Bolehkah Berwudhu Dengan Mengenakan Kaos Kaki?

Islampena - Mengusap kaus kaki diperbolehkan dalam berwudhu. Hal tersebut telah disepakati oleh para sahabat. Abu Dawud berkata, “Ali bin Abu Thalib, Ibnu Mas’ud, Barra’ bin Azib, Anas bin Malik, Abu Umamah, Sahl bin Sa’ad, dan Amru bin Harits membenarkan hal tersebut. Demikian juga dengan Umar bin Khaththab dan Ibnu Abbas.” Hal itu juga disepakati oleh Ammar, Bilal, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar. 

Ilustrasi


Di dalam Tahdzîb as-Sunan, Ibnu Qayyim menceritakan dari Ibnu Mundzir bahwa Imam Ahmad juga meneguhkan bolehnya mengusap kedua kaus kaki (saat berwudhu). Riwayat ini penting, mengingat keteladanan dan sikap adil sang imam. Para sahabat juga sering menganalogikan persoalan mengusap kedua kaus kaki dengan mengusap khuf karena tidak ada perbedaan yang signifikan antarkeduanya dalam perbincangan hukum. Kebolehan mengusap kedua benda tersebut telah disepakati oleh banyak ulama. Deretan ulama yang membolehkan hal ini antara lain adalah Sufyan ats-Tsauri, Ibnu Mubarak, Atha’, Hasan, dan Said bin Musayyab. Abu Yusud dan Muhammad berkata, “Boleh saja mengusap khuf atau kaus kaki, dengan catatan keduanya agak tebal dan tidak transparan dan menyerap yang diinjaknya.” Abu Hanifah justru tidak membolehkan mengusap kaus kaki yang tebal. Namun akhirnya, tiga atau tujuh hari sebelum meninggal, ia menarik pendapatnya tersebut dan (berwudhu dengan) mengusap kedua kaus kakinya yang tebal pada saat ia sakit. Ia berkata kepada orang-orang yang mengunjunginya, “Aku melakukan apa yang dulu pernah kularang.” Mugirah bin Syu’bah bercerita bahwa Rasulullah Saw. berwudhu dan mengusap kedua kaus kaki dan sandal beliau. Hadits ini ingin menjelaskan persoalan (bolehnya) mengusap kaus kaki. Sementara itu, untuk mengusap kedua sandal beliau, itu hanya sebagai bagian pelengkap dari ulasan tersebut.

Berangkat dari bolehnya mengusap kedua kaus kaki ini, maka mengusap apa pun yang menutupi kedua kaki dianggap boleh, seperti kain penutup kaki saat dingin, pembalut luka, atau lainnya. Ibnu Taimiyah berkata, “Hal yang benar, Rasulullah sebenarnya mengusap kain pembalut, dan itu lebih layak untuk diusap ketimbang kaus kaki atau khuf. Hal itu karena biasanya kain pembalut hanya dipakai sementara, untuk kepentingan tertentu, dan jika kain itu dilepas akan mendatangkan dampak yang negatif. Bisa karena menghindari dingin, menghindari hawa panas yang kering, atau karena luka. Jika mengusap kaus kaki dan khuf diperbolehkan, maka mengusap kain pembalut itu sangatlah boleh. Orang yang tidak membolehkan mengusap kain pembalut kaki, berarti ia belum mengerti betul duduk persoalannya, dan ia tidak bisa melarang hal tersebut hanya berlandaskan pada sepuluh ulama, atau berpijak pada ijmâ’.” Lebih lanjut ia berkata, “Jika seseorang bersikap teliti dalam memahami perkataan Rasulullah Saw., kemudian melakukan analogi yang benar, maka ia akan tahu bahwa terdapat banyak dispensasi (rukhshah) di dalam persoalan ini. Hal tersebut merupakan bukti efektivitas syariat dan nilai-nilai toleransi yang terdapat di dalamnya.”

Orang yang berwudhu juga diperbolehkan mengusap kaus kaki ataupun khuf yang rusak dan sobek, selama itu masih bisa dipakai. Tsauri berkata, “Sepatu-sepatu khuf kaum Muhajirin dan Anshar juga banyak yang sudah rusak dan sobek, seperti khuf yang dipakai oleh orang-orang lain. Andai ada hukum lain dalam hal ini, tentu masalah tersebut sudah dijelaskan.” (Qie)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==