Unjuk Rasa Di Depan Kantor Kementan, Mahasiswa IPB Berhasil Temui Menteri Pertanian

Mahasiswa News | Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa - Keluarga Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (BEM KM IPB) menggelar aksi Tolak Pelemahan Peternak di depan gedung Kementerian Pertanian Republik Indonesia Kamis, (28/7/2016), mendapati tanggapan oleh pihak Kementan.

Baca: Pemerintah Impor Jeroan, Mahasiswa IPB Gelar Aksi Tolak Pelemahan Peternak

Pihak Kementan mengundang perwakilan mahasiswa untuk melakukan audiensi. Audiensi ini diwakili oleh sekitar 20 orang pegawai dari masing-masing Direktorat Jenderal yang ada di Kementerian Pertanian Republik Indonesia. “Kami berharap dapat bertemu langsung dengan Menteri Pertanian, sebab ada kajian dan pertanyaan yang ingin kami sampaikan dan tanyakan langsung pada Pak Menteri”, tegas Danang selaku Presiden Mahasiswa BEM KM IPB. Menjawab permintaan mahasiswa ini, Drh. Agung selaku juru bicara perwakilan Kementan menyampaikan bahwa hasil audiensi yang dilakukan dengan mahasiswa saat itu akan disampaikan langsung kepada Menteri Pertanian.


Unjuk Rasa Di Depan Kantor Kementan, Mahasiswa IPB Berhasil Temui Menteri Pertanian


Diskusi kembali dilanjutkan dengan penyampaian sejumlah pertanyaan dari pihak mahasiswa. Sebelum pihak Kementan memberikan jawaban atas pertanyaan mahasiswa, Amran Sulaiman selaku Menteri Pertanian Republik Indonesia memasuki ruangan untuk turut beraudiensi dengan mahasiswa. “Mendengar ada mahasiswa yang ingin beraudiensi, saya langsung meninggalkan dua agenda untuk dapat bertemu dengan adik-adik mahasiswa” ujar Amran.

Kehadiran Menteri Pertanian dalam audiensi ini tentu disambut baik oleh pihak mahasiswa. Kesempatan langka ini tidak disia-siakan oleh pihak mahasiswa, terbukti dengan banyaknya jumlah pertanyaan yang dilontarkan tim kajian BEM KM IPB kepada Menteri Pertanian.

Diskusi antara pihak mahasiswa dan Menteri Pertanian selama lebih kurang dua jam ini berlangsung cukup interaktif. “Jika harga jeroan mencapai harga di bawah Rp 30.000, pihak Kementerian Pertanian tentu akan menghentikan impor jeroan. Namun permasalahannya saat ini harga jeroan seperti hati mencapai Rp 90.000 di pasaran. Hal ini disebabkan oleh adanya indikasi oknum nakal yang bermain dalam penentuan harga pasar”, ujar Amran menanggapi pertanyaan dari mahasiswa terkait impor jeroan. “Saat ini kementerian pertanian mengimpor 600.000 ekor sapi bakalan ke Indonesia. Impor sapi bakalan ini tentu sudah termasuk dengan jeroan yang terdapat pada sapi tersebut. Lantas mengapa Kementan tetap melakukan impor jeroan (dalam hal ini dibatasi pada hati, jantung, dan paru). Apakah kebutuhan dan permintaan jeroan di Indonesia sangat tinggi, sehingga mengharuskan pemerintah melakukan impor jeroan?” tanya salah seorang mahasiswa kepada Menteri Pertanian.

“Hal ini masih erat kaitannya dengan permainan harga yang di lakukan oleh oknum feedloter seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Jika oknum ini tidak bermain dengan harga jeroan, seperti menjualnya dengan harga yang sangat tinggi bahkan mencapai Rp 90.000 lebih maka tidak perlu impor jeroan. Jeroan ini diimpor agar dapat menurunkan harga jeroan di pasar. Jika anda jadi pemerintah, tentu anda akan lebih memilih harga yang murah untuk rakyat bukan?” papar Amran. “Saya pikir mahasiswa juga perlu melakukan pengawalan terhadap kegiatan feedloter di Indonesia.” Imbuhnya.

Berkenaan dengan sikap mahasiswa menolak revisi UU No.14 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Permentan No. 58 Tahun 2015, Amran menegaskan bahwa peraturan yang dibuat pemerintah seharusnya mempermudah rakyat. Pihaknya akan tetap merevisi aturan-aturan yang dinilai justru menyengsarakan rakyat. Meskipun begitu, Kementerian Pertanian tetap terbuka dengan masukan mahasiswa terhadap aturan-aturan yang dipandang bermasalah. Selain membahas bidang peternakan, pihak mahasiswa juga mempertanyakan aturan yang berkaitan dengan otoritas veteriner. Menurut mahasiswa, otoritas veteriner belum jelas dan masih antara ada dan tiada. Hal ini terbukti dengan tidak jelasnya siapa pejabat otoritas veteriner di tingkat nasional dan di tingkat kementerian. Pihak mahasiswa bahkan juga mengusulkan untuk diadakannya pemisahan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menjadi dua Direktorat Jenderal yang berbeda (red. Direktorat Jenderal Peternakan dan Direktorat Jenderal Kesehatan Hewan). “Menghadapi era pasar bebas seperti saat ini, sangat penting untuk dilakukan penguatan kelembagaan otoritas veteriner”, tegas salah seorang mahasiswa yang menghadiri audiensi.

Menanggapi ide dan pertanyaan mahasiswa ini, Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) mengundang mahasiswa untuk kembali datang dan berdiskusi bersama jajaran Kementerian Pertanian dua minggu pasca audiensi yang dilakukan hari ini (28/7/2016). Amran menegaskan bahwa mahasiswa dapat langsung datang dan berdiskusi dengan pihak kementerian kapanpun, apabila memiliki ide dan keresahan terhadap persoalan pertanian yang ada. Hal ini disambut baik oleh Danang Setiawan selaku Presiden Mahasiswa KM IPB. “Kami berharap agar pihak Kementan dapat menandatangani nota kesepakatan terkait audiensi ini”, ujar Danang. Permintaan Danang ini disanggupi oleh Menteri Pertanian (Amran Sulaiman), mahasiswa BEM KM IPB diminta membawa nota kesepahaman formal dua minggu mendatang ketika melakukan audiensi kembali ke Kementerian Pertanian. Dalam audiensi ini Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) juga memberikan peryataan kepada mahasiswa bahwa jikalau dirinya korupsi meskipun seribu rupiah, maka hari itu juga ia akan berhenti dari jabatan menteri. Menurut Amran, hal ini juga ditegaskannya kepada jajaran pegawai Kementerian Pertanian.

Setelah audiensi selesai dilaksanakan, perwakilan mahasiswa kembali menemui masa aksi yang masih menunggu di halaman Kementerian Pertanian. “Aksi kita hari ini, meskipun dengan jumlah masa aksi yang tidak begitu banyak dapat dikatakan berhasil. Tuhan senantiasa merestui setiap langkah perjuangan kita untuk membela kebaikan”, ujar Danang Setiawan saat memberikan orasi penutup di depan masa aksi. Terakhir, aksi mahasiswa Institut Pertanian Bogor ini pun ditutup dengan menyanyikan lagu totalitas perjuangan. (Danang/MN)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==