoh kasus membuktikan ketidakberdayaan mahasiswa seperti: mengkritik dosen tapi takut dapat nilai jelek, memimpin massa berdemo tapi takut di-drop out, menolak biaya kuliah mahal tapi sungkan bersuara, melawan kesewenangan tapi sedih dibenci senior, dan parahnya, ingin selingkuh dengan teman satu kelompok KKN tapi takut dilaporkan pacar kepada rektor, otoritas kecamatan setempat, dan ormas keagamaan. Pahit sekali, bukan?

Kebetulan, ospek digiatkan setahun sekali. Di situ ada ruang untuk memperoleh kehormatan dari para junior—walau memaksa, sekadar mengalihkan diri dari jenuhnya penghormatan kepada pihak dominan di kampus. Senior-senior galak dalam ospek cenderung suka memandang adik-adik maba terlalu polos untuk dibikin takut. Selama ada kesempatan, maka diraihlah kehormatan atas ketakutan adik-adik maba dalam tempo sesingkat-singkatnya ospek. Ibarat kata pepatah brengsek ciptaan saya, “menjadi serigala sepekan, kemudian menjadi kerbau berbulan-bulan”. Pepatah ini memang cocok bagi panitia ospek berlagak galak tapi takut birokrat kampus.

Kalau begitu, saya selaku senior di atas senior-senior hendak unjuk wacana mengenai teori dramaturgi sosial dalam mengkaji peran keangkeran senior-senior panitia ospek. Menilik pemikiran Erving Goffman, si sosiolog, manusia dalam berinteraksi sosial membutuhkan panggung sandiwara agar kesan ideal akan dirinya bisa tersampaikan kepada lawan interaksinya. Untuk mencapai kesan ideal tersebut, manusia selalu mengenakan atribut-atribut bersandiwara ketika sedang memainkan perannya di panggung sosial. Atribut yang dikenakan bisa berupa verbal atau non-verbal, dan sandiwaranya pun harus benar-benar ekspresif supaya meyakinkan. Adapun di balik panggung, sebenarnya manusia sedang menyembunyikan kekurangan-kekurangan pada dirinya sendiri.

Analisa di atas sejalan dengan apa yang dilakukan kakak-kakak galak panitia ospek. Mereka harus memperoleh kesan ideal sebagai senior bahwa mereka adalah orang-orang yang patut dihormati maba (juniornya). Ekspresi kegalakan disertai gerik dan ujaran-ujaran bernada membentak adalah atribut yang meyakinkan. Kegalakan ditontonkan supaya maba terpaksa percaya bahwa dengan menjadi tertib dan patuh adalah potret mahasiswa ideal. Penugasan-penugasan ospek yang harus dipatuhi diseolahkan sebagai simulasi tugas-tugas akademik (bukan intelektual) yang akan di hadapi maba mendatang. Dan, kakak-kakak galak memaksa agar adik-adik maba patuh dan tertib supaya bisa menjadi mahasiswa ideal seperti mereka; senior memaksa jadi teladan. Namun di baliknya, mereka memang benar-benar mahasiswa yang patuh aturan birokrat kampus karena lebih memilih sebagai pecundang supaya selamat karir akademiknya.

Apa, mahasiswa ideal? Matamu njepat, senior…!!!

Menghayati dramaturgi sosial, ospek ibarat panggung bagi senior-senior tertindas. Sesekali mereka ingin terpaksa terhormat. Siapa lagi kalau bukan adik-adik maba sebagai sasarannya. Piciknya, birokrat-birokrat kampus pun mengizinkan praktik penindasan dan kepura-puraan demikian atasnama kedisiplinan akademik. Saling tipu mah sudah biasa.

Yang perlu adik-adik maba sadari, tidak usah takut akan galak-galak ria senior kalian kala ospek berlangsung. Tapi jangan juga tuh senior-senior galak buru-buru kamu skakmat pada agenda akbar penyambutan maba. Tolong, jangan dulu kamu permalukan. Aktingnya benar-benar susah, dik. Jiwa pemberontaknya disimpan dulu ya, dik…. Setelah ospek, kalian bisa ambil sikap menolak tunduk.

Tapi kalau adik-adik maba sudah tidak tahan akan tontonan goblok yang galak-galak itu, yaaah… mau gimana lagi, di–skakmat aja juga gak apa-apa! Kami yang pernah dikejar-kejar aparat siap jadi partner-mu. Mereka mah ingusan, dik, dibentrok dosen saja, nangis-nangis kok.

Akhirnya, saya selaku senior di atas senior-senior, menitip pesan kepada kakak-kakak galak panitia ospek. Ospek nggak perlu yang galak-galak gitu deh, please… Saya bosan lihat yang begituan. Tolonglah berikan saya tontonan yang agak menghibur hati yang bergundah cita ini. Saya bisa menghormati kamu sekalian selaku senior-senior di bawah saya jika bisa menjadikan ospek sebagai wahana menduduki rektorat selama sepekan; pagi-siang-sore-malam tanpa pulang, untuk menagih janji rektor serta kabinetnya dalam menghapus biaya pendidikan mahal dan penjaminan kebebasan hak-hak intelektual kampus. Berani? Atau takut?

Fiyuuuhhh… semoga tontonan berlagak galak kepada adik-adik maba bisa berganti menjadi ajang kegalakan menghadap birokrat kampus. Selama bertahun-tahun, saya berharap demikian. Tapi laknatnya, senior-senior di bawah saya itu gobloknya minta ampun! Dari tahun ke tahun ketika ospek terselenggara, saya sempatkan mampir ke kampus; menikmati kelakuan adik-adik maba yang memang masih perlu dibimbing untuk tahu bahwa menjadi anak kuliahan itu tiada istimewanya samasekali. Terlebih, menghormati kakak-kakak panitia yang galak itu hanya percuma. Di masa mendatang, mereka macam segerombolan pecundang ketika adik-adik maba terbebani biaya kuliah mahal, terhalang mengakses ruang belajar, diremehkan ilmunya, atau menghadapi dosen bebal yang gila hormat. Kegalakan senioritas sama halnya dengan popularitas; yakni fana dan belum tentu seawet kharisma saya. Adik-adik maba harus tahu itu!




Penulis : Taufik Nurhidayat
Sumber
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==