Boroknya Sistem Pendidikan Di Indonesia

Mahasiswa News | Mahasiswa angkatan 2015 – 2016 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, diresahkan dengan datangnya kembali kebijakan Permendikbud nomor 49 tahun 2014 pasal 17, tentang Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan NKK/BKK adalah sebuah kebijakan yang dikeluarkan pada masa rezim Soeharto, yaitu di tahun 1977-1978 untuk memecah ke-masiffan gerakan yang dilakukan mahasiswa pada saat itu, di mana pada masa itu kebijakan diatur orang yang bukan mahasiswa coba dibiarkan bermahasiswa.

Soeharto pernah berkata “jika mahasiswa bergeliat maka akan ada goyah di negara” maka Soeharto, mengantisipasi akan pergerakan mahasiswa, di buatlah kebijakan NKK tersebut, melalui mentri P dan K yang bernama Doed Joesoef. Dan selang waktu satu tahun munculah kebijakan BKK Badan Koordinasi Kemahasiswaan.

Terbenak dalam pemikiran Soeharto, bahwa mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan sistem sosial politik. Pemikiran ini berlandaskan pada pemahaman bahwa mahasiswa merupakan komunitas yang lebih maju dari pada komunitas masyarakat lainya, yang didalamnya terdapat orang yang mengenyam pendidikan tinggi (intelektual muda).

Inti dari dua kebijakan ini adalah untuk mengebiri kegiatan aktifitas politik mahasiswa, di mana mereka hanya cukup memahami politik dalam artian teori bukan praktek.




Hilangnya Sifat Kritis Mahasiswa

Pemerintah Orde Baru melakukan intervensi dalam kehidupan kampus, dengan di adakanya kebijakan NKK/BKK, politik dan sifat kritis mahasiswa sedikit demi sedikit sirna akan adanya kebijakan tersebut. Kebijakan ini benar-benar menjauhkan mahasiswa dari realita sosial yang ada.

Sejalan dengan itu, sistem pendidikan sks (satuan kredit semester) diberlakukan, yang membuat mahasiswa dituntut segera selesai kuliah tidak seperti sistem lama ala sistem pendidikan Belanda jaman dulu yang mahasiswanya bisa lama selesai sarjana (doktorandus) hingga belasan tahun.

Karna adanya kebijakan itulah, mahasiswa yang di juluki sebagai agent of change (menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik), kini hampir terkikis perlahan-lahan, karna mahasiswa terbelenggu akan adanya NKK/BKK tersebut.

Kini kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kembali ke masa lalu, dimana mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan masa perkuliahan maksimal 5 tahun, sedangkan jumlah keseluruhan SKS atau Sistem Kredit Semester berjumlah 141, dimana mahasiswa per-semester dituntut menelan 21 SKS.

Seharusnya permendikbud mempertimbangkan kembali akan kebijakan NKK/BKK tersebut, karna jika permendikbud menoleh akan sejarah NKK/BKK pada masa Order Baru, dibawah kekuasaan presiden soeharto, betapa ricuh dan maraknya kemarahan mahasiswa akan kebijakan tersebut.

Oleh : 
Eka Agus Setiawan 
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah 
Pengamat Kajian Koalisi Mahasiswa UIN (KMU)
loading...
close
==[ Klik disini 1X ] [ Close ]==