18 Tahun KAMMI Dalam Ruang Budaya

Mahasiswa News | Suatu hari, negeri ini hamil tua dan menjerit. Orang-orang berkumpul dan lahirlah era ini. Suatu era, ketika demonstrasi adalah budaya pop, dan orang-orang yang menjadi tapol adalah urban legend, dan dengan sendirinya "tapol" itu sendiri menjadi gelar, suatu sebutan kehormatan dalam kisah-kisah kepahlawanan.

Bersamaan dengan hilangnya penyair Wiji Thukul, komsat-komsat pertama KAMMI bermunculan. Tetapi, KAMMI muncul dengan sebuah tradisi lisan, sebagaimana tarbiyah itu sendiri dikenalkan dengan tradisi lisan dari Murobbi kepadan Mutarobbi, dan lebih sederhana: senior kepada junior.

Pada waktu itu kita belum mengenal sistem Marhalah. Channel tivi pun masih sedikit, dan bensin masih seharga 2000 per liter. Tradisi lisan kala itu masih mampu menjawab tantangan zaman. Akhirnya, KAMMI bertahan dan munculah sistem Dauroh, sistem Instruktur, hingga berbagai musyawarah dengan berbagai tafsir paradigma hingga berbagai kutub pemikiran. 



Di manakah KAMMI, dalam prahara budaya masa milenium ini? 
Atau adakah "Budaya" tidak tercakup dalam makna "Aksi" atau lebih khusus, "Aksi Mahasiswa Islam?"

Agaknya, KAMMI lahir menyerupai PAPFIAS. Panitia Aksi Pengganyangan Film Imperialis Amerika Serikat, yang digawangi Sitor Situmorang pada 1964. Ia tidak melakukan kerja literasi. Panitia itu secara harfiyah aksi di depan bioskop dan tawuran.

Akan tetapi, filosofi gerakan KAMMI sendiri begitu debatable dan tidak menutup kemungkinan, budaya adalah satu segi yang dicobai oleh "aksi mahasiswa muslim" ini. Sederhananya, budaya tradisi lisan melalui ceramah, MK, dan seterusnya, mesti diubah menjadi suatu bentuk teks. Teks-teks inilah yang nantinya-kalau ada orang iseng-mungkin 140 tahun lagi cicit kita membuat disertasi tentang KAMMI. 

Tapi lagi-lagi, bagaimana KAMMI mengisi ruang kebudayaan,
jika ia belum lagi menulis?

Jilbab dan takbir yang kini menjadi budaya Pop, dibawa ke jalanan sedikitnya juga oleh KAMMI. Itu adalah sebuah langkah aktif. Wanita berhijab, yang dulu identik dengan alif ba ta tsa di surau-surau, diajak lantang tegak di depan istana. Itu adalah sebuah pergeseran budaya.

Ruang-ruang diskusi yang dulu begitu sempit hanya diisi yang nyunah-nyunah saja, dengan lapang dibuka KAMMI dengan beragam cara. Kira-kira, begitulah adanya KAMMI dalam ruang budaya.

Tetapi, dalam skup literasi, apalagi karya sastra, ada lubang besar menganga. Meskipun makalah dan esei menjadi salah satu portofolio dauroh marhalah, tetapi tradisi menulis sebagaimana Natsir dan Hamka, belum menjadi milik KAMMI.

Boleh jadi, 18 tahun pertama hidup kita, kita masih tak bisa baca tulis dan bangga dengan identitas yang ummy, lalu berhasil menggerakkan sekelompok orang Makkah. 

Boleh jadi, setelah 18 tahun inilah, Pojok Sastra, Lekmi, dan pengetatan tradisi literasi dauroh menjadi tanda hadirnya KAMMI dalam polemik kebudayaan. 

Mari kita bayangkan. Setelah hari kedelapan belas tahun ini, KAMMI betul-betul nyata melawan kapitalisme, imperialisme, dan fasisme ala penerbit dan sponsor. Setelah hari ini, muncul beratus-ratus buku dari beratus-ratus komisariat, dari beratus-ratus AB3, AB2, dan AB 1 di seluruh Indonesia.

Munculnya karya-karya itu, yang terutama tegak menantang "kebatilan" dalam pengertian "budaya islam", adalah wujud nyata "aksi mahasiswa islam" di bidang budaya. Wujud, ikut sertanya KAMMI secara aktif-aksif dalam polemik kebudayaan era milenium. Yang tidak melulu melihat MEA, kenaikan harga bensin, penurunan harga Rupiah, maupun anjloknya harga mahasiswa-mahasiswi sebatas fenomena politik, tetapi "peristiwa budaya dan sastra".

Selamat ulang tahun, KAMMI-ku. Tahun-tahun kedepan, kita akan menemui anak seorang Kader KAMMI ikut DM 1. Artinya, generasi kedua, dan sambutlah mereka dengan warna literasi, warna budaya Islam, dan warna KAMMI yang sederhana.

Oleh : 
Amar Ar-Risalah
(Kritikus Sastra)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==