[OPINI] Prahara Transportasi Online di Ibukota

Mahasiswa News | Semenjak ada layanan transportasi online warga Ibukota banyak yang beralih dari transportasi umum ke transportasi yang berbasis online. Selain mudah diakses maupun murah, warga Ibukota juga bisa memanfaatkan transportasi tersebut kapanpun dan dimanapun yang mereka inginkan. Warga Ibukota juga disuguhkan layanan yang bisa antar barang maupun jasa dengan hanya mengakses aplikasi yang ada dalam gadget mereka tanpa harus capek-capek mencari makanan maupun barang yang mereka inginkan. 

Hal ini juga berdampak bagi warga Ibukota yang memiliki gaji sedikit maupun yang belum memiliki pekerjaan tetap berbondong-bondong untuk menjadi driver dari sebuah layanan transportasi online tersebut. Karena gaji yang lumayan dan tidak terlalu terikat waktu kerja membuat mereka nyaman untuk menjadi driver dari sebuah layanan transportasi online. 

Namun hal itu membuat geram bagi sekelompok kalangan baik ojek pangkalan maupun sopir transportasi umum lainnya. Keberadaan transportasi online ini menghambat dan membuat omset mereka turun drastis. Mereka yang biasanya mendapatkan omset yang lebih dari Rp.100.000/hari kini hanya mendapatkan Rp.60.000/hari. Mereka hanya mendapatkan penumpang yang tak tau maupun tak bisa mengakses layanan transportasi online tersebut.

foto : republika

Bagi driver layanan transportasi online  yang dulu nya mendapatkan omset jutaan per bulan kini omset mereka menurun karena banyaknya masyarakat yang juga tergiur dengan iming-iming gaji jutaan perbulan tersebut dan juga kebijakan perusahaan yang tak manusiawi dalam mematok harga. Hal ini disampaikan salah satu driver layanan transportasi online yang tak mau disebutkan namanya.

Salah satu driver tersebut mengungkapkan “memang tak manusiawi jika perbandingan harga yang diberlakukan oleh pihak layanan transportasi online ini, karena harga yang jauh lebih murah dibanding layanan transportasi lain. Kami juga merasa geram dengan pemberlakuan kebijakan dari pihak perusahaan yang mematok tarif  tersebut. Karena jika kita menarik jarak yang cukup jauh kita masih dipotong 10% dari apa yang kita dapatkan. Katakanlah kita narik jarak yang lumayan jauh kita hanya mendapatkan 30.000 rupiah saja. Ini kan sangat berbanding jauh dengan moda transportasi lainnya.

Bagi para penyedia layanan umum yang tidak berbasis online meminta kepada pemerintahan dalam hal ini, untuk bersikap lebih teliti dan bijaksana, karena mereka terkena pajak trayek dan juga omset mereka menurun. Hal senada disampaikan para driver layanan online yang meminta pihak perusahaan untuk memerhatikan kesejahteraan para driver karena tarif yang murah membuat mereka juga mendapatkan omset yang sedikit. 

Oleh :
Ulul Alfi Kurniawan
Mahasiswa Tafsir Hadits
UIN Syarif Hidayatullah

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==