Tamunya 'Ulama

Islampena | Suatu hari seorang tamu berkunjung pada Allahuyarham KH. Ahmad 'Umar 'Abdul Mannan, Mangkuyudan. Tamu ini akrab sekali mengajak berbincang, membicarakan berbagai ihwal seakan dia dan tuan rumah sudah kenal lama.



Kyai 'Umar melayani dengan dhiyafah tuan rumah yang jauh lebih ramah lagi, meski hati dan fikirannya terus bertanya dan mencari-cari, "Ini siapa kiranya?" Beliau betul-betul lupa. Tapi beliau merasa, alangkah akan merisikan hati kalau dalam obrolan semesra itu beliau bertanya, "Mohon maaf, panjenengan siapa ya?"

Maka beliau sejenak pamit beringsut dari ruang tamu. Dipanggillah seorang santri. "Ini ada tamu. Tampaknya kok kenal akrab sekali. Tapi aku betul-betul lupa siapa. Coba kamu temui dan ajak kenalan agak keras agar aku dengar dari sini."

Akhlaq 'ulama, indah sekali.

Itu pula yang kami rasakan ketika menziarahi Allahuyahfazhuh KH Miftah Fariedl dalam jaulah silatil arham baru-baru ini. Keakraban yang beliau tunjukkan dalam berbincang, serasa kami adalah anak-anak beliau sendiri.

"Salah satu yang paling sering saya ceramahkan", tutur beliau, "Adalah bahwa investasi jariyah yang paling penting di antaranya adalah anak shalih yang mau mendoakan orangtuanya. Dan ketika sakit serta koma kemarin saya merasakan, bagaimana kehadiran anak saya membisikkan doa di telinga dengan air matanya jatuh membasahi wajah saya, adalah anugrah Allah yang sangat dahsyat."

Kami para da'i diingatkan, jangan hanya terang bagi lingkungan, tapi keluarga kita habis hilang seperti lilin ditelan apinya sendiri. Betapapun sibuknya, doa dan cinta tak pernah boleh dilupa.

Alkisah, Allahuyarham KHA. Wahab Chasbullah sudah sangat sepuh, tapi tamu yang berkunjung tetap beliau layani dengan sabarnya. Bersila sembari bersandar, beliau dengarkan yang bercerita, simak yang curhat, jawab yang bertanya, beri fatwa pada yang meminta, dan doakan yang minta doa. Ketika semua pulang, ada satu pemuda masih duduk sahaja.

"Panjenengan masih ada hajat?", tanya beliau.

"Injih."

"Saking pundi? Tinggalnya di mana?"
"Tambakberas sini."

"Paring asma? Namanya siapa Nak?"

"Adib."

"Bin?"

"Abdul Wahab Chasbullah."

Lalu Gus Adib-pun mendekat sambil merunduk dan tersenyum untuk sungkem pada Ayahandanya itu. Salah satu pendiri Nahdlatoel Oelama itu terkekeh sembari memeluk putranya. Rupanya Sang Gus pulang liburan dari Pondok. Dalam usia setua Mbah Wahab, doa untuk anak takkan dilupa, tapi wajah tak selalu segera terpindai rautnya.


Salim A. Fillah
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==