Menilik Makna Perayaan Valentine

Oleh :
Ahmad Zaki Muntafi*

Cinta dan kasih sayang memang tidak terbatas. Namun, dalam implementasinya, cinta dan kasih sayang terbatas oleh segala norma dan etika.

Pendahuluan

Bulan Februari sering disimbolkan sebagai bulan kasih sayang. Hal itu dikarenakan didalamnya terdapat hari yang spesial, yang biasa disebut dengan hari valentine atau hari kasih sayang. Hari valentine sering dirayakan oleh pasangan muda-mudi yang sedang dalam asmara. Namun, tidak jarang perayaan valentine telah keluar dari norma dan etika, baik norma dan etika dalam masyarakat maupun agama, sehingga perayaan valentine banyak menimbulkan kemudharatannya.

Berdasarkan issue-issue sekarang, yakni issue tentang perayaan valentine, penulis mencoba mencari solusi atas segala problematika perayaan valentine. Dalam hal ini, tulisan ini akan mencoba menguraikan sedikit mengenai valentine. Mungkin setidaknya tulisan ini mampu memberikan gagasan dan wawasan baru bagi pembaca. 

Sejarah Valentine : Merendahkan Kaum Wanita, Bukan Memuliakan Kaum Wanita

Banyak sumber yang berbicara tentang sejarah perayaan valentine, ada yang hampir sama, bahkan ada pula yang saling berbeda. Namun, disini penulis bisa mengatakan bahwa sejarah valentine telah ada sejak zaman Romawi tepatnya sudah dimulai pada abad ke-4 SM. Pada zaman Romawi, perayaan valentine bertujuan untuk menghormati Lupercus atau Lupercalia sebagai Dewa Kesuburan yang dilambangkan dengan patung setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing, dimana didalamnya terdapat undian untuk mendapatkan seorang wanita sebagai pasangannya. Selain itu, terdapat pria setengah telanjang yang berlarian untuk mencambuk para wanita dengan tali yang terbuat dari kulit kambing. Menurut Noel Lenski, sejarawan dari University of Colorado, upacara tersebut diyakini dapat membuat wanita lebih subur.

Bangsa Romawi merupakan bangsa yang telah memiliki peradaban, jauh sebelum peradaban sekarang. Namun, saat itu, kaum wanita dianggap sebagai sesuatu yang tidak berarti dan tidak bernilai, sehingga dapat diperlakukan sekehendaknya, bahkan dapat diperjual-belikan. Kaum wanita hanya digunakan sebagai pelampiasan hasrat para pria. Raja-raja bangsa Romawi juga tidak kalah hebat dalam memperlakukan wanita sekehendaknya, mereka memperistri wanita dalam jumlah banyak, bahkan bisa sampai seratus atau lebih. Memang saat itu memiliki istri banyak adalah sebuah kehormatan, karena kaum wanita juga bukan merupakan sesuatu yang berarti dan bernilai.  

Patung-patung bangsa Romawi sebagai simbol Dewa-Dewi juga sering dilambangkan dengan patung wanita yang telanjang. Perlambangan itu sebagai bukti bahwa tubuh wanita dapat dijadikan pajangan untuk dapat dilihat oleh siapa saja. Melihat hal itu, dapat dikatakan bahwa para wanita bangsa Romawi tidak memiliki kehormatan, hak-hak mereka ditindas dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Oleh sebab itu, berdampak pula pada perayaan valentine pada zaman Romawi, dimana perayaan valentine merupakan perendahan martabat kaum wanita, bukan pemuliaan martabat kaum wanita.


pict : indopos.co.id


Solusi Islam : Memuliakan Kaum Wanita

Islam adalah agama Rahmatan lil ‘Alamin, yakni rahmat bagi semua alam. Islam hadir sebagai solusi dan jalan keluar atas permasalahan kehidupan yang ada, termasuk memuliakan kaum wanita. Sebelum Islam datang, bangsa Quraisy dikenal sebagai bangsa yang tidak menghargai kaum wanita, yakni memperlakukan wanita sekehendaknya, sebagaimana dilakukan oleh bangsa Romawi. Kaum wanita bagi bangsa Quraisy adalah aib dan kelemahan. Hal itu dikarena wanita tidak memiliki kekuatan untuk berperang, sehingga mereka dianggap lemah. Saat itu memang sering terjadi peperangan antar suku maupun kabilah. 

Awal lahirnya Islam, Rasul Saw. telah berupaya untuk memuliakan kaum wanita, yakni dengan tidak membunuh bayi perempuan yang baru lahir. Pada periode selanjutnya, Islam juga telah membatasi jumlah poligami, dengan segala sebab dan akibat, sehingga diharapkan kaum wanita tidak dirugikan. Ajaran Islam dalam memuliakan kaum wanita dapat dilihat pula pada ikatan pernikahan, dimana antara suami dan istri memiliki hak dan kewajiban sama, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Baqarah [2] : 228. Allah Swt. tidak membedakan status antara pria dan wanita, tetapi yang membedakan dihadapan-Nya adalah keimanan yang ada dalam hati, serta amal saleh.

Islam telah berhasil mengubah tradisi bangsa Quraisy yang memperlakukan wanita sekehendaknya. Dalam konteks kekinian, Islam juga telah berhasil mengubah cara pandang kaum yang menganggap wanita sebelah mata. Hal itu dapat dilihat pada gerakan dan gagasan para wanita dalam melakukan emansipasi, sehingga kaum wanita memiliki derajat yang sama, serta memiliki kehormatan yang senantiasa terjaga. Selain itu, dalam lingkup sosial, kaum wanita telah mampu ikut dalam berkontribusi pada segala aspek kehidupan.

Penutup

Dengan melihat pembahasan di atas, serta melihat segala realita perayaan valentine, sepatutnya kita dapat memahami hakikat dari valentine. Sebagai umat Islam, kita tahu bahwa terdapat bulan hijjriyah, salah satunya Syawal dan Dzulhijjah. Dalam masyarakat, bulan tersebut biasanya sering dilakukan prosesi pernikahan, sehingga ini juga dapat dijadikan sebagai hari kasih sayang, yakni hari kasih sayang umat Islam yang merayakan pernikahannya. 

Mengenai valentine, sebenarnya penulis tidak melarang maupun menyuruh, tetapi sebaiknya perlu dicegah. Penulis bukanlah orang yang berilmu, tetapi orang yang sedang mencari ilmu, sehingga penulis tidak berhak dan tidak memiliki kemampuan untuk memberikan hukum tentang perayaan valentine, semuanya tergantung bagaimana akal kita menalar tentang valentine, karena kita telah mengetahui bahwa yang baik perlu dilaksanakan dan yang tidak baik perlu ditinggalkan. Kita juga telah tahu bahwa wanita perlu mendapatkan pemuliaan, karena sosoknya yang begitu luar biasa bagi kehidupan ini. Selain itu, wanita adalah ciptaan Allah Swt. yang sangat indah, sehingga bagi kita sebagai laki-laki sudah seharusnya menjaganya dengan baik. 

*(Ahmad Zaki Muntafi, kelahiran Pemalang, 28 November 1996, merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, serta Penulis dan Pengamat Muda IMPP-Jakarta)

loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==