Karena Tidak Transparan, SNMPTN Sebaiknya Dihapus

Mahasiswa News | Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) memberi kesempatan siswa SMA/sederajat mendaftar ke kampus negeri tanpa ujian tulis. Seleksi dilakukan dengan melihat rekam akademis siswa selama di sekolah, termasuk prestasi kokurikuler.

Seleksi ini dianggap tidak transparan lantaran banyak siswa dengan nilai baik tidak masuk pemeringkatan siswa yang layak mendaftar SNMPTN 2016. Bahkan ribuan orang menandatangani petisi yang mempertanyakan transparansi seleksi pada jalur undangan tersebut.

Rektor Universitas Indonesia (UI) Muhammad Anis menilai, sebaiknya SNMPTN dihapus. Dia lebih memilih ujian tulis karena siswa lebih bebas berkompetisi masuk kampus negeri.

Banyak masyarakat yang mengeluhkan soal transparansi, kata Anis, menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu, seperti dilansir okezone jika kuota SNMPTN 2016 turun menjadi 40 persen, maka tahun depan harus ada pemaksaan kembali kepada Kemristekdikti untuk menurunkan lagi kuota tersebut.

"Saya sih lebih senang dengan ujian tulis daripada undangan. Dari dulu saya sudah teriak-teriak kalau kuota SNMPTN 50 persen itu terlalu tinggi," jelasnya.



Anis menjelaskan, pemerintah menyediakan jalur undangan hanya untuk mengapresiasi siswa yang berprestasi tinggi. Namun dia tetap lebih memilih ujian tulis karena jalur ini menjadikan semua lulusan sekolah menengah untuk bebas berkompetisi.

Di saat yang sama, Anis masih tidak percaya dengan seleksi rapor karena terlalu banyak strategi yang dilakukan sekolah untuk meluluskan siswanya, salah satunya dengan manipulasi nilai. "Oleh karena itu, jika pemerintah masih ingin membuka jalur undangan sebaiknya kuotanya diturunkan hingga 30 persen saja," tandas Anis.

Melalui platform petisi berpengguna 70 juta orang Change.org, pemetisi yang menamakan dirinya Angkatan 2016 meminta pemerintah untuk menyelamatkan calon mahasiswa dari proses seleksi SNMPTN 2016 yang tidak transparan.

Petisi bertajuk "Muhammad Nasir Selamatkan Angkatan 2016 dari Kesalahan Sistem SNMPTN" itu menyebutkan, banyak siswa yang sebenarnya layak mengikuti seleksi namun digagalkan. Padahal mereka menilai mempunyai nilai tertinggi dan layak ikut SNMPTN 2016.(rks)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==