[OPINI] Tantangan Mahasiswa Perbandingan Agama

Mahasiswa News | Tidak sedikit orang yang mengatakan hal buruk terkait jurusan yang ada di Fakultas ushuluddin, apalagi kalo bukan jurusan yang ngehits di antreo kampus “Perbandingan Agama”, banyak orang mengira ini adalah tempatnya orang yang berpikir Liberal, bahkan mereka berpikir orang-orang sesat terlahir dari jurusan ini. Apakah pernyataan yang telah disebutkan itu benar demikian?

Tapi saya rasa ini hanya pikiran segelintir orang, yang berkata seperti ini hanya kata orang juga, karena orang intelek memandang segala sesuatunya itu berbeda. Tentunya, pandangan mereka itu bukan sekedar pendengaran tapi juga berdasarkan fakta. Meskipun nama jurusan ini Perbandingan Agama tapi bukan berarti satu agama dengan agama lain itu dibanding-bandingkan. Dan di Perbandingan Agama para mahasiswanya diajarkan tentang mengenal agama lain selain islam, bukan membanding-bandingkan, and just study not learn.



memang apa bedanya study dengan learn? Study itu hanya mempelajari bukan berarti di aplikasikan juga dalam kehidupan, sedangkan learn sudah pasti mempelajari untuk diaplikasikan. Jadi meskipun mahasiswa PA belajar Agama Kristen, Budha, ataupun Hindu sekalipun, karena sistemnya study bukan learning, maka Insyaallah tidak akan melenceng dari Agama Islam apalagi membuat agama baru.

Masalah pandangan orang terhadap jurusan ini tidak sampai disitu saja, tapi juga terkait prospek jurusan PA, banyak yang bertanya memang akan jadi apa lulusan PA setelah lulus nanti? Jadi nabi? Apa karena tak ada jurusan lain yang mau menerima kamu? Pandangan miring inipun membuat jurusan PA kurang banyak diminati. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu kerap kali menerpa saya yang berstatus sebagai mahasiswa Perbandingan Agama. Padahal pada nyatanya mahasiswa sendiri yang menentukan dan mengarahkannya tanpa ada keterpaksaan system. Jurusan hanyalah sebagai sebuah sarana tidak lebih dari itu, tapi proses dalam kehidupan kampus itulah yang akan membentuk dan menentukan jati diri dan masa depan kita. 

Selain hal tersebut, faktor terpenting lainnya adalah kesadaran mahasiswa akan budaya membaca dan berpikir kreatif. Aneh memang jika kita, misalkan, dikatakan pintar (dengan indeks IPK) akan tetapi budaya membaca sangat rendah. Akan tetapi sadar dan pintar saja, bagi kita belum sepenuhnya cukup. Dibutuhkan instrument lain seperti kritis, cerdik dan peka terhadap kondisi yang ada. Mungkin jika aspek internal dan eksternal tersebut dioptimalkan dengan baik, saya rasa output mahasiswa Perbandingan Agama akan kembali kepada era kejayaannya, jika dikontekskan dengan perannya dalam masyarakat.

Setidaknya, stigma yang menyatakan jika lulusan Perbandingan Agama masa depannya suram, akan terjawab sendiri dengan munculnya generasi yang memang bisa diandalkan dalam segala bidang. Jika tidak atau belum terpenuhi apa yang diutarakan di atas, jangan harap kita bisa mengulang kejayaan Perbandingan Agama seperti halnya dalam era tokoh terdahulu. Keinginan untuk menciptakan output yang handal, mungkin lebih baik hal itu dijadikan sebuah dongeng. Dongeng pengantar tidur menuju ketidaksadaran pikiran, dan ingatlah gelar itu bukan suatu hal yang digunakan sebagai legitimasi untuk menjadi buruh, kualitas akan mengalahkan segalanya.

Ani Dwi Fitriani
Anggota Himpunan Mahasiswa Banten Jakarta
Mahasiswa Uin Syarif Hidayatullah Jakarta

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==